Seorang pemikir asal Perancis, Jean Baudrillard, pernah mengatakan bahwa telah terjadi pergeseran pola konsumsi dalam masyarakat.

Lebih lanjut, Baudrillard mengatakan bahwa masyarakat lebih memilih sesuatu hal yang esensinya tidak jelas untuk dikonsumsi. Menurut Baudrillard, hal ini terjadi karena adanya dorongan tren yang bikin masyarakat mengonsumsi sesuatu bukan berdasarkan kebutuhannya.

Kondisi demikian pun mudah ditemukan terjadi di tengah masyarakat Indonesia terkait konsumsi informasi. Terutama belakangan ini, saat media sosial makin jadi bagian dari keseharian kita.

Tingginya minat dan intensitas masyarakat menggunakan media sosial sebagai tempat mengaktualisasikan diri bikin medium itu jadi penampung tumpahnya informasi dari berbagai kalangan.

Sayangnya, aliran informasi di media sosial seringkali juga ditelan mentah-mentah tanpa pemilahan yang cermat. Hingga pada akhirnya, informasi yang mestinya penting justru jadi kurang ramai diperbincangkan, karena masyarakat jadi lebih menganggap informasi ‘recehan’ sebagai yang utama.

Hal ini diamini anggota Dewan Pers, Nezar Patria. Menurut Nezar, arus informasi yang ada di era ini memang jauh berbeda dengan satu dua dekade lalu. Menurutnya, perbedaan itu berdampak pada perilaku kita dalam menyikapi informasi.

“Abad yang kita jalani saat ini memang abad yang penuh ujian dalam hal menyikapi informasi yang beredar di sekitar kita,” ujar Nezar dalam diskusi bertema Riuh Jurnalis Dalam Media Sosial, Selasa (23/3/2016) di kantor Dewan Pers, Jakarta.

diskusi di dewan pers tentang media sosial

Menurutnya lagi, salah satu perilaku yang menonjol adalah kebiasaan menelan mentah-mentah informasi yang terdapat di media sosial. Sayangnya kebiasaan itu tak hanya muncul di masyarakat umumnya, tapi juga cenderung terjadi pada jurnalis.

Dewan Pers, seperti diungkapkan Nezar, kerap menerima pengaduan masyarakat tentang informasi yang tidak akurat pada pemberitaan di media massa.

Ia memberi contoh kasus Ahmad Dhani pada masa Pemilu 2014 lalu. Kala itu, Ahmad Dhani santer diberitakan terkait tweet-nya yang menyatakan akan memotong kemaluannya jika Joko Widodo terpilih jadi Presiden RI.

Namun, setelah dicek lagi, ternyata tweet yang diberitakan itu tidak berasal dari Ahmad Dhani, melainkan tindakan oknum iseng yang meng-capture cuitan Ahmad Dhani dan mengubah isinya menjadi seperti yang ramai diberitakan.

Analisis tweet Ahmad Dhani yang dipastikan hasil rekayasa pengguna iseng penyebar informasi palsu.

“Dari 16 media massa yang memberitakannya waktu itu, 8 di antaranya sudah mengaku salah dan meminta maaf secara langsung ketika kami pertemukan dengan Ahmad Dhani,” ujar Nezar.

Pada kasus itu, Nezar menyimpulkan kalau para jurnalis menggarap berita hanya berdasarkan foto yang tersebar di media sosial saja. Mereka tidak melakukan verifikasi atau kroscek untuk memastikan kebenaran isi foto tersebut.

“Padahal mestinya, walau teknologi makin maju, jurnalis tidak boleh menghilangkan sisi critical thinking saat menerima informasi,” tandasnya.

Kasus Ahmad Dhani itu disinggung Nezar sebagai salah satu contoh dari sekian banyak kasus yang menunjukkan kelalaian wartawan saat menjalani proses jurnalistik.

Jurnalis bisa menggunakan informasi yang beredar di media sosial sebagai bahan awal, tapi jangan dijadikan materi final,” katanya menegaskan.

Pandangan Nezar itupun diamini Pemimpin Redaksi Kompas.com, Wisnu Nugroho. Menurut Wisnu, perkembangan zaman memang menuntuh para pewarta menyesuaikan diri, termasuk saat menyikapi media sosial sebagai sumber berita.

“Betul, sebagai bahan iya tentu bisa, tapi jangan sampai jadi sumber utama informasi. Kalau memang sudah melewati proses verifikasi, informasi yang ramai dibahas di media sosial baru bisa dijadikan berita,” ujar Wisnu.

Ditambahkan Wisnu kalau banyak praktik jurnalisme kini seringkali kehilangan sisi skeptisismenya. Padahal, skeptis merupakan salah satu sikap dasar seorang wartawan saat menjalankan profesinya; termasuk di era arus informasi melimpah dan cepat seperti saat ini.

“Skeptis bisa bikin kita makin serius memastikan akurasi dan kualitas berita. Ini penting,” kata Wisnu.

Diungkapkan juga oleh pengamat media massa, Ignatius Haryanto, informasi di dunia maya merupakan tantangan baru untuk industri jurnalisme.

“Pilah dan sajikan informasi secara akurat dengan mengutamakan kepentingan masyarakat. Karena jika tidak, banyak orang jadi bingung tentang mana informasi yang benar? Dan akhirnya jadi banyak yang meremehkan hal yang sebenarnya penting. Kalau begini sama saja jurnalis menjadi pihak yang membiarkan hal yang kabur dan mengaburkan hal yang pasti,” ujarnya menandaskan.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry