Uraian tentang tugas editor dalam penulisan

“Gue pingin jadi editor, caranya gimana sih?”

Pertanyaan itu pernah dilontarkan seorang penulis pada saya, dan mungkin juga terlintas di benak sebagian orang lainnya yang menggeluti dunia tulis-menulis.

Jawaban gampangnya: memahami dan menguasai tugas editor dalam proses penulisan.

Pertanyaan berikutnya adalah, “Apa aja sih tugas editor?”

Secara umum (diringkas dari beberapa buku), peran editor adalah:

Memoles dan mempertajam kualitas konten, serta memastikan alurnya mampu memikat pembaca; dengan waktu dan sumber daya yang tersedia.

Pengertian itu berlaku pada berbagai kebutuhan pengelolaan konten, mulai dari untuk media daring, buku, majalah, bahkan video atau film.

Seperti pada pekerjaan lainnya, untuk jadi editor profesional, kita perlu tahu dulu rincian tugasnya secara spesifik, supaya bisa menjalankan peran dengan baik.

Dan kali ini kita fokus membahas tugas editor di bidang penulisan.

Bicara soal tugas, biasanya tugas dilakukan untuk menyelesaikan persoalan. Dan persoalan yang mungkin dihadapi editor dalam proses penulisan biasanya adalah:

  1. Naskah dari penulis masih ada masalah sistematika penulisan; mulai dari logika pada penggunaan frasa, struktur kalimat, ejaan, sampai pilihan kata (diksi).
  2. Naskah dari penulis banyak yang perlu diperbaiki. Pengemasan temanya belum pas, jalan ceritanya kurang menarik, bahkan banyak hal penting yang perlu ditambahkan.
  3. Naskah dari penulis memerlukan perbaikan dalam bentuk komentar atau masukan, untuk kembali diperbaiki dan dilengkapi oleh penulis.

Daftar masalah itu bisa diselesaikan lewat pekerjaan:

  1. Editing: Membereskan sistematika penulisan.
  2. Revising: Memperbaiki dan mengembangkan tata tulisan.
  3. Reviewing: Mengomentari naskah untuk diperbaiki penulis.

Berikut uraian lebih detailnya:

Editing

Kerja penyuntingan fokus pada perbaikan masalah sistematika penulisan; mulai dari logika pada penggunaan frasa, struktur kalimat, ejaan, sampai pilihan kata (diksi).

Mengacu pada buku Penyuntingan Naskah (Pamusuk Erneste, 2009), tugas ini disebut penyuntingan teknis (mechanical editing).

Poros kerja penyuntingan adalah tidak mengubah bentuk dan tata tulisan yang dihasilkan penulis. Sejauh-jauhnya kerja editing, hanya sampai mengoreksi ejaan, merapikan tata bahasa dan kalimat, dan memangkas pengulangan kata yang tidak perlu.

Karena, pekerjaan yang sampai memerlukan campur tangan untuk memperbaiki dan mengembangkan bobot naskah sudah masuk pada peran lainnya, yaitu:

Revising

Sederhananya, urusan ini bisa disebut sebagai kerja revisi, atau perbaikan pada bobot dan materi isi tulisan.

Kalau kembali mengacu pada buku Penyuntingan Naskah (Pamusuk Erneste, 2009), tugas ini disebut penyuntingan substansi (substantial editing).

Pada hal ini, kerja editor sampai di tahap memperbaiki (bahkan mengembangkan) materi konten. Biasanya untuk disesuaikan dengan konsep atau kerangka materi yang ditentukan sebelumnya.

Penulis komedi Raditya Dika, pernah memuat contoh yang pas tentang hasil dari proses revisi ini:

“Gar, di buku Marmut Merah Jambu ada cerita tentang kamu ya!” seru gue.

“Sudah cukup, Bang! Aku udah gak mau lagi ditulis di buku Abang,” kata Edgar.

“Tapi Gar, kalo abang kasih sepuluh ribu perak mau?” tanya gue.

“Mau, Bang! Mau!” kata Edgar.

Gue edit menjadi lebih visual dan tidak membosankan menjadi:

“Gar, di buku Marmut Merah Jambu ada cerita tentang kamu ya!” seru gue.

“Cukup, Bang!” Edgar menggelengkan kepalanya. “Aku udah gak mau lagi ditulis di buku Abang!”

Gue mengeluarkan dompet, “Tapi, Gar… Kalo abang kasih sepuluh ribu perak mau?”

“MAU BANG! MAU!”

Harga diri Edgar ternyata lebih murah daripada gue kira.

Pada contoh yang disampaikan Raditya Dika di atas, ia melakukan revisi naskah untuk menyesuaikan tulisannya dengan konsep yang mestinya lucu.

Kerja revisi relatif lebih sulit ketimbang kerja penyuntingan. Untuk melakukannya pun perlu berkomunikasi atau mendapatkan persetujuan dari penulis naskah.

Tapi idealnya, penulis sendiri lah yang melakukan revisi naskah berdasarkan masukan dari editor. Kerja editor memberikan koreksi substansi untuk diperbaiki penulis ini biasa disebut:

Reviewing

Juga bisa disebut sebagai kerja konsultasi adalah peran editor saat memberikan pertanyaan atau masukan pada penulis tentang kekuarangan atau hal-hal yang perlu diperbaiki (tentang isi atau bobot materi) pada naskah.

Contoh:

  • Kalimat itu ada di hasil studi siapa? Kapan dan di mana studi itu dilakukan? Ada tautan yang mengarahkan langsung pada hasil studinya? Tolong lengkapi lagi informasinya.
  • Siapa yang mengatakan hal itu? Kapan dan di mana ia mengatakannya? Pada siapa ia mengatakannya? Silakan ditambahkan lagi beberapa detail.
  • Pada bagian akhir masih kurang menonjolkan pesan produk yang mestinya disampaikan. Bisa coba ditambahkan, dan lengkapi juga dengan contoh manfaat si produk.

Proses revisi ini sebaiknya dilakukan dengan arahan yang jelas, agar penulis tidak mengalami kebingungan saat memperbaiki naskah sesuai masukan dari editor.

Ada pula editor yang melakukan review terkait urusan teknis, seperti memberikan catatan perbaikan ejaan, penggunaan tanda baca, dan sebagainya; agar penulis melakukan penyuntingan teknis sendiri.

Hal itu sah-sah saja, tergantung alur kerja produksi yang berlaku.

Tapi sebaiknya, kerja penyuntingan (editing) memang dilakukan editor, karena kompetensi editor terkait tata bahasa dan struktur teknis penulisan.

Seperti juga kerja revisi (revising) yang (meski juga bisa dilakukan editor) idealnya dilakukan penulis, karena mestinya lebih paham tentang gaya penulisan yang dipakai untuk penyampaian pesan.

Untuk itu editor bisa melakukan pengecekan substansi, sebagai bahan untuk memberikan masukan pada penulis lewat sesi konsultasi (reviewing).

Jadi, kalau kembali mesti menjawab pertanyaan di awal uraian ini, “Gue pingin jadi editor, caranya gimana sih?” Jawabannya adalah menguasai setidaknya tiga peran editor di atas: mechanical editing, substantial checking, dan reviewing.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

← Previous post

Next post →

2 Comments

  1. Makasih atas informasinya, sangat bermanfaat. Saya tertarik menjadi seorang editor 🙂

Comments are closed.