Kini, banyak orang lebih suka bicara di media sosial, yang memang merupakan new kind of freedom; tempat semua orang boleh dan bisa menulis atau berbicara tentang apa saja, mau fakta ataupun hoax, siapa yang tahu; karena yang biasanya lebih dinilai adalah bentuk atau cara menyampaikannya, bukan esensinya.

Padahal ada tempat yang lebih asyik untuk memuntahkan kesumpekan dan ke-random-an kehidupan, yaitu: warung kopi.

warung kopi

Potret salah satu warung kopi pinggiran di Jalan Gajah Mada, Denpasar, dari blog mirnarizka.wordpress.com.

Apakah warung kopi benar efektif dalam menyelesaikan persoalan personal, kelompok, maupun bisnis? Sebetulnya, warung kopi alias warkop lah media paling santai untuk mempertemukan kepentingan, hingga bisa terwujud kesepakatan bersama dalam berbagai kebijakan, sampai penyelesaian masalah yang terjadi di sekitar kita.

Konflik Aceh misalnya, mereda karena ada kesedaran melakukan pendekatan dengan masyarakat Aceh untuk berdialog bersama di warung kopi.

Atau keberhasilan Joko Widodo ketika masih menjawab sebagai walikota Surakarta, yang memindahkan para pedagang barang bekas yang sudah bertahun-tahun bergeming kalau mau dipindahkan. Pendekatan komunikasi yang dilakukan Jokowi selama tujuh bulan kala itu mengoptimalkan perbincangan di warkop khas Solo, yang biasa disebut wedangan.

Lebih jauh lagi, akulturasi kebudayaan Melayu dan Cina pun berawal dari warung kopi yang tersebar di Bangka Belitung; tempat mereka dari dua kebudayaan berbeda bisa berjam-jam ngopi sambil main catur.

Tradisi ngopi merupakan tradisi yang baik dan turun temurun; bukan sekadar gaya hidup yang kini pun mewabah. Kopi adalah media komunikasi.

Belum tentu orang ngajak ngopi untuk ngopi. Bisa saja dia justru minum teh, cokelat, atau minuman lain. Ngopi di sini maksudnya nongkrong, ngobrol, dan berkomunikasi secara manusiawi.

Ada gelak tawa, curhat, dan pergaulan yang nyata.

warung kopi remaja

Di manapun itu, warung kopi adalah simple wisdom yang bisa menyatukan kita. Konsep sederhana yang harus kita jaga dan terus angkat. Dari warung kopi pula tercipta gagasan sampai movement yang cemerlang, bergaya dan mengandung semangat muda, serta soulful.

Misalkan ide mengembalikan sebuah kota kecil atau desa yang hanya dihuni masyarakat berusia senja, menjadi komunitas muda dan kreatif. Lalu lewat obrolan di warung kopi pula berpotensi terbentuk konsep dasar untuk menguatkan karakter, dan mengembangkan kota atau desa itu menghadapi perkembangan kemajuan.

Warung kopi dalam kepariwisataan tidak hanya berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi regional dan nasional, tapi juga memberikan nilai yang baik bagi lingkungan dan kebudayaan masyarakat setempat.

Hal lain yang perlu dibicarakan selama ngopi adalah belum banyaknya kebijakan yang membantu pertumbuhan kesenian yang berbasis masyarakat. Di negara kita, yang sebagian besar masyarakatnya masih konsentrasi pada urusan perut, mengembangkan kesenian kadang jadi jauh di awang-awang. Hingga kita memerlukan domain tempat seniman dan masyarakat berjumpa dalam satu ruang dan waktu. Ya, paling di warung kopi.

Warung kopi bisa jadi museum, galeri, tempat berdagang kerajinan, dan hasil kreativitas masyarakat lainnya. Warung kopi bisa jadi taman budaya, tempat yang selama ini agak sulit berkembang, padahal penting untuk kita revitalisasi dan bikin jadi menyenangkan agar kebudayaan lokal bergerak maju.

Andai saja ruang seni publik dalam bentuk warung kopi. Kenapa tidak? Tempat komersial yang dapat membantu perekonomian daerah, edukasi yang positif dan kontekstual, tempat berkegiatan seni, wadah aktivitas pemerintah daerah, pusat komunikasi dan sosialisasi.

Gagasan lain yang sangat cocok dibicarakan di warung kopi adalah membentuk desa kecil untuk jadi tempat kita bekerja, bercocok tanam, berkarya, dan memberi inspirasi dan semangat kreatif untuk mewujudkan mimpi kita masing-masing.

Bicara soal ide besar industri kreatif, ada baiknya kita ciptakan dulu motivasi dan solusi kreatif untuk menuju masa depan, dan itu berawal dari desa; yang mestinya tidak ditinggalkan penduduknya untuk mencari kehidupan di kota. Bekerja dalam lingkup sejangkauan tangan kita dulu, mengajak teman terdekat untuk bergabung sebagai warga yang memiliki tujuan sosial dan kreatif.

Membantu warga memberdayakan diri, menggali, dan mengajarkan keahlian, membudayakan jiwa kreatif, mengolah sumber daya alam dengan bijaksana, dan menghasilkan produk-produk kreatif dengan desa sebagai brand-nya.

Memberikan keuntungan finansial dan pemberdayaan untuk masyarakat lokal dengan menciptakan produk wisata yang mengedepankan nilai lokal. Menggunakan teknologi sederhana yang tersedia dan hemat energi, serta mengoptimalkan sumber daya lokal dan melibatkan masyarakat dalam pembuatannya. Inilah dasar dari menempatkan desa sebagai sebuah brand, yaitu menjadikan desa sebagai pusat aktivitas warganya, yang tak hanya mampu menghidupi diri sendiri tapi juga bernilai lebih luas untuk komunitas lainnya.

Ketika desa telah berdaya maka potensi kerja dan kreatif para warganya pun mendapatkan tempat terhormat. Petani adalah pekerjaan mulia, perajin adalah seniman; selayaknya kita memberikan brand yang layak diapresiasi dan dihargai setinggi-tingginya. Output kreatif dan materialnya mungkin sama, tapi pendekatan sosiologis dan estetiknya berbeda.

Dan kolaborasi sangat dibutuhkan oleh mereka dari kebaikan hati pada seniman atau desainer yang bisa menyalurkan kreativitasnya untuk mereka.

Mari kita ciptakan makna baru bagi Indonesia yang lebih baik, dengan menjadikan desa sebagai pusat ekonomi dan kreatif untuk perkembangan peradaban baru. Dan kita bisa mulai memperbincangkannya di warung kopi.

Ngomong-ngomong, apakah kalian sudah ngopi pagi ini?

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry