Bicara untuk sekadar menyampaikan sesuatu mungkin tak terlalu sukar. Yang repot itu, bicara untuk memengaruhi orang lain sampai mengubah keyakinan, sikap, bahkan perilakunya.

Dalam dunia komunikasi, ada yang disebut komunikasi persuasif. Tujuannya ya itu tadi, untuk memengaruhi orang lain sesuai harapan si penyampai pesan.

Kegiatan komunikasi persuasif yang gampang dijadikan contoh adalah presentasi.

Presentasi atau menerangkan ide, strategi, program atau produk pada seseorang atau sekelompok orang; bukan hanya untuk bikin audien tahu, tapi juga suka, bahkan mendukung materi yang disampaikan.

Menurut profesor Bruce Berger dari College of Communication & Information Sciences, University of Alabama, Amerika Serikat, ada tiga poin yang perlu diketahui terkait penerimaan orang atau kelompok terhadap pesan:

  1. Kognitif: perilaku sampai tingkat tahu tentang hal yang disampaikan.
  2. Afektif: perilaku sampai tahap suka atau tidak suka dengan hal yang disampaikan.
  3. Konatif: perilaku sampai level bersedia melakukan sesuatu, atau merespon dalam bentuk aksi.

Untuk bisa memengaruhi sasaran sampai ke tingkat konatif, maka kita perlu melalui tahap kognitif, disusul afektif terlebih dahulu. Untuk memahaminya lebih dalam, mari kita coba lakukan perumpamaan.

komunikasi persuasif

Katakanlah kita mau bicara atau melakukan presentasi tentang ide layanan pariwisata lewat aplikasi ponsel, pada seseorang yang potensial mendukung kita lewat investasi untuk pengembangannya.

Pertama, tentu kita perlu menjelaskan dulu informasi dasarnya, agar sasaran mengetahui dulu tentang layanan atau produk itu (kognitif).

Agar sasaran komunikasi tertarik untuk mengetahui lebih lanjut, imbuhi informasi dasar dengan fakta yang mengandung daya tarik, seperti jumlah biro wisata yang sudah bersedia mendukung, pemandu wisata lokal yang terjaring, dan sebagainya; tergantung konsep layanan atau produknya.

Presentasi berpotensi lebih memikat minat audien jika kita tidak hanya menyampaikan konsep, tapi juga menerangkan pekerjaan yang sedang berjalan.

Contoh:

“Halo, perkenalkan saya Eddo, pendiri aplikasi pariwisata yang akan mempertemukan wisatawan dengan local experts dalam jaringan kami; yang kini sudah memiliki lebih dari 1000 local experts dengan berbagai keahlian di 10 kota yang populer sebagai destinasi wisata di Indonesia.”

Selanjutnya, tujuan kita adalah meningkatkan rasa tertarik itu, hingga sasaran merasakan layanan atau produk yang disampaikan adalah ide luar biasa (afektif).

Untuk bagian ini, kita bisa (misalnya) mendorong keterangan soal cara layanan atau produk menyelesaikan persoalan dari sudut pandang pengguna.

Contoh:

“Bagaimana layanan ini membantu penggunanya? Misal, ada seorang wisatawan yang ingin belajar tari Jawa saat ia sedang pelesir di Yogyakarta, tapi kesulitan mendapatkan informasi yang valid. Lewat layanan ini ia bisa menemukan local experts seni tari yang siap membantunya. Bayangkan, bagaimana wisatawan lain dengan berbagai kebutuhan unik yang membutuhkan local experts saat traveling, terbantu oleh layanan ini.”

Lewat dari tahap ini, kita bisa mulai menutupnya dengan informasi tentang peluang sasaran untuk memberi kontribusi (konatif).

Urai ide ke dalam langkah pengembangan dan perhitungan yang lebih pasti dan terukur; termasuk (misalnya) terkait soal bisnis.

Pada bagian ini, sampaikan perkiraan jumlah sasaran pengguna, cara untuk mencapai jumlah tersebut dan berapa lama waktu yang dibutuhkan, hingga mungkin seberapa besar potensi bisnisnya jika angka itu tercapai.

Untuk tambahan, lengkapi juga tahap ini dengan memaparkan informasi tentang tim yang akan mengembangkan dan mengelolanya. Karena informasi ini memberi gambaran tentang bagaimana ide yang disampaikan akan dijalankan, terkait kemampuan pengelolanya.

Contoh:

Jangan hanya bicara tentang, “Mimpi saya adalah…” atau “Kami memiliki keyakinan bahwa…

Sampaikan pesan yang menunjukkan hubungan ide dan kredibilitas penyampai atau pelakunya secara terang, seperti:

“Tim yang akan mengelola layanan ini, mulai dari saya sendiri, sudah berpengalaman lebih dari 8 tahun di industri pariwisata. Satu rekan saya juga sudah berkecimpung lebih dari 10 tahun di bidang tourism, dan rekan lainnya berpengalaman lebih dari 7 tahun terkait pengembangan komunitas lokal.”

Tuntaskan presentasi dengan menegaskan jenis bantuan, dukungan, atau kontribusi seperti apa yang diinginkan; agar sasaran tahu dengan jelas tentang harapan kita.

Demikian contoh komunikasi persuasif berdasarkan respon penerima pesan, terkait tahapan kognitif, afektif, dan konatif.

Untuk mencapai respon ideal tentu tidak semudah menjalankan langkah 1, 2, dan 3. Karena, kembali mengutip profesor bidang komunikasi Bruce Berger, ada beberapa faktor yang menentukan berhasil atau tidaknya komunikasi persuasif yang disampaikan, seperti:

  • Gaya, karakter, bahkan wawasan si pemberi pesan terkait gagasan yang disampaikan.
  • Apakah pesan yang diujarkan masuk akal? Apakah diutarakan dengan baik dan mudah dipahami atau tidak.
  • Suasana atau lingkungan saat melakukan presentasi.

Belum lagi faktor lain yang seringkali sulit diprediksi, seperti suasana hati si penerima pesan, materi kompetitor yang lebih menarik perhatiannya.

Meski begitu, kita bisa mulai dari memahami tahapan dan hal-hal penting seputar komunikasi persuasif atau yang tujuannya meyakinkan pendapat sasaran sesuai keinginan kita.

Keahlian ini bisa membantu kita dalam banyak hal, seperti presentasi ide iklan pada klien, usulan topik reportase saat rapat redaksi, atau bahkan mengajukan program atau produk pada calon investor.


Sumber foto: entrepreneurshipsecret.com

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry