Dalam laporan yang dirilis lewat NiemanLab, perwakilan dari media ternama seperti The New York Times, Newsweek, Vox Media, dan Mashable berbagi tentang model iklan yang kini berpengaruh terhadap perkembangan bisnis mereka.

Urusan iklan ini memang masih jadi tantangan kebanyakan pengelola media digital. Meski nilai belanja iklan digital terus menanjak, tapi kebanyakan masih dikuasai layanan internet seperti Google atau Facebook; sementara media daring berebut jatah sisa potongan kue iklan media digital yang tak mengalir ke kantong dua raksasa internet tadi.

Belum lagi rintangan ad-blocking pada perangkat mobile yang bikin banyak pengelola media makin pusing jika bicara soal pengembangan bisnis.

Jadi, apa sih tipe atau format iklan yang kini paling potensial menyuntikkan optimisme pada bisnis media daring (online)? Mari simak pilihan yang diambil media besar seperti The New York Times, Newsweek, Vox Media, dan Mashable terkait persoalan ini.

Paid atau Sponsored Content

“Program native advertising dan paid content kami mengalami pertumbuhan yang signifikan,” ujar Senior VP of Advertising Products and Research & Development, The New York Times, Michael Zimbalist.

Contoh paid content yang tampilannya didesain khusus oleh tim The New York Times misalnya: Cocoavia, Delta, atau Philips.

sponsored content philips di new york times

Model yang sama pun diterapkan Newsweek. “Saat ini kami sedang fokus pada model iklan yang ternyata berfungsi sangat baik, yaitu sponsored article dan sponsored video,” ujar Senior VP of Sales, IBT Media, Thomas Hammer. Ditambahkannya, banyak klien juga merasakan dampak dari efektivitas konten yang digarap oleh staf redaksi Newsweek itu.

Masih soal model iklan yang sama, Vox Media melakoninya lewat program yang mereka sebut premium native. “Model itu memiliki performa yang sangat baik, selain memang cantik secara desain dan penceritaan,” ujar VP of Revenue, Product and Operations Vox Media, Joe Alicata.

Berikut contoh proyek yang mereka kerjakan untuk Lenovo:

sponsored content lenovo oleh vox media

Contoh lainnya adalah Mashable, situs yang mengangkat topik seputar internet dan media sosial ini tak hanya mengoptimalkan konten berbayar lewat artikel, tapi juga melalui saluran media sosialnya; seperti pada program bersama brand Olympus dan Hilton.

“Kita hidup di tengah lingkungan yang penuh gangguan dan banjir pilihan. Karena itu jadi penting untuk berinteraksi dengan audiens pada saluran yang biasa mereka gunakan dan mengoptimalkannya,” kata Chief Revenue Officer Mashable, Seth Rogin.

Dalam praktik media lama, istilah paid atau sponsored content lazim dikenal sebagai advertorial; jadi paid content yang sedang banyak diuji kini pun rasanya sah saja kalau kita sebut sebagai “advertorial masa kini”.

Konon pembeda paid atau sponsored content di media digital saat ini dengan advertorial di operasional media lama terletak pada manfaat dan cara pemasaran yang ‘halus’. Istilah kerennya: soft-selling.

Padahal sebetulnya sama saja, dulu juga tak sedikit advertorial yang diceritakan dengan smooth dan berpijak pada kebutuhan informasi publik.

Perbedaan signifikan saat ini mungkin adalah paid atau sponsored content meningkat nilai pentingnya kalau bicara soal iklan dan pendapatan media; dibandingkan dulu saat ad/banner placement masih jadi yang utama.

Kenapa nilai pentingnya meningkat? Banyak faktor bisa jadi penyebabnya, misal seperti belanja iklan yang berbanding lurus dengan kuantitas dan kualitas konsumsi konten; dengan mentransformasi iklan jadi konten yang punya bobot sama dengan konten orisinal, konsumsi konten potensial meningkat.

Selain itu, pola distributed content juga membuat paid atau sponsored content bisa memainkan peranan penting dalam hal menjaring revenue; bahkan dari jejaring sosial seperti Facebook, yang bisa dimanfaatkan untuk menumpuk penghasilan dengan optimalisasi sponsored content.

Hal lain juga, sponsored content cenderung lebih mudah diukur dan dikembangkan performanya jika dikaitkan dengan konsumsi konten di perangkat mobile; mengingat mobile advertising masih jadi salah satu pekerjaan rumah yang ruwet untuk para pengelola media. Padahal, konsumsi konten lewat mobile device terus meningkat.

Jadi, apakah advertorial atau sponsored content merupakan pilihan paling tepat untuk jadi fokus iklan media digital saat ini?


Sumber foto: Contently

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry