Seri Panduan Reporter Digital (4): Mengedit konten audio

Sebelumnya persis, pada Seri Panduan Reporter Digital, yang diadaptasi dari catatan profesor jurnalistik asal Amerika Serikat, Mindy McAdams, kita mengulas poin tentang penggunaan audio recorder.

Pada artikel itu ditekankan kalau wartawan atau pelajar studi jurnalistik sebaiknya membiasakan diri dengan penggunaan perangkat perekam suara.

Karena kini, selain untuk dokumentasi wawancara, hasil rekaman juga bisa jadi konten yang layak diterbitkan, dan didengarkan langsung oleh publik.

Untuk bisa menghasilkan rekaman audio yang baik, tentu kita perlu mempersiapkannya agar enak didengarkan. Salah satu cara adalah mengeditnya.

Unggah ke perangkat komputer dan ubah tipe fail

Dalam catatannya, Mindy McAdams menjelaskan langkah pertama untuk mengedit konten audio adalah dengan memindahkan fail dari audio recorder ke komputer atau laptop.

Ia juga merekomendasikan agar tipe fail dari audio recorder diubah ke dalam format WAV (kecuali jika sudah dalam format tersebut, biarkan saja). Menurutnya, format WAV merupakan kualitas terbaik untuk diterbitkan.

Muatan fail WAV memang besar, karena bukan hasil proses pengempaan (compressed) seperti MP3. Contohnya, ada fail WAV berdurasi 6 menit, ukuran failnya 65,3MB; jika dilakukan pengempaan jadi MP3, maka ukuran fail menjadi 4,4MB.

Jika fail hasil rekaman dalam format MP3, maka kita bisa mengubahnya jadi WAV dahulu dengan layanan converter yang kini mudah ditemukan di internet. Cukup googling saja untuk mendapatkannya.

mengedit audio

Kalau kita merekam audio dengan smartphone, kini juga sudah banyak tersedia aplikasi untuk mengedit audio langsung di layar ponsel; seperti WavePad, Hokusai Audio Editor, atau Voddio App untuk mobile reporting.

Meski memang, pada beberapa layanan, kita perlu membayar untuk bisa memindahkan fail hasil editing dari library aplikasi ke perangkat komputer. Jadi, atur proses produksi sesuai kebutuhan.

Mengembangkan wawasan dan skill penggunaan komputer

Diterangkan juga oleh Mindy, bahwa selain mengedit, penting juga untuk pewarta memiliki dan mengembangkan wawasan dan skill penggunaan komputer.

Karena menurutnya, pewarta seringkali abai atau malas melakoni proses memahami cara kerja fail digital, mengunduh aplikasi atau menginstal perangkat lunak, mengubah format fail, menata dan merapikan dokumen komputer, dan sebagainya.

Ia berujar, “Hal-hal semacam itu bisa jadi persoalan besar, karena menunjukkan kalau dia tidak memiliki dan ingin mengembangkan hal yang fundamental di dunia digital: wawasan dan skill penggunaan komputer.”

Dalam catatan panduannya, Mindy McAdams juga mengurai secara detail tentang mengedit audio, menggunakan aplikasi Audacity, karena gratis, open source (dikembangkan secara terbuka), dan bisa digunakan di komputer dengan sistem operasi Windows, Mac, atau Linux.

Ia juga memberikan tutorial tentang cara mengedit audio dengan Audacity di situs College of Journalism and Communications, University of Florida. Kita bisa cek tutorial itu di tautan ini:

http://www.jou.ufl.edu/faculty/mmcadams/tutorials/audacity_1

Kiat untuk mengedit audio

Mindy juga memaparkan tip yang bisa kita pegang saat melakukan audio editing:

  1. Gunakan earphone atau headphone. Jangan mengedit audio mengandalkan speaker komputer.
  2. Pangkas suara gumam, seperti “ummm” atau “hmmm”.
  3. Potong suara kita sendiri; fokus pada pernyataan narasumber.
  4. Atur atau tata kalimat narasumber untuk menyajikan cerita yang koheren (mengalir, terhubung dengan enak).
  5. Tapi ingat, jangan sampai mengubah maksud atau konteks pernyataan narasumber. Selalu jaga orisinalitas pandangan narasumber.
  6. Jangan terlalu banyak memotong jeda di antara pernyataan (dead air), karena akan membuat hasilnya terdengar tidak natural; atau jadi terdengar aneh.
  7. Jangan juga memotong langsung pada bagian akhir. Sisakan jeda sedikit hingga akhirnya rekaman habis.

 

Kesimpulan:

  • Untuk menghasilkan konten audio yang baik dan layak diterbitkan, kita perlu mengeditnya.
  • Kegiatan editing biasanya dilakukan di perangkat komputer atau laptop dengan bantuan perangkat lunak seperti Audacity; atau bisa juga lewat aplikasi di smartphone.
  • Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan saat melakukan editing; seperti menggunakan headphone, memangkas suara yang tidak perlu, sampai jangan terlalu banyak memotong jeda di antara pernyataan (dead air).

Sumber foto: magix.com

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

← Previous post

Next post →

2 Comments

  1. Please correct spelling of Voddio App in the paragraph below the picture. You spelled it Viddio. Thank you, Kirk

Comments are closed.