Banyak orang berpikir, menulis berita itu mudah. Paling gampang, kita bisa mengandalkan rumus 5W1H, jadi lah berita.

Tapi, bagaimana kalau bertemu lembaran data dan statistik, yang sebetulnya menyimpan cerita penting?

Hari pertama kerja, saya mendapatkan tugas meramu satu bundel catatan utang negara satu kuartal untuk jadi berita. Jelas, kemari saya kikuk. Tak seluwes ketika menulis berita biasanya.

Berita ekonomi kental dengan angka dan data. Tapi, pembaca bisa mengerutkan dahi kalau angka terus yang muncul di tiap gugus kalimatnya.

Padahal kami (pewarta atau penulis ekonomi) paham betul angka itu penting untuk diceritakan. Terlebih lagi kalau dampak dari cerita itu signifikan untuk masyarakat luas.

Maka, tugas utama kami adalah: menyederhanakan data untuk disampaikan pada khalayak.

Mengutip ucapan jurnalis Metta Dharmasaputra, penulis buku Saksi Kunci, “Wartawan bukan seorang ahli.” Meski begitu, wartawan tetap harus paham persoalan yang mau diceritakan. Tak jarang, kami harus menganalisa dan menghitung sendiri data yang sudah ada.

Tetapi, sekali lagi perlu ditegaskan, kalau wartawan adalah seorang komunikator, bukan ahlinya.

Wartawan ekonomi misalnya, memang perlu bersahabat dengan data dan tak boleh lari dari kerumitan. Kalau kebanyakan pewarta mengandalkan pernyataan narasumber, pewarta ekonomi bersandar pada data dan fakta.

Bagaimana mendapatkannya? Bisa lewat media sosial, laporan auditor seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), dan sejenisnya. Juga laporan perusahaan dan pemerintah, atau juga hasil penelitian.

Lalu, bagaimana jurnalis ekonomi (seperti saya) menyederhanakan persoalan? Berikut uraiannya:

  • Kronologi peristiwa. Mengurai hal atau kejadian dan mencari sumber kejanggalan atau pihak yang bertanggung jawab.
skema defisit anggaran berita ekonomi

Contoh skema defisit anggaran yang sering saya buat untuk mengurai dan memahami persoalan.

  • Agar lebih mudah, buat juga skema persoalan atau kasusnya.
contoh skema kasus berita ekonomi

Contoh skema kasus.

  • Gambarkan struktur kepemilikan dan kepemimpinan perusahaan, bila kasus itu menyangkut perusahaan.
  • Cari sampel atau data yang solid untuk mewakili gambaran kasus secara utuh. Data tersebut bisa memperkuat bukti kasus yang diceritakan.

Tahap berikutnya, bagaimana cara menuliskannya?

  • Wartawan mesti memahami hal yang akan dijelaskan. Jangan gengsi, karena bisa bikin kita enggan mengakui kalau kita kurang paham persoalan. Apalagi, kalau dalam konteks ekonomi, ceritanya bisa beragam. Mulai dari urusan pajak, anggaran negara, kinerja perusahaan, atau instrumen keuangan. Padahal, wartawan bukan ahli yang tahu semuanya.
  • Menyegarkan ingatan pembaca tentang konsep permasalahan dalam bangunan cerita.
    Arahkan pusat cerita lebih banyak pada orang atau subjek, sedikit saja pada bagian statistik.
    Cari dan gali bagian dari isu yang memiliki sisi kehidupan (human interest).

Seperti sempat dijelaskan di atas, pembaca bisa mabuk angka kalau informasi numerik atau berbentuk bilangan tidak disiasati. Berikut ini jurus menulis berita berbasis data angka:

  1. Jangan berkawan dengan jargon. Di bidang ekonomi sering dijumpai jargon seperti front loading yang artinya penarikan utang sebelum tahun anggaran berikutnya.
  2. Definisikan istilah khusus agar mudah dipahami pembaca.
  3. Gunakan statistik secara selektif. Tak perlu semuanya muncul.
  4. Gali unsur manusia atau kehidupan (human interest) dalam cerita untuk berita.
  5. Jangan terpaku pada pernyataan atau statement.
  6. Kail gagasan baru dari cerita.
  7. Narasikan angka dengan kata seperti separuh, anjlok, dasawarsa, dan sebagainya.
  8. Cari perbandingan untuk menegaskan besaran angka. Contoh: “Kerugian akibat kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan mencapai Rp221 triliun, atau dua kali lipat biaya rekonstruksi Aceh paska tsunami.”

Untuk mengukuhkan bobot berita yang kita bikin, ada satu pertanyaan editor yang selalu saya ingat saat menulis berita, “So what?”.

Kenapa pembaca harus membaca berita itu?

Pertanyaan ini sama dengan mempertanyakan nilai berita (news value), dan meski terdengar sederhana tapi sangat penting. Sekaligus alasan kenapa wartawan dalam bidang apapun harus tahu betul persoalan yang disampaikan, hingga bisa menentukan nilai berita yang penting untuk pembacanya.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry