Penjelasan Bre Redana tentang “senjakala media cetak”

Ketika diterbitkan harian Kompas pada edisi 28 Desember 2015, catatan berjudul Inikah Senjakala Kami… yang ditulis wartawan senior Don Sabdono atau lebih akrab dikenal lewat nama Bre Redana memantik reaksi, sampai cukup ramai dibicarakan di media sosial; khususnya oleh peminat dan pelaku industri media.

Kebanyakan mengulasnya dengan pendapat berlawanan.

Isi catatan itu kurang lebih menyinggung soal akhir era media cetak, terkait dengan perkembangan media daring (online); dengan pemaparan yang menimbulkan kesan kalau kualitas jurnalistik media daring lebih buruk dari media konvensional (cetak).

Bre sendiri tak terlalu merespon perdebatan itu, karena ternyata ia memang tak ingin menanggapinya.

Bre Redana

Jurnalis kawakan Bre Redana saat ditemui di kantor redaksi harian Kompas, Rabu (13/1/2016). (Foto: Danny Kosasih/Yellowcabin)

Untuk mencari tahu alasannya, saya dan dua mahasiswa pembaca Yellowcabin menemui dan berbincang dengan Bre Redana di Ruang Tamu redaksi harian Kompas di kawasan Palmerah, Jakarta Selatan.

Yellowcabin (YC): Catatan Inikah Senjakala Kami… ramai ditanggapi, kesimpulannya pun beragam. Sebetulnya, apa yang ingin Mas Bre sampaikan?

Bre Redana (BR): Hehehe, awalnya catatan saya itu terpengaruh tulisan Ignatius Haryanto, pengamat pers yang luas referensinya, dan salah satu anggota Forum Ombudsman surat kabar kami. Ia memberi notifikasi dengan judul Senjakala Suratkabar di Indonesia?

Jadi poin yang sebenarnya mau saya sampaikan dan sebetulnya tidak cukup diuraikan melalui catatan pendek itu adalah perubahan medium dari printed media ke media digital. Itu yang utama.

Saya tidak mau bicara soal konten. Pada umumnya, orang saling berdebat soal konten. Sedangkan poin yang selalu mengganggu pikiran saya itu bukan konten, melainkan soal medianya itu sendiri.

Intinya sederhana, ada perubahan besar dari media cetak ke digital. Dalam pergulatan saya, perubahan itu memengaruhi cara kita berpikir, bersikap, atau lebih dalam lagi memengaruhi sistem neural kita. Itu yang sebetulnya ingin saya sampaikan.

YC: Sistem neural?

BR: Sederhananya begini, coba Anda melihat tinta di atas kertas (sambil menunjuk ke arah kartu nama yang ia pegang), lalu membandingkannya dengan memandang teks pada layar (kemudian menunjuk layar gawai miliknya).

Ketika medium berubah ke digital, lalu pixel yang ada di mata Anda memandang pixel yang ada pada layar gawai Anda, maka bagian berwarna putih pada mata Anda tidak bekerja.

YC: Lalu?

BR: Maka tentu ada perubahan pada sistem memori kita; cara otak kita bekerja. Pertanyaannya adalah, apakah medium berbeda tadi membawa konsekuensi etis atau tidak? Apakah teknologi ini akan membawa perubahan yang memiliki konsekuensi etis?

Saya tidak mampu menjawabnya, ini harus dijawab oleh semua orang. Membingungkan ya? Hehehe.

Memang tidak banyak yang membahas bidang ini, tapi buat saya cukup menarik. Saya tidak mau membahas konten.

YC: Intinya, perubahan kebiasaan orang yang membaca teks dari tinta di atas kertas ke teks pada layar digital itu berpengaruh terhadap perubahan sistem neural dan cara manusia berpikir?

BR: Persis. Ada sebuah buku yang ditulis Nicholas Carr, judulnya The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains. Catatan penting dari apa yang disampaikan Carr adalah, dengan membaca buku kita akan terbiasa berpikir linier, dibandingkan membaca pada perangkat digital.

Proses membaca melalui media digital akan membuat cara berpikir Anda bukan lagi linier, melainkan hypertext atau bertumpuk-tumpuk.

Sifat berpikir linier membuat Anda tidak bisa kemana-mana, karena tidak ada link yang mengarahkan Anda keluar. Anda akan mengikuti buku itu secara linier, terus ke dalam dan semakin dalam.

Pada media digital, sistemnya akan membaca cara kerja otak kita sampai tidak lagi bersifat linier. Meloncat kemana-mana.

YC: Contoh?

BR: Seperti situs Yellowcabin. Dalam waktu sekian detik saya sudah bisa membaca dua atau tiga artikel di sana; seperti Ketika media massa digunakan untuk menekan subaltern dan Menjahit angka jadi cerita tadi.

Belum lagi beberapa lainnya yang saya cuma lihat judulnya. Kasih saya tiga menit, maka saya bisa baca lebih banyak lagi di sana. Berbeda jika Anda membaca buku, saya hanya akan membaca bab per bab. Begitu, linier.

Bre Redana

Suasana saat berbincang dengan Bre Redana di Ruang Tamu kantor redaksi harian Kompas, Rabu (13/1/2016). (Foto: Danny Kosasih/Yellowcabin)

YC: Jadi catatan yang ramai dibahas itu bukan tentang media cetak lebih baik dari digital atau soal pemasukan (iklan)?

BR: Iya, bukan.

Memang ada konsekuensi ditanggapi ramai karena kecenderungan pada dunia digital seolah hanya sebuah medium yang mengekspresikan kedangkalan. Kira-kira begitu kan yang paling banyak direspon?

Seolah pula saya menggambarkan superioritas media cetak dibandingkan digital.

Ini bukan soal superioritas atau inferioritas. Ini dua hal yang berbeda. Dua tradisi berbeda. Dunia cetak dengan pemikiran liniernya telah membentuk sivilisasi manusia kira-kira sampai milenium kedua ini.

Sekarang, di milenium ketiga, kita masih di ambang sivilisasi baru yang bentuknya saya belum tahu, dan kita juga semua belum tahu; karena sistem berpikir manusia juga sudah berbeda memasuki milenium baru ini.

YC: Bukan juga tentang cara kerja wartawan digital dibandingkan pewarta cetak dulu?

BR: Soal itu hanya konsekuensi teknis, bahwa jaman sekarang informasi atau data primer itu gampang diperoleh. Dulu, kalau Anda mau mewawancari saya, harus cari tahu dulu informasi tentang saya atau subjek lain yang ingin diwawancari, lewat sumber yang sangat terbatas. Kalaupun ada, itu pasti orang yang sudah terkenal banget.

Misal Anda mau mewawancarai Mochtar Lubis, ya Anda mesti tanya sana-sini, cari data di perpustakaan, membongkar-bongkar fail; ya karena terbatas. Sekarang, untuk tahu data primer, Anda tinggal cari di internet, ketik nama lengkap sudah ada informasinya tanpa perlu repot.

Jadi dunianya memang sudah berbeda.

YC: Mas Bre sendiri bagaimana menerima perubahan ini?

BR: Mau tidak mau ya harus beradaptasi; saya juga kan pakai gawai. Saya juga punya email, dan juga membuka Google. Jadi ya beradaptasi, sebagaimana orang jaman dulu beradaptasi dengan buku, mesin cetak, mesin tik.

Katakanlah sekarang kita bicara jaman literer. Berkembangnya imajinasi yang luas, lalu kemudian melahirkan Renaissance. Perkembangan rasionalitas, inovasi, dan teknologi yang lalu melahirkan revolusi industri yang membawa perubahan pada kita semua. Kan kita harus beradaptasi dengan semua perubahan itu.

Sama seperti sekarang, siapapun harus beradaptasi dengan perubahan ini.

YC: Berarti kalau terkait kompetensi wartawan, sama saja ya dari dua medium itu (cetak dan daring)?

BR: Tentang kompetensi itu barangkali kan lebih ke soal teknis ya. Katakanlah kini dibutuhkan kompetensi menggunakan komputer, kamera supercanggih, dan lain-lain.

Saya kira ada satu kutipan dari tanggapan Nezar Patria yang menarik. Dia bilang, “Technology is easy, but journalism is hard.” Itu bagus sekali. Bagi saya, dia menanggapi satu hal yang jadi substansi catatan saya. Yang sebetulnya saya perjuangkan itu kan nilai-nilai jurnalisme, bukan soal teknisnya.

Kalau soal teknis maka akan ada perdebatan hebat yang tidak akan selesai. Anda sebagai wartawan boleh bertanya pada lingkungan Anda, apakah dengan informasi yang makin mudah diakses, orang-orang yang bergerak di dunia digital lebih akurat menggali informasi dibandingkan orang-orang yang dibentuk tradisi literer dahulu?

Kan itu pertanyaannya. Anda bisa coba menjawabnya sendiri.

YC: Perubahan teknis ini juga terkait perubahan cara berpikir akibat medium tadi ya?

BR: Otak itu punya plastisitas luar biasa. Plastisitas adalah kemampuan menyesuaikan diri dengan fungsi-fungsi yang berubah.

Contohnya yang berhubungan dengan indera kita. Ketika orang menjadi buta, apakah ia kehilangan kemampuan visual dan indera lain berfungsi seperti biasa? Kan tidak. Apa yang terjadi? Ada indera lain yang jadi lebih sensitif, seperti pendengaran yang jadi lebih tajam misalnya.

Otak menyesuaikan diri. Ketika si buta yang kemudian dalam perkembangannya harus belajar huruf braille, maka ketajaman inderanya juga berpindah ke ujung jari.

Saya tidak bicara tentang baik atau buruk. Saya tidak menilai itu. Hanya memang teknologi itu membawa konsekuensi etis buat saya. Dalam jurnalisme harus ada konsekuensi etis yang harus dipertahankan, seperti akurasi, empati, dan banyak lainnya.

Buat kami, nilai-nilai etis itu masih harus dijaga. Oleh karena itu perubahan teknologi bukan untuk ditolak, tapi untuk disadari. Beda kan?

Contoh lagi, Anda bekerja di sistem digital ini, dengan kesadaran neural yang berubah. Anda bekerja di tempat dengan pendingin ruangan, pasti tidak akan pernah lelah. Paling tiba-tiba urat Anda tegang.

Lalu Anda pun kecanduan, Anda tidak sadar itu. Bekerja sambil mendengarkan musik di hadapan layar di tempat dengan pendingin ruangan. Itu membuat Anda kecanduan, dan Anda tidak tahu betapa bahayanya itu.

YC: Menurut Mas Bre, bagaimana perubahan ini akan memengaruhi industri jurnalistik?

BR: Soal industri saya tidak tahu. Saya tidak mengurusi bisnis. Saya ini wartawan. Yang pasti tentu akan ada perubahan soal bisnis.

Saya ingat, di Israel ada koran yang tiap hari bisa terbit sebanyak dua juta eksemplar. Saya juga pernah baca ada koran Jerman yang terbit tiap hari tanpa iklan, dan hanya mengandalkan kekuatan stakeholder atau pembacanya.

Itu semua soal bisnis; tapi itu bukan pergulatan saya. Jalan pedang saya itu jurnalisme, bukan bisnis.

Itu pula premis tulisan saya yang ramai diperdebatkan. Sama sekali bukan ingin membandingkan media cetak dengan online, apalagi untuk menunjukkan superioritas media cetak.

Yang ingin saya katakan adalah tentang bagaimana perubahan medium ini mengubah sistem berpikir manusia; dan itu yang paling penting ingin saya sampaikan.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry

← Previous post

Next post →

2 Comments

  1. hehe, khas mas don

  2. yang kaya kaya gitu

Leave a Reply