Bagi Riyani Indriyati, pendidikan merupakan kunci untuk merubah nasib dan jalan kemandirian secara finansial, moral, juga emosional.

Usai menuntaskan pendidikan S1 di Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Prof.DR.Moestopo (Beragama), ia pun melanjutkan petualangan akademisnya ke jenjang Master di University of Houston, Texas, Amerika Serikat; dan hasilnya: lulus dengan predikat summa cum laude.

Kini ia bermukim di London, Inggris, dan mendirikan Dahuni Foundation yang bergerak di bidang pendidikan, khususnya untuk berbagi pengalamannya di bidang kajian komunikasi.

riyani indrayati

Riyani, di tengah kegiatannya mengelola Dahuni Foundation yang bergerak di bidang pendidikan.

Berikut ini perbincangan kami dengan Riyani, yang mungkin bisa menginspirasi kita:

Apa arti pendidikan untuk Riyani?

Buat saya, pendidikan itu kunci untuk mengubah nasib dan kemandirian kita secara finansial, moral, dan emosional. Hanya lewat pendidikan kita bisa membuka pikiran tentang dunia di sekitar kita, bahkan membawa kita ke berbagai penjuru dunia. Yang penting juga buat saya, pendidikan merupakan satu-satunya jalan untuk keluar dari kemelut hidup.

Saya selalu memiliki prinsip kalau kita tidak selalu bisa bersaing dengan orang lain dalam penampilan dan urusan materi, tapi kita selalu bisa bersaing untuk urusan otak dan kemampuan teknis. Ibu saya dulu adalah seorang guru, dan beliau selalu menekankan bahwa hanya dengan pendidikan kami bisa keluar dari kemiskinan dan keterpurukan.

Dari sekian banyak cabang pendidikan, apa yang membuat Riyani tertarik dengan bidang komunikasi?

Sejak saya menempuh pendidikan di usia muda, saya memiliki kecenderungan dan ketertarikan besar dengan human communication.

Saya sangat suka membaca, karena buat saya, buku merupakan pelarian paling aman dan murah. Saya juga merasa selalu memiliki rasa ingin tahu yang besar tentang apapun yang terjadi di dunia luar, dan hanya lewat membaca saya bisa memperoleh informasi yang saya butuhkan.

Dari dari minat dan kebutuhan itu, saya merasa dunia jurnalistik dan menulis merupakan second nature yang memberikan kepuasan batin untuk saya, secara pribadi.

Menggeluti ilmu komunikasi dan belajar tentang bagaimana komunikasi dipakai dalam berbagai bidang pekerjaan memiliki tantangan tersendiri. Komunikasi yang merupakan salah satu unsur dasar dalam kehidupan memiliki banyak elemen yang bisa didalami penggunaannya. Keahlian dalam bidang komunikasi juga sangat diperlukan di semua bidang pekerjaan, apapun jenisnya.

Memiliki keahliah khusus di bidang komunikasi secara profesional bisa sangat menguntungkan. Profesional di sini artinya, ahli dalam berkomunikasi, secara lisan pun tulisan dengan berbagai jenis stakeholders, serta memahami peran penting dari komunikasi di bidang pekerjaan yang bersangkutan.

Peran ahli komunikasi di suatu bidang usaha bisa menjadi penentu kesuksesan pada bidang terkait karena lingkup kerja praktisi komunikasi di era sekarang ini juga jadi lebih luas dari pada apa yang dipahami oleh sebagian orang sebelumnya.

Contoh, praktisi komunikasi di perusahaan-perusahaan besar misalnya, atau perusahaan internasional, para praktisi komunikasi itu biasanya duduk di satu meja yang sama dengan para decision makers (pengambil keputusan).

Peran mereka bukan lagi sekadar press release atau pemasaran, tapi juga membantu para pemimpin dan pengambil keputusan tadi dalam memutuskan hal-hal besar dan strategis, yang menyangkut kelangsungan perusahaan terkait.

Apakah itu juga yang jadi pertimbangan sampai kemudian melanjutkan studi komunikasi sampai ke jenjang S2?

Ya, saya selalu haus untuk tahu lebih banyak tentang segala hal. Ketika lulus S1 di bidang jurnalistik, saya menyadari bahwa, gelar ini saja tidak cukup untuk membawa saya bersaing dengan pangsa pasar bidang komunikasi yang juga besar; hingga saya mesti punya keahlian tambahan.

Maka itu saya mengambil S2 dan memilih bidang public relations di University of Houston karena saat itu belum banyak peminat di bidang PR; dan menurut saya PR merupakan bidang yang unik karena ada kombinasi skill dan art yang tidak bisa dikuasai begitu saja dengan praktik, melainkan harus diperdalam juga secara akademis atau dipelajari serius di bangku kuliah.

Apakah ada kendala saat menempuh pendidikan sampai ke Amerika Serikat?

Seperti kebanyakan masalah yang dihadapi oleh mahasiswa di negara lain, kendala utama adalah bahasa; dan itu juga yang jadi kesulitan terbesar saya saat beradaptasi dengan iklim pendidikan di Amerika Serikat.

Lalu, sistem pendidikan di Indonesia cenderung mengedepankan kegiatan mengingat dan mendengarkan, sementara di sana, kita dituntut untuk bisa mengeluarkan pendapat dan berdebat.

Kesulitan lain lagi adalah penulisan akademis. Di Indonesia, kita pun tidak diajarkan betul tentang penulisan ilmiah, hingga tidak menguasai cara yang benar untuk penulisan ilmiah, seperti esai atau presentasi akademis. Dua hal itu menurut saya adalah mental blocks utama yang harus secepatnya ditangani, sebelum terlambat.

Tapi yang juga menyenangkan dari kuliah di Amerika Serikat adalah kesempatan belajar secara terbuka dan kritis tentang berbagai hal yang berhubungan, juga tidak berhubungan langsung dengan pendidikan. Sebagai mahasiswa asing, saya juga bisa belajar banyak dari mahasiswa yang berasal dari negara lain; terutama terkait cara berpikir yang kerap berbeda saat menghadapi suatu hal.

Apakah ada cita-cita yang masih ingin dicapai?

Saya pribadi saat ini masih bergelut mengembangkan dan membesarkan yayasan pendidikan yang saya kelola, Dahuni Foundation.

Yayasan ini adalah passion saya, mimpi dan bentuk kontribusi kecil saya untuk pendidikan anak-anak Indonesia. Mimpi lain yang ingin saya capai adalah menulis buku tentang pengalaman mahasiswa Indonesia penerima beasiswa yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri.

Menurut saya, ada banyak ilmu yang bisa kita bagi dengan mahasiswa lain di Tanah Air yang ingin menempuh jalur serupa (bidang komunikasi); dan kini saya sedang menyusun strategi untuk mewujudkan impian tersebut.

Apa saja kiat yang perlu diperhatikan oleh mahasiswa yang berminat melanjutkan studi di luar negeri? Berikut ini tips dari Riyani, perempuan yang mengagumi sosok dosen Prof.DR. Gati Gayatri dan Dr. Lan Ni, sebagai figur yang berpengaruh terhadap pendidikan Riyani sampai ke Amerika Serikat:

1. Prepare well dan cepat beradaptasi

Persiapkan segala sesuatu dengan matang, baik dari segi akademis maupun mentalitas. Urusan akademis bisa disiapkan dengan mempelajari sistem pendidikan di negara yang ingin dikunjungi supaya bisa cepat beradaptasi dengan dunia pendidikan di negara tersebut. Memperbaiki kemampuan berbahasa secara lisan dan terutama dalam hal penulisan secara akademis tentu juga penting dipersiapkan.

Sementara dari sisi mentalitas, persiapkan jiwa kita supaya tidak ada culture shock di negara baru. Pandai beradaptasi dengan lingkungan sekitar merupakan salah satu kunci terbesar untuk kita bisa berhasil kuliah di luar negeri.

2. Networking

Menjaring pertemanan dengan berbagai kalangan sangatlah penting, karena bisa membantu kesuksesan selama dan setelah masa kuliah. Apalagi sekarang, jarak dan waktu tidak lagi menjadi kendala untuk kita menjalin pertemanan; maka peluang itu harus dioptimalkan.

Satu lagi, jangan sungkan untuk keluar dari comfort zone dan harus selalu mau belajar dari siapapun.

Nah, bagaimana? Tertarik mengikuti jejak Riyani?


 

Biodata Riyani:

Riyani Indriyati

  • Nama lengkap: Riyani Indriyati
  • Karier profesional:
    • Founder & Director of Dahuni Foundation (March 2014-Now)
    • Online Volunteer for UN & NGO across Asia and Europe (2010-2014)
    • Communications at Unocal Geothermal of Indonesia (2002-2005)
  • Catatan pendidikan:
    • Universiteit van Amsterdam (UvA) Talen (2010-2012)
    • University of Houston, Texas, USA (2007-2009)
    • San Jose State University, California, USA (2006-2007)
    • Diablo Valley Community College, San Ramon, California, USA (2006-2007)
    • Universitas Prof.DR.Moestopo (Beragama), Jakarta, Indonesia (1998-2001)
  • Karya tulis:
    • Nov 7, 2009 — PRSA Conference: Exploring the influence of personal values and perceived ethical dilemma.
    • Oct 15, 2014 — Magdalene: A tap on a shoulder: My introduction to infidelity.
    • May 25, 2015 — Time Magazine: Europe Conversation: Letter to the editor.
    • June 18, 2015 — The Jakarta Post: Anggun, butters both sides of her bread?
    • Sept 30, 2015 — The Jakarta Post: Decoding Indonesia’s Past: Let there be light at the end of the tunnel.
    • Dec 20, 2015 — The Jakarta Post: By the way… No need to feel funny about money.
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry