Dalam peliputan peristiwa, jurnalis seringkali hanya fokus pada urusan pekerjaan teknis jurnalistik belaka. Kegiatan biasanya berpusat pada usaha mendapatkan informasi akurat, isu sampai gambar eksklusif, tak peduli seberat apapun medannya.

Namun melupakan satu unsur lain yang tak kalah penting selain nyali besar dan ambisi menggali cerita dari isu secara eksklusif, yaitu komunikasi persuasif dan sensitivitas perasaan.

Dalam teorinya, praktik jurnalisme diharamkan jika memasukkan unsur perasaan apalagi pendapat pribadi ke dalam berita, dan pandangan itu ada benarnya. Hanya saja, sebelum kerja jurnalistik bisa menghasilkan produknya, cara dan gaya komunikasi yang relevan dan memikat punya peran penting.

Dalam jurnalisme lingkungan, unsur komunikasi persuasif pada narasumber memainkan peranan penting yang menentukan berhasil atau tidaknya jurnalis dalam penggalian informasi; hal yang sepertinya berlaku juga di genre topik lainnya.

Misalnya, kita ingin menggali cerita atau pendapat dari kelompok masyarakat yang sudah lama menjadi penambang emas tanpa izin dengan penghasilan yang cukup, padahal aktivitas mereka merusak lingkungan sekitar, juga berdampak langsung terhadap kesehatan si penambang.

Kalau hanya berpegang pada urusan teknis saja, si jurnalis bisa saja langsung mendatangi lokasi, menemui kelompok masyarakat dan melakukan wawancara, lalu pulang dan menulis beritanya. Itu sah saja dan mungkin ideal.

Tapi ada hal-hal lain yang mungkin terjadi, seperti: Bagaimana kalau penambang yang ditemui bukan orang yang ramah? Bagaimana kalau mereka cenderung menutup diri? Bagaimana kalau mereka enggan diwawancarai?

Mungkin di sinilah lulusan studi komunikasi mestinya lebih bisa menyesuaikan diri, karena kasus ini bukan tentang teknis jurnalistik saja, tapi perlu pertimbangan dari sudut pandang sosiologi, antropologi, dan psikologi yang mendukung kegiatan jurnalistik.

Apakah berarti lulusan lain juga jadi susah beradapatasi dalam situasi semacam ini? Tidak juga, tapi teknis jurnalistik jadi bergantung pada karakter personal. Sementara jurnalis yang punya latar pendidikan komunikasi atau jurnalistik lebih pasti memiliki bekal teknisnya.

afghan girl

Afghan Girl, hasil jepretan pewarta foto Steve McCurry pada 1984 di lokasi pengungsian warga Afganistan, dan mendunia setelah muncul di sampul majalah National Geographic pada edisi Juni 1985. Diceritakan kalau Steve perlu waktu untuk membuat Sharbat Gula (perempuan di dalam foto) mengatakan, “Baiklah, Anda boleh memotret saya.” (Sumber foto: Wikimedia.org)

Kembali lagi ke komunikasi persuasif dalam reportase; hal ini penting untuk membuka jalan dalam proses wawancara atau peliputan peristiwa. Tentang cara si pewarta berkomunikasi dulu untuk membangun relasi dengan calon narasumber. Semakin baik komunikasi yang terbangun, maka makin banyak pula informasi yang bisa didapatkan. Terlebih lagi jika liputan itu berbau human interest.

Saya misalnya, pernah pada suatu kali meliput peristiwa banjur bersama dengan beberapa wartawan lain. Saat tiba di lokasi, banjur sudah surut. Suasana di lokasi saat itu sudah relatif tenang. Hanya terlihat beberapa warga sibuk membersihkan rumahnya dari lumpur akibat banjur.

Lalu tanpa basa-basi, salah seorang jurnalis dari portal berita yang cukup ternama memberikan pertanyaan tiba-tiba pada salah seorang warga yang sedang membersihkan rumah tadi:

“Pak, yang banjirnya masih tinggai di mana ya?”

Si warga yang ditanyakan hal itu pun menjawab dengan nada kesal, “Mbak, pertanyaannya enggak bisa lebih nyakitin lagi?”

Saya dan beberapa wartawan lain di lokasi saat itu pun merasa canggung, lalu perlahan menghindari lokasi itu dan menjauh dari pandangan si warga yang kesal tadi.

Setelah cukup lama menghindari dulu warga yang kesal tadi dan berpikir kalau suasana hati si bapak tadi mungkin sudah tidak terlalu kesal, kami pun mencoba kembali membangun perbincangan. Kali ini dengan cara berbeda. Perlahan, sabar, dan empati yang lebih terang.

Hingga akhirnya kami pun bisa duduk bersama, bahkan bersama warga lainnya untuk mendengarkan cerita mereka, kronologis peristiwa banjir hingga akhirnya sudah surut.

Akhirnya kami pun punya sesuatu yang bisa ditulis, diceritakan dan dilaporkan. Bukan hanya berita tentang banjir, tapi juga cerita-cerita lain seperti warga yang mengaku mulai membiasakan diri dengan musibah banjur, dan memaksakan pikiran kalau banjir bukan bencana melainkan musim yang wajar datang pada masa tertentu, seperti musim hujan atau musim kemarau.

Dari cerita itu jelas sekali, sensitivitas dan cara berkomunikasi yang persuasif saat reportase memegang peranan penting. Tak hanya untuk menggali informasi untuk pemberitaan, tapi juga potensi mendapatkan banyak cerita tambahan.

Prosesnya mungkin membutuhkan waktu ekstra dan kesabaran yang dirasakan kurang pas dengan teknologi berita yang serba cepat saat ini.

Tapi, tugas kita para jurnalis bukan hanya menyajikan berita, tapi menyuguhkan cerita yang memiliki kedalaman; yang untuk membangunnya perlu relasi baik dengan narasumber. Dan untuk itu kita perlu sensitif soal rasa, dan persuasif soal kata.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry