Apa keuntungan belajar tentang komunikasi?

Salah satu jawabannya boleh dibilang pilihan bekerja di nyaris semua bidang; pendidikan, ekonomi, perdagangan, politik, kesenian, olahraga, dan lainnya. Semua bidang kerja itu membutuhkan keahlian komunikasi.

Di satu sisi hal ini bisa dirayakan pelajar dan praktisi komunikasi; tapi di sisi lain juga bisa menimbulkan kebingungan karena area yang terlalu luas. Maka itu, perlu pemetaan profesi komunikasi yang jelas; agar pelaku bisa menentukan langkah lebih pasti.

Setidaknya untuk memastikan jawaban atas pertanyaan, “Mau bekerja di bidang public relations, jurnalistik, atau advertising? Mau jadi apanya?”

Tak hanya itu, uraian profesi yang merupakan bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian, juga bisa jadi penunjuk arah untuk urusan pengembangan wawasan dan skill sumber daya manusia terkait.

Hal ini makin terasa mendesak jelang Asean Free Trade Area (AFTA) dan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang menantang Indonesia untuk siap dari sisi tenaga kerja dengan keahlian mumpuni. Salah satunya di bidang komunikasi.

Lewat seminar penelitian kelembagaan Badan Litbang SDM Kementerian Kominfo, Senin (12/12/2015), ada temuan awal tentang pemetaan profesi komunikasi yang disampaikan Prof. Dr. Ibnu Hamad dari Ikatan Sarjana Ilmu Komunikasi Indonesia (ISKI).

Berdasarkan data yang dikumpulkan melalui metode penelitian kualitatif dan teknik focus group discussion (FGD) dengan narasumber dari kelompok akademisi, praktisi, dan stakeholders dari 4 kota (Medan, Makassar, Solo, dan DKI Jakarta) itu, kelompok profesi komunikasi terbagi menjadi:

Public Relations

  • Media relations officer
  • Human relations officer
  • Community relations officer
  • Press release writer
  • Negotiator
  • Lobbyist
  • Speech writer
  • Photographer
  • Media tracking officer
  • Spokesperson
  • Personal branding officer
  • Investor relations officer
  • Financial relations officer
  • Customer relations officer
  • Marketing communications officer
  • Crisis analyst
  • Government public relations officer
  • Social media analyst

Event Organizer (EO)

  • Communications planner
  • Master of ceremony (MC)
  • Lighting crew
  • Stage crew
  • Campaign master

Television/Video Broadcasting

  • Video journalist
  • Scriptwriter
  • Producer
  • Presenter
  • Anchor (news presenter/newscaster)
  • Reporter
  • Camera person
  • Floor director
  • Production director
  • Dubber
  • Video editor
  • Information & motion graphic designer
  • Talent
  • Guest booker

Radio Broadcasting

  • Scriptwriter
  • Producer
  • Presenter/announcer
  • Reporter
  • Dubber
  • Audio editor
  • Music director
  • Social media specialist
  • Program director
  • Creative production specialist

Print Media

  • Reporter
  • Editor
  • Photographer
  • Opinionated writer
  • Caricature artist
  • Columnist
  • Layout & graphic designer
  • Language editor

Online Media

  • Online & multimedia journalist
  • Social media content writer
  • E-newspaper production specialist
  • Web & microsite developer
  • Web & microsite designer
  • Online campaign specialist
  • Infographic designer
  • Graphic designer

Advertising

  • Creative officer
  • Marketing officer
  • Copywriter
  • Media planner
  • Graphic designer
  • Digital advertiser
  • Social media analyst

Researcher

  • Communication & behavioural researcher
  • Quantitative research specialist
  • Qualitative research specialist
  • Discourse analysis specialist
  • Mixed method researcher
  • Social networking researcher
  • Semiotic communications researcher
  • Framing analysis specialist

Hasil pemetaan ini baru temuan awal yang bisa berkembang; tapi setidaknya untuk sementara bisa jadi gambaran peta profesi pilihan dalam bidang komunikasi.

Dalam hasil riset itu juga tercatat beberapa profesi lain yang dianggap memerlukan kompetensi lebih dalam di bidang komunikasi; seperti guru dan dosen, advokat, dai, dan motivator.

Maka itu pula salah satu kesimpulan sementara adalah perlunya kompetensi komunikasi dasar untuk setiap orang, karena apapun bidang pekerjaannya, ia membutuhkan keahlian komunikasi yang merupakan bauran antara teknik dan seni penyampaian pesan.

Kalau mengutip Enhacing the Connection between Higher Education and the Workplace: A Survey of Employers (1995) oleh Carl E. Van Horn, ada 14 kompetensi dasar yang dibutuhkan di dunia profesional, apapun bidangnya; yaitu:

  1. Reading (membaca);
  2. Written communication (menulis);
  3. Oral communication (bicara);
  4. Listening (mendengar);
  5. Math (kemampuan dasar perhitungan matematis dan komputasi);
  6. Creative thinking (meramu gagasan);
  7. Decision making (pengambilan keputusan);
  8. Problem-solving (penyelesaian masalah);
  9. Knowing how-to-learn (kemampuan belajar dan aplikasi pengetahuan baru);
  10. Responsibility & self-management (tanggung jawab dan pengendalian diri untuk mencapai tujuan);
  11. Self-esteem (penghargaan dan penilaian positif terhadap diri);
  12. Sociability (kemampuan interaksi dengan orang lain);
  13. Integrity & honesty (menggunakan cara etis dalam melakukan sesuatu);
  14. Diversity (kemampuan beradaptasi dan produktif di lingkungan multikultural).

Dan dalam daftar itu kita bisa liat, ada 4 (empat) kemampuan dasar komunikasi muncul, yaitu membaca, menulis, bicara, dan mendengar; ditambah lagi dengan kemampuan interaksi dan adaptasi dengan keberagaman.

Enam dari 14 kompetensi cukup menunjukkan pentingnya keahlian komunikasi; sekaligus keuntungan mendalami dan mengembangkannya. Tak hanya untuk yang menyasar profesi di bidang komunikasi, tapi juga semua profesi lainnya.


Sumber ilustrasi gambar: Inc.com

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry