Kalau cuma definisi, rasanya tidak perlu puyeng memahami apa itu berita, karena pengertiannya simpel: kabar atau pemberitahuan.

Misal saja, informasi kalau ujian tengah semester ditunda, ada kedai kopi baru buka di dekat kampus, atau tweet tentang hujan deras di daerah Senayan; semua bisa disebut sebagai contoh berita.

Tapi, dalam dunia jurnalistik profesional, berita tak jadi sederhana lagi. Perintilannya banyak, mulai dari jenis, konsep, sampai nilai.

Yang jelas, berita di media massa mesti:

  • Aktual;
  • Berdasarkan fakta;
  • Dan menarik perhatian pembaca, pemirsa, atau pendengar si perusahaan media.

Banyak cerita kalau tiap perusahaan media punya cara masing-masing untuk menentukan standar berita dan melatih wartawannya supaya memenuhi standar itu. Tidak bisa asal.

Kalau sembarangan, bisa-bisa kabar yang kita laporkan tak dianggap berita yang layak terbit oleh redaktur.

Maka itu, kalau kita tertarik atau ingin menggeluti jurnalistik secara profesional, coba yuk kita intip sedikit urusan berita ini berdasarkan kelompok, tema, dan kategori sifatnya.

 

Kelompok berita

Umumnya berita dibagi jadi dua kelompok: “berita keras” (hard news) dan “berita lunak” (soft news).

Kelompok Berita

Hard news merupakan kabar tentang hal atau peristiwa yang penting diketahui atau menyangkut kepentingan banyak orang. Contohnya, soal kebakaran, bencana alam, atau korupsi.

Sementara soft news tentang ketertarikan kita pada berbagai hal dalam keseharian sebagai manusia. Misal, tentang profil atau cerita orang lain, tips berpakaian, atau wisata kuliner.

Tema materi berita

Tiap dari kelompok berita di atas bisa diurai lagi ke dalam beberapa tema materi isi yang cocok dan ingin ditampilkan. Misal, politik, ekonomi, olahraga, sains, teknologi, fashion, atau hiburan.

Politik tidak harus masuk hard news, begitu pun dengan hiburan yang tak selalu berarti soft news. Tergantung ide dan tujuan medianya.

Kalau dimasukkan ke dalam gambar menjadi seperti ini:

Materi Berita

Sifat berita

Lalu tiap materi yang sudah ditentukan bisa dibelah lagi berdasarkan sifatnya: terduga dan tidak terduga.

Maksud terduga, topik beritanya bisa diketahui sebelumnya, seperti pemilu atau hari raya. Dan tidak terduga ya topiknya mendadak ada, seperti pembajakan pesawat atau ancaman bom.

Mengenali sifat berita ini bisa membantu kita juga dalam perencanaan berita.

Misal, kita jadi bisa merencanakan sudut pandang berita dari topik terduga jauh hari sebelumnya. Hal ini bisa bikin laporan berita lebih matang, atau bahkan unik karena punya waktu untuk memikirkannya secara kreatif.

Sama juga dengan topik yang tidak terduga, kita bisa melakukan persiapan seperti memasang perhatian ekstra pada hal atau pihak yang berpotensi terkait dengan peristiwa tak terduga yang ingin dilaporkan media kita, agar tidak ketinggalan kabar terbaru.

Contohnya, nongkrong di kantor polisi setempat untuk berjaga-jaga kalau saja ada peristiwa kriminal yang bisa dijadikan berita.

Kalau kita tempatkan dalam gambaran kita tadi, kira-kira jadi begini:

Sifat Berita

Dengan mengurai berita seperti ini, kita sudah satu langkah lebih dalam menyelami penyajian berita di media massa.

Oh iya! Pada tiap kelompok, tema, dan sifat dalam pengelompokkan berita ini tidak semua wajib ada dalam sebuah media. Misal, bisa hanya mengambil soft news tentang hiburan dari kabar yang terduga saja.


Kesimpulan:

  • Dalam dunia jurnalistik profesional pengertian berita tidak simpel lagi. Harus ada unsur-unsur seperti aktual, berdasarkan fakta, dan menarik pembaca, pemirsa, atau pendengar si perusahaan media.
  • Sebagai awalan memahami penyajian berita di media massa, kita bisa melihatnya dari sisi kelompok, tema, dan sifatnya.
  • Kategori berita bisa pula jadi dasar perencanaan konten pada media; dan tentu bisa disesuaikan dengan ide atau kebijakan medianya.
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry