Ramai diskusi tentang jurnalistik cetak versus daring

jurnalistik media cetak versus media digital

Ceritanya, jelang akhir tahun kemarin, ada tautan artikel dibagikan lewat grup WhatsApp; judulnya, Inikah Senjakala Kami…, yang menulis, jurnalis senior Bre Redana.

Setelah baca, ternyata artikel itu sudah ramai di media sosial; ditanggapi beberapa pelaku (juga pengamat) dunia jurnalistik.

Isinya yang menyinggung soal akhir era media cetak, perkembangkan media daring, sampai soal pendidikan jurnalistik, kebanyakan ditanggapi dengan pendapat yang berlawanan.

Terutama saat bahasan Bre bernada: pewarta media cetak yang ia sebut konvensional lebih baik dari media daring; karena wartawan cetak memegang buku catatan, pulpen, dan melakukan wawancara langsung; sementara wartawan daring khusyuk dengan gadget untuk multitasking.

Kritik Bre mungkin ada benarnya, kalau kualitas jurnalistik di media daring masih jauh dari ideal. Persoalannya, banyak yang menangkap kalau Bre pukul rata, dan melupakan kalau kualitas jurnalistik itu di luar persoalan medium, cetak pun daring.

Beberapa praktisi media massa pun menanggapi dengan argumen balasan, tak hanya lewat komentar di Twitter atau Facebook, tapi juga artikel sanggahan di berbagai saluran; beberapa di antaranya:

Atau ulasan lain yang relevan seperti:

Isu ini tak hangat begitu saja. Memang, berbagai kabar tiga bulan terakhir, seperti penutupan versi cetak The Jakarta Globe, Koran Tempo Minggu, Harian Bola, sampai Sinar Harapan, bikin kita mudah merasa putus asa terkait bisnis media cetak.

Baca juga: Koran Sinar Harapan tutup awal tahun ini

Dikutip dari Merdeka.com, Direktur Eksekutif Serikat Perusahaan Pers (SPS) Asmono Wikan menyebutkan kalau perkembangan teknologi memang memengaruhi keadaan ini, tapi sebab lain yang lebih utama adalah soal ekonomi nasional yang tak sampai 5 persen.

“Media cetak tumbang karena tak sanggup menghadapi situasi ekonomi makro. Bahan percetakan jadi mahal, sementara pemasukan dari iklan tidak seimbang,” katanya pada Merdeka.com.

Merujuk pada catatan Dewan Pers pada 2014, kini ada 567 media cetak yang beroperasi di Indonesia; 312 harian, 173 mingguan, dan 82 bulanan. Data ini belum diperbarui dengan media cetak yang tutup sepanjang 2015.

Membaca berbagai perspektif dan kondisi terkini di atas tentu cukup untuk menggambarkan isu relasi media, di antara format lama dan baru. Semoga saja bisa memancing pemahaman baru dan solusi yang baik untuk perkembangan jurnalistik di Indonesia.