Pete Codella adalah praktisi kehumasan generasi media lama, tapi kini juga berhasil mengemas citra dirinya menjadi pelaku dunia humas yang fokus pada media baru atau daring (online).

Menggeluti bidang humas sejak era 1990-an sampai kini ramai media sosial membuatnya kaya pandangan dan pengalaman tentang praktik kehumasan.

Karena itu pula ia sering mendapat kesempatan berbagi dengan pelajar bidang komunikasi di beberapa universitas di Amerika Serikat.

Salah satu pertanyaan yang sering ia dengar adalah tentang syarat yang dibutuhkan untuk menjadi praktisi humas yang baik.

Maka ia pun mengurai hal-hal yang dibutuhkan untuk jadi pelaku humas andal itu ke dalam situsnya (yang menurutnya juga tidak berubah dari sejak era media tradisional hingga kini masa media daring). Berikut daftarnya:

1. Bisa menulis

Seorang pelaku humas mesti memiliki keterampilan menulis yang baik.

Menurutnya kini, komunikasi organisasi atau perusahaan yang dilakukan seorang praktisi humas tak lagi cukup hanya bergantung pada perhatian wartawan dan coverage media.

Layanan media sosial seperti blog, Facebook, atau Twitter kini bisa dimanfaatkan seorang humas untuk menyajikan informasi dan membangun komunikasi dengan publik.

2. Kreatif

Mungkin terdengar agak basi atau klise, karena apapun yang kita kerjakan memang mesti kreatif.

Tapi maksudnya di sini adalah, dibutuhkan upaya ekstra untuk menggali dan mengembangkan ide dalam pengemasan dan penyampaian pesan; terutama kini, saat arus pesan mengalir deras lewat berbagai channel.

Semua seperti berteriak dan berebutan meminta perhatian kita sebagai konsumen informasi. Ya, dalam situasi semacam ini memang perlu menekankan pentingnya kreativitas.

3. Menguasi publishing tools

Menyambung soal sedang derasnya arus pesan dan informasi di berbagai kanal media, khususnya online, seorang praktisi humas perlu mengenal dan menguasai berbagai layanan atau aplikasi pendukung kegiatan media.

Misal sebut saja mesin pencari Google, layanan analitik Google Analytics, penyedia layanan media sosial seperti WordPress, Facebook, Twitter, YouTube, sampai Instagram.

Bahkan layanan yang mungkin tak banyak diketahui publik, tapi cukup berguna untuk kegiatan public relations, seperti Buffer untuk pengelolaan media sosial, Storify untuk mengompilasi ragam konten, atau Topsy yang suka dipakai untuk memantau tren di Twitter.

4. Profesional

Intinya menaati kode etik kehumasan yang berlaku. Misal, di Indonesia ada kode etik profesi Perhumas (Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia).

5. Memiliki daya tarik personal

Menurut Pete, seorang praktisi humas wajib memiliki persona yang menawan dan mudah diterima banyak orang.

Tak harus cantik atau ganteng, tapi lebih pada personalitas yang menenangkan dan menyenangkan.

Orang yang secara alami ingin membantu terbangunnya komunikasi yang baik. Pete menyebutnya: penyatu di tengah kehidupan yang penuh konfrontasi.

Ia bahkan mengutip potongan lirik lagu The Girl Is Mine yang dinyanyikan Michael Jackson dan Paul MacCartney, untuk mewakili citra seorang humas profesional:

A lover, not a fighter.


Kesimpulan:

  • Menurut pengalaman praktisi humas Pete Codella: Pertanyaan paling sering muncul terkait bidang kehumasan adalah tentang syarat menjadi pelaku public relations yang baik.
  • Pete pun mengurainya ke dalam 5 (lima) syarat: Seorang humas harus bisa menulis, kreatif, menguasai berbagai layanan publishing, profesional, dan memiliki daya tarik personal.

Sumber foto: spectrum-publicrelations.com

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry