Melihat Carrie Bradshaw dalam serial Sex and the City melenggang dengan percaya diri di tengah padatnya kota New York, dengan sepatu Manolo Blahnik-nya, seolah menjadi simbol independensi seorang perempuan yang ditopang sepasang sepatu high heels.

Bahkan pernah ada quote dari aktris Marilyn Monroe tentang sepatu perempuan, ia bilang, “Give a girl the right shoes, and she can conquer the world.”

Hubungan perempuan dengan sepatu inilah yang diungkapkan Ika Noorharini lewat bukunya, Fenomenologi Wanita Ber-High Heels, yang disarikan dari tesis S2-nya. Buku ini menjabarkan hubungan istimewa di antara perempuan dengan sepatu high heels-nya. Hasil riset dijabarkan dengan gaya penulisan yang enteng dan mudah dipahami awam.

Lewat kajiannya, high heels diungkapkan bukan sekadar makna dan benda konkret yang bisa bikin wanita mendapatkan kepercayaan diri yang kemudian mampu membius siapapun di sekitarnya. Keragaman makna high heels bagi wanita ini, lebih jauh lagi, membentuk konsep diri pada masing-masing diri wanita yang berbeda, secara diametral.

Dalam buku ini Ika mewawancarai 15 wanita yang menonjol di bidangnya masing-masing, sebagai narasumber, yang kemudian ia analisis melalui patterned discourse analysis dengan menggunakan teori tindakan sosial, interaksional simbolik, dan fenomenologi.

Melalui 112 halaman pada buku ini, ia berhasil mengungkapkan intisari hubungan antara wanita pekerja dengan sepatu high heels-nya. Pengulasan dibagi ke dalam 7 bab, dan tidak saja menggambarkan keterkaitan dua hal tadi, tapi juga menceritakan secara apik soal sejarah high heels.

Mulai dari jaman Mesir Kuno, atau sekitar 3500 SM, dan pada era Yunani Kuno, sebelum 800 SM. Hingga dikenal cikal bakal high heels Chopines yang berasal dari Venesia (The Chopines, hal. 20-40). “High heels yang dikenakan wanita adalah apa yang ingin mereka sampaikan pada dunia.” Begitu bunyi salah satu kalimat dalam buku (hal. 43).

Ika Noorharini dalam salah satu acara perkenalan buku Fenomenologi Wanita Ber-high Heels. (Sumber foto: tribunnews.com)

Ika mampu menyeleksi secara cermat terkait ungkapan dari 15 wanita yang menjadi narasumbernya. Pengalaman proses interaksi dengan high heels yang mereka kenakan, motif, makna, status diri, sampai perilaku yang terpengaruh dari gaya hidup itu.

Penulis menuangkan motif-motif itu ke dalam 7 (tujuh) kategori, yaitu: magnet, topeng, semampai, garis batas, manik-manik, arusan, dan acungan jempol.

Sepatu high heels bagi wanita pekerja bukan hanya pelengkap busana yang dikenakan. Dengan sepatu itu, mereka seperti merasa diperkuat mantra khusus yang memberi kontribusi pada proses pemaknaan diri mereka.

Buku ini layak dibaca oleh siapapun yang tertarik menyelami hubungan istimewa tersebut.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry