Bukan rahasia kalau latar belakang informasi adalah bahan baku penting dalam proses penulisan.

Tanpa bahan yang cukup untuk menulis, kita bisa terjebak pada ulasan yang itu-itu saja, bikin tulisan jadi banyak kembang yang nggak penting, klise; dan akhirnya, tulisan pun kurang enak dibaca.

Apa solusinya?

Dulu, waktu pernah jadi wartawan, redaktur feature di kantor pernah ngasih nasihat tiap sebelum pergi liputan atau wawancara narasumber:

“Catat semua hal, bahkan yang paling remeh sekalipun; keadaan dan suasana sekitar, lukisan di dinding, gerakan tangan, apapun. Karena semua itu akan membantumu saat nanti menulis.”

Selain itu, ia juga mengingatkan untuk menggunakan formula penulisan 5w1h sebagai dasar untuk melengkapi latar belakang informasi.

5w1h

Formula 5w1h (what, who, when, where, why, how) ini rumus penulisan berita yang ampuh banget buat kita melengkapi informasi dasar terkait materi yang kita tulis.

Caranya, lengkapi keterangan “apa”, “siapa”, “kapan”, “di mana”, “mengapa” dan “bagaimana”.

Contoh:
Hidangan itu disediakan Toni sejak pukul 10 pagi tadi di ruang makan kantor, karena ada rapat istimewa. Toni tidak ingin mengacaukan agenda penting tersebut, maka itu ia memesan hidangan pada warung nasi di sebelah kantor sejak pekan lalu, lalu memastikannya tiba setidaknya satu jam sebelum disajikan, agar ia bisa mempersiapkannya dengan bantuan staf dapur kantor.

Apa Hidangan yang tersedia
Siapa Toni
Kapan Pukul 10 pagi
Di mana Di ruang makan kantor
Mengapa Ada rapat istimewa
Bagaimana Memesan hidangan sejak pekan lalu,
memastikannya tiba satu jam sebelum disajikan,
mempersiapkannya dengan bantuan staf dapur kantor.

Show, Don’t Tell

Sebagai tambahan ada juga jurus ini, yang sudah biasa ada di berbagai tips penulisan populer. Gampangnya, mengganti kata sifat dengan keterangan yang lebih detail.

Selalu mengingat jurus ini bisa bikin kita sadar sekaligus terpancing untuk melengkapi informasi yang kurang lengkap. Tulisan pun bisa terasa lebih kaya.

Contoh 1:
Konser Slank itu heboh banget.

Menjadi:
Konser Slank di Parkir Timur Senayan, Jakarta itu dihadiri lebih dari 50 ribu penonton. Tiket seharga Rp50.000 yang ludes sebulan sebelum pertunjukkan menjelma jadi penonton remaja yang berdesakan, sampai 12 orang pingsan di tengah kerumunan yang jejingkrakan.

Contoh 2:
Ahmad adalah seorang petani miskin.

Menjadi:
Ahmad, lelaki yang pekerjaannya bertani itu tinggal bersama seorang istri dan anak di gubuk beratap rumbia. Tiap hari mereka hanya makan satu kali, itu pun hanya nasi dan kerupuk tanpa lauk.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry