Format konten itu apa sih? Gampangnya, format konten adalah kemasan penyajian cerita atau informasi pada saluran media yang kamu pilih.

Misalnya, pada media seperti newsletter berisi 4-5 konten, biasanya kemasan yang cocok adalah teks, seperti artikel. Atau jika kamu mengelola akun Instagram, tentu format foto atau ilustrasi lebih pas.

Menariknya lagi, format konten ini juga berfungsi memicu reaksi berbeda dari audiens yang disasar. Menurut ulasan di Main Path Marketing, format konten berbeda bisa membuat otak kita merespon dengan cara yang berbeda pula.

Maka itu, format konten bisa juga ditentukan dari respon yang kamu harapkan dari audiens yang disasar. Apa saja format konten jika dilihat dari fungsinya, berdasarkan reaksi yang diharapkan dari audiens?

Format konten untuk membangun relasi

Konten dengan format teks secara berkala biasanya cocok jadi pilihan utama untuk kebutuhan ini. Bisa berupa posting-an di blog, e-book, atau studi kasus yang ditulis secara naratif.

Kalau disampaikan dengan tepat, format ini diyakini bisa mempengaruhi audiens secara bertahap. Sehingga relatif ampuh untuk menjaga kepercayaan dan reputasi si penyampai pesan.

Format konten untuk dipahami secara cepat

Untuk jenis yang biasanya membutuhkan respon cepat ini, materi visual, seperti konten grafis kerap jadi pilihan. Entah itu grafis yang dipadukan dengan teks, infografis, atau bahkan komik, konten ini relatif lebih mudah dan cepat dicerna audiens. Apalagi jika audiens yang disasar diketahui malas membaca dan cenderung mengonsumsi konten dengan cepat.

Kembali merujuk ke Main Path Marketing, disampaikan kalau konten visual membuat kita lebih cepat memahami isinya; juga lebih memungkinkan kita mengingat isinya lebih lama ketimbang setelah membaca konten teks.

Tertulis juga kalau bagian otak kita yang didesain untuk menerima input visual bisa sampai 50%, dari seluruh bagian otak. Lebih detail lagi, konon kita hanya perlu 1/10 detik untuk memahami tampilan visual yang kita lihat.

Format konten semacam ini, selain cepat dikonsumsi juga cocok untuk mempresentasikan gagasan atau data yang kompleks, membuat pesan lebih menarik, dan juga mudah diingat.

Format konten yang menarik partisipasi audiens

Untuk lebih dalam lagi, kita bisa mencoba format konten interaktif seperti kuis atau infografis interaktif.

Bedanya dengan konten grafis di atas, pada format ini lebih banyak bagian otak yang dipicu, karena isinya tidak hanya teks, tapi juga grafis, yang dibaur dalam alur cerita yang memancing partisipasi audiens.

Berikut contoh infografis interaktif:

contoh infografis interaktif

Saat mengonsumsi tipe konten semacam ini, audiens cenderung memposisikan diri sebagai bagian dari konten. Tak heran kalau jenis ini disukai karena fun untuk diikuti; dan kalau bagus banget, bisa menghasilkan jumlah sebaran tinggi di media sosial.

Format konten yang memicu reaksi emosional

Lalu, ada konten video, yang pas buat memicu respon emosional dari audiens. Beberapa di antaranya, seperti company profile, tutorial, atau webminar. Diperkirakan, otak kita mampu memproses pesan video sampai setidaknya 60.000 kali lebih cepat ketimbang mencerna konten teks yang padat.


Itulah beberapa format konten berdasarkan fungsinya untuk menarik reaksi tertentu dari pengguna. Nah, bagaimana dengan kamu? Apa reaksi yang diharapkan dari audiens? Dan apakah format konten kamu sudah sesuai?

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry