Hebohnya mega skandal The Panama Papers yang terjadi sekitar sebulan lalu ini membuktikan kekuatan jurnalisme berbasis data (data driven journalism) dalam mengungkap sebuah kasus.

The Panama Papers sendiri merupakan dokumen yang dirilis organisasi wartawan global, International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ), berisi data terkait bisnis rahasia, pencucian uang, dan pengemplangan pajak yang melibatkan ratusan nama penting dari berbagai negara, lewat firma hukum Mossack Fonseca.

panama papers mossack fonseca

Dalam beberapa laporan, dokumen Panama ini berukuran sangat besar; 2,6 terabyte fail internal Mossack Fonseca yang mencakup 4,8 juta email, 2,1 juta dokumen PDF, 1,1 juta foto, serta ribuan fail dalam bentuk lain. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan dokumen intelijen rilisan Wikileaks (2010) atau dokumen NSA yang diungkap Edward Snowden pada 2013.

Tak heran kalau The Panama Papers disebut sebagai data jurnalistik terbesar yang pernah diungkap di internet, sepanjang sejarah.

Selain soal pencucian uang dan pengemplangan pajak oleh para tokoh penting, dokumen ini juga memuat beberapa nama dan perusahaan yang masuk daftar hitam di Eropa dan Amerika Serikat (AS) atas keterlibatan mereka dalam perdagangan narkoba hingga aksi terorisme.

Untuk mengungkap data ini, ICIJ melakukan reportase kolaboratif yang melibatkan sekitar 370 jurnalis dari lebih 100 media organisasi di 76 negara. Mereka bekerja dalam 25 bahasa berbeda, menggali data dan melacak jejak transaksi rahasia firma hukum Mossack Fonseca dengan klien-kliennya di seluruh dunia.

Para jurnalis saling berbagi informasi dan memburu petunjuk yang disediakan untuk dokumen ini dengan menggunakan database korporasi, catatan properti, laporan keuangan, berkas perkara pengadilan hingga wawancara dengan penegak hukum.

panama papers disorot media

Ini bukanlah kali pertama karya jurnalisme berbasis data mengungkap sebuah kasus. Seperti dikutip dari Realtor.com, pada awal Februari silam, data driven journalism menunjukkan hubungan di antara harga real estate dengan kasus pembunuhan.

Jurnalisme berbasis data, adalah istilah untuk proses jurnalistik yang berdasarkan analisis dan penyaringan seperangkat data, untuk tujuan menciptakan berita. Umumnya, aktivitas jurnalistik ini selaras dengan pentingnya penerapan prinsip open data yang menekankan bagaimana data tertentu disediakan agar terbuka untuk diakses publik, dan bisa diolah ke dalam bentuk lain.

Jurnalisme data ini juga tak lepas dari fenomena banjir informasi yang belakangan berkembang, hingga berpotensi menyebabkan kebingungan masyarakat dalam menentukan mana informasi yang benar dan salah. Maka itu, media massa dituntut untuk mempunyai nilai lebih, dan jurnalisme berbasis data adalah salah satu solusinya.

data journalism

Kini, seorang jurnalis dituntut untuk lebih cerdas dan cermat dalam melihat sebuah peristiwa; tidak sekadar mengutip apa yang dikatakan narasumber. Data banyak berserakan, dan apabila dikumpulkan, dinarasikan, lalu dimaknai dengan benar, tak menutup kemungkinan muncul informasi baru yang menarik dan tidak kita ketahui sebelumnya.

Nah, tinggal tugas si pewarta untuk menyajikan hasil temuan ini menjadi sebuah berita yang tepat dan berpihak untuk masyarakat luas.

Dari sisi pembaca media, kini juga semakin pintar. Tak sekadar informasi, publik juga ingin mengetahui data tentang suatu peristiwa lewat sajian media. Lewat pemaparan informasi berbasis data inilah media massa bisa bersaing dengan media sosial, untuk menarik minat publik.

Selain penggalian dari sumber utama, beberapa pengolahan data yang sudah diverifikasi, dikurasi, dan dianalisa jadi bagian penting dalam penyajian informasi pada publik. Intinya, dalam penyampaian informasi, media harus melalui proses pengolahan data yang sudah diverifikasi dan akurat.

Di tengah kondisi seperti ini, praktik jurnalisme berbasis data ini merupakan cara baru dari sebuah media dalam penyajian big stories —skandal, kasus, atau rahasia negara yang memang sengaja digelapkan— dengan cara lebih akurat dan terpercaya, karena memiliki bukti dan bukan sekadar reportase ala “jurnalisme katanya”.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry