Tiga dari lima jurnalis yang diminta untuk memilih, “Wawancara langsung atau via email?”, dengan tegas menunjuk wawancara lewat email. Alasannya, ada yang bilang lebih praktis dan efisien dari segi waktu; “Kalau harus ketemuan, lamaan di jalan ketimbang wawancaranya,” begitu ujar salah satu jurnalis yang enggan disebutkan identitasnya.

Pendapat senada lainnya menganggap kehadiran langsung pada saat wawancara kini sudah tidak terlalu penting. “Nggak ada bedanya kok ketemu langsung atau lewat telepon, toh jawabannya juga sama aja,” katanya.

wawancara kompas dengan jokowi

Presiden RI Joko Widodo saat sesi wawancara dengan harian Kompas di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat, 16 Oktober 2015. (Sumber foto: Kompas/Wisnu Widiantoro)

Berbeda dengan reporter Investor Daily Damiana Ningsih; meski mengaku juga melakukan wawancara di telepon atau melalui layanan bertukar pesan singkat, tapi ia hanya melakukannya jika membutuhkan pernyataan di penghujung tenggat waktu penerbitan (deadline).

“Biasanya untuk mendapatkan pernyataan pendukung inti berita, juga verifikasi kutipan atau data saat sudah terdesak deadline,” kata Ningsih yang sudah 8 tahun jadi wartawan.

Jika tidak kepepet deadline ia masih terus mengusahakan wawancara langsung. “Karena kehadiran itu penting, terutama kalau saya membutuhkan data primer dari berita yang sedang digarap, itu ya harus ketemu!” imbuhnya.

Pendapat Ningsih tentang pentingnya kehadiran dalam kegiatan wawancara jurnalistik itu pun diamini oleh jurnalis Jawa Pos Lusia Febriana Arumingtyas; menurutnya, kehadiran langsung mempermudah uji data yang masih samar, dan hasilnya pun lebih akurat dan memuaskan.

wawancara beritagar dengan din minimi

Mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Din Minimi berpose usai ditemui Beritagar.id untuk sesi wawancara di Desa Ladang Baro, Julok, Aceh Timur, Senin, 4 Januari 2016. (Sumber foto: Beritagar.id/Bismo Agung)

Tentang hal ini, wartawan senior Kompas Bre Redana yang sudah lebih dari 30 tahun menggeluti dunia jurnalistik mengatakan kalau kehadiran wartawan dalam kegiatan wawancara itu adalah harga mati yang tidak bisa digantikan perantara apapun.

Ia bahkan menyebut kalau perubahan perilaku wartawan di era digital, yang meski serba mudah tapi memiliki konsekuensi untuk menggampangkan komunikasi tanpa harus bertemu langsung dengan narasumber atau bahkan menulis artikel tanpa hadir di hadapan narasumber adalah gejala berbahaya.

“Kalau terus berlanjut seperti ini, wah pembahasannya panjang. Bisa-bisa jadi kuliah spiritual,” ujarnya berseloroh sembari setengah cekikikan.

Disebutkan, hasil atau kualitas wawancara langsung pasti berbeda dengan hasil pertemuan virtual. Manusia memiliki sifat yang tidak bisa dihilangkan, yaitu sebagai makhluk sosial yang butuh berinteraksi langsung dengan manusia lainnya.

Interaksi dunia digital hanya mengandung unsur delusi. Penulis atau reporter hanya bisa membayangkan informasi itu dari apa yang ia dengar atau lihat, bukan dari proses diskusi dan penggalian informasi yang fokus dan mendalam dengan narasumber terkait.

Dalam dunia jurnalisme, informasi atau laporan hasil interaksi dengan unsur delusi bisa berdampak fatal. Karena dalam praktik jurnalisme, tak kalah penting juga unsur interaksi langsung, konflik psikologis, bahkan kondisi dan situasi sekitar selama proses wawancara.

Sementara wawancara dengan perantara virtual mungkin memang lebih mudah dan instan, hemat waktu juga tenaga; tapi, selain pernyataan dalam bentuk teks (yang bisa jadi juga tidak orisinal) tak ada informasi lain yang bisa didapatkan.

“Ada nilai-nilai yang tidak bisa diubah dalam jurnalisme, yang tidak bisa dilakukan melalui perantara, dan itu mutlak!” kata Bre menandaskan.


Sumber foto utama: cullencommunications.ie

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry