Melanjutkan adaptasi panduan skill yang dibutuhkan reporter untuk produksi konten media daring (online) dari profesor jurnalistik asal Amerika Serikat, Mindy McAdams; kali ini kita masuk seri ketiga yang fokus pada penggunaan perekam audio.

Seorang pewarta, atau pelajar bidang studi jurnalistik sebaiknya memang memiliki atau setidaknya familier dengan perekam audio (audio recorder).

Alat perekam yang sekarang lazim digunakan, dan cocok dengan kebutuhan penerbitan kini adalah digital audio recorder, atau perekam yang menyalin suara menjadi fail digital.

Dan seperti peranti kebanyakan, perangkat biasanya disertai dengan lembar panduan. Menurut profesor Mindy McAdams, bacalah manual penggunaannya.

“Karena perangkat perekam audio biasanya memiliki rangkaian menu yang tergolong sulit navigasinya. Salah atur bisa merugikan kita,” ujarnya.

Beberapa hal yang juga ia tekankan terkait pengaturan adalah penampilan tanggal dan waktu, serta level kualitas rekaman.

“Atur kualitas rekaman pada tingkatan yang paling baik hasilnya. Jika ada pilihan stereo atau mono, pilih mono; karena ukuran fail lebih kecil,” tulisnya.

Sebelum menggunakannya, cek juga sensitivitas mikrofon. Caranya bisa dengan meletakkannya di atas meja, sambil kita berjalan memutarinya sembari terus mengucapkan, “Tes, satu, dua, tiga, tes.”

Lakukan pengujian itu dengan variasi jarak, posisi, dan pengaturan. Latih terus hingga kita terbiasa, dan menguasi penggunaan alat untuk mendapatkan hasil maksimal.

Selain giat berlatih agar makin mahir menguasai alat rekam suara, kita juga perlu menguasai beberapa hal penting untuk menghasilkan rekaman audio jernih pada sesi wawancara.

mengatur sesi wawancara agar menghasilkan audio jernih

 

Melatih pengaturan sesi wawancara

Pewarta tentu sudah biasa dan tahu betul cara mewawancarai narasumber; pelajar studi jurnalistik juga mungkin pernah mendengarnya di kelas.

Namun, menurut Mindy, untuk mendapatkan kualitas audio mumpuni yang jernih terdengar pada konten audio yang akan disajikan pada publik lewat media daring, beberapa hal berikut ini perlu dilatih:

1. Cara memegang mikrofon atau perangkat audio recorder.

Latih posisi paling nyaman; jaga agar tangan kita tidak jadi susah mengatur peletakannya, hingga harus menggeser-geser jemari di tengah wawancara, karena bisa menghasilkan gangguan audio.

Biasakan pula jemari dalam posisi siap pada tombol atau panel tertentu; yang jika diakses tidak bikin kita repot.

2. Hindari meletakkan alat perekam di atas meja, atau furnitur sejenis.

Karena berpotensi menyerap noise yang mungkin terjadi; misal, narasumber meletakkan kunci, atau menggebrak meja.

3. Menjaga jarak yang pas antara mikrofon dan mulut narasumber.

Hal ini bisa jadi terkait sensitivitas mikrofon, maka itu penting untuk memastikan penguasaan terhadap alat. Dalam hal ini, bisa dilatih dengan cara yang diurai sebelumnya.

Atau atur sensitivitas mikrofon kita agar cukup baik menangkap suara pada jarak yang tidak perlu terlalu dekat dengan sumber suara. Karena ada pula narasumber yang merasa terganggu kalau alat perekam terlalu dekat disodorkan padanya.

4. Gunakan alat bantu dengar, seperti earphone atau headphone.

Dengan begitu kita jadi benar-benar bisa memastikan kalau audio yang dihasilkan memang jernih dan sesuai harapan.

Telinga telanjang bisa menipu. Sudah susah atur waktu dengan narasumber, sesi wawancara terasa lancar, begitu mendengar hasilnya, ternyata banyak gangguan. Tentu kita bisa kesal.

5. Jangan menggumam.

Jika kita terbiasa melakukan wawancara untuk media cetak, hal ini bisa jadi persoalan; karena menerbitkan konten audio tidak lumrah, dan hasil wawancara lazim kita terjemahkan ke dalam transkripsi teks.

Maka seringkali jadi biasa menggumam “He-eh” atau “Hmmm” saat menanggapi komentar narasumber.

Untuk memastikan fail audio wawancara kita juga siap diterbitkan, latih untuk tidak biasa menggumam saat wawancara. Sebagai pengganti respon, kita bisa membiasakan mengangguk atau tersenyum.

6. Melempar pertanyaan terbuka.

Untuk menghasilkan rekaman wawancara yang layak diterbitkan, biasakan untuk selalu memberikan pertanyaan terbuka yang lugas dan mudah dipahami narasumber.

Usahakan kita tidak melempar pertanyaan tertutup, apalagi yang bisa dijawab dengan “Ya” atau “Tidak”; atau jawaban berbelit karena sebetulnya narasumber kurang memahami maksud pertanyaan kita.

7. Jangan berikan mikrofon pada narasumber.

Ditegaskan Mindy, “The reporter always holds the mic! NEVER give the mic to the subject! YOU control the mic.”

8. Jaga kontak mata dengan narasumber.

Gunakan dan jaga kontak mata yang kuat dengan narasumber. Kuasai fokus narasumber agar ia tidak abai, lalu merunduk dan mendengus.

Jika itu terjadi, hembusan napasnya akan menembak mikrofon dan mengiringi komentarnya dengan imbuhan “Hsss” yang akan mengganggu kualitas hasil.

9. Mengatur sesi tambahan ringkas bersama narasumber.

Tip pamungkas dari Mindy untuk menghasilkan rekaman audio yang layak terbit adalah teknik simpel yang ia sebut “The question after”.

Caranya:

  • Usai wawancara penuh, matikan audio recorder;
  • Berdasarkan wawancara utama, pilih dua sampai maksimal tiga pertanyaan yang paling relevan dengan topik utama, atau menghasilkan jawaban paling menarik;
  • Lalu jelaskan pada narasumber, kalau kita akan menerbitkan wawancara dalam format audio, maka kita memerlukan jawaban ulang atas dua atau tiga pertanyaan yang sudah kita tentukan;
  • Pasang earphone atau headphone, lalu lakukan tes audio untuk memastikan hasilnya jernih:
  • Lakukan sesi ulang yang ringkas itu.

Keuntungan sesi tambahan ini, menurut Mindy, ada dua:

  1. Narasumber cenderung menjawab lebih efisien dan lugas pada kesempatan kedua.
  2. Pekerjaan kita saat menyunting hasil rekaman jadi lebih mudah.

 

Kesimpulan:

  • Wartawan atau pelajar studi jurnalistik sebaiknya membiasakan diri dengan penggunaan alat perekam audio.
  • Biasanya, perangkat perekam audio memiliki menu yang tergolong rumit; maka, biasakan untuk membaca manual penggunaan, menguji alat, dan melatih kemahiran kita menggunakannya.
  • Latih 9 (sembilan) kiat untuk menghasilkan rekaman wawancara yang jernih, agar hasilnya layak untuk diterbitkan dalam format audio.

 

Sumber foto: hjmt.com

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry