Gaya komunikasi Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama yang meledak-ledak sampai kerap mengundang kontroversi, menarik untuk diamati dan dibahas.

Hingga kini, berbagai istilah dilontarkan untuk menilai sosok yang lebih akrab dipanggil Ahok ini. Banyak kalangan menilai, Ahok terlalu sarkastis, tidak sopan, arogan, dan berbagai istilah lain yang memiliki konotasi negatif.

Komentar dan kritik keras soal gaya komunikasi Ahok ini memang menimbulkan polemik tersendiri.

Menurut peneliti komunikasi politik LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) Firman Nur menilai, komunikasi politik yang ditampilkan Ahok tidak ideal dengan kondisi masyarakat dalam sistem demokrasi.

Gaya komunikasi politik pada negara yang tidak menerapkan asas demokrasi lah yang biasanya meletup-letup keras dan semaunya; hingga gaya Ahok jadi tidak sesuai dengan attitude politik yang berjalan di Indonesia.

Komunikasi politik lelaki berkacamata itu juga dianggap sering menghasilkan blunder. Seperti pernyataan kontroversial saat ia mengatakan, “Awas kalau saya menjadi gubernur!” Komentar ini dinilai banyak kalangan, kontra produktif.

Atau istilah kontroversial “di-Prijanto-kan” yang sempat terlontar terkait perbincangan tentang calon wakil gubernur untuk dirinya; yang sebetulnya tidak pantas lah diucapkan seorang pemimpin ibukota. Belum lagi perdebatan sengit dengan beberapa anggota DPRD DKI Jakarta.

ahok basuki tjahaja purnama

Salah satu ekspresi Ahok saat marah di dalam rapat pemerintah.

Selain komentar ahli, berdasarkan hasil survei Periskop Data tentang kinerja pemimpin DKI Jakarta, 46,6 persen responden menyatakan gaya bicara pejabat kelahiran Manggar, Belitung Timur itu tidak baik.

Dalam survei yang sama, 70,4 persen responden menganggap Ahok tidak santun sebagai kepala daerah. Bahkan 77 persen responden ingin Ahok memperbaiki cara ia berkomunikasi.

Lewat survei ini terlihat, kalau gaya komunikasi lulusan Fakultas Teknik Universitas Trisakti itu kurang disukai; meski sebagian dari responden juga menganggap gaya bicaranya sah saja, karena mencerminkan ketegasan.

Karena di sisi lain kita bisa juga menilai gaya komunikasi lelaki yang pertama terjun ke politik pada 2004 lewat Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PIB) itu punya daya dobrak kuat untuk melawan arus birokrasi yang dikenal alot.

Pendapat yang beredar luas, sistem birokrasi dan jajaran pejabat Pemda DKI tergolong rusak dan tidak berjalan efisien; mulai dari level kepala dinas, sampai ketua RT. Salah satu pujian atas peran Ahok adalah, ia dianggap berhasil secara bertahap membereskan isu itu.

Dalam survei Periskop Data tadi, 48,2 persen responden merasa puas dengan kinerjanya sebagai pemimpin Pemda DKI Jakarta.

Bahkan seniman musik Eka Gustiwana sempat bikin video lagu dengan teknik penyuntingan yang disebut speech composing tentang Ahok, bertema antikorupsi dan berjudul Sikat Habis. Berikut videonya yang ditayangkan di YouTube:

Kembali pada cara berkomunikasinya, dari sudut pandang teori, ada tiga pola perilaku komunikasi (dikutip dari buku Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi yang disusun Prof. Onong Uchjana Effendy M.A.): komunikasi asertif, pasif, dan agresif.

Ringkasnya, asertif merupakan perilaku komunikasi yang tenang, santun, intonasi sedang; sementara pasif lebih tertutup, menghindari konfrontasi, dengan suara cenderung pelan; dan komunikasi agresif adalah perilaku dominan, memiliki kecenderungan (ingin) menyerang sesuatu yang dipandang mengecewakan atau menghambat, dengan nada dan suara keras.

Orang dengan gaya semacam ini juga cenderung menekan dan bukan tipe pendengar yang baik. Pernyataannya bisa bikin kuping pendengarnya merah, dan berpotensi menghilangkan kesabaran akibat tersinggung.

Tiap pemimpin memang memiliki gaya komunikasi yang khas. Lihat saja Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, atau Walikota Bandung, Ridwan Kamil misalnya. Mereka punya gaya dan media komunikasi masing-masing, yang cocok dengan karakteristik mereka. Jadi gaya berkomunikasi dalam politik itu memang modal penting yang tak bisa dianggap remeh.

Risma misalnya, memiliki kemampuan membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat, seperti anggota DPRD, sampai para wartawan. Kita bisa amati dari beberapa persoalan di Surabaya yang bisa dibilang selesai dengan baik; seperti rusaknya Taman Bungkul saat Wall’s Ice Cream Day, sampai penutupan lokalisasi Dolly.

Beda lagi dengan Ridwan Kamil. Ia seorang kepala daerah yang juga aktif di media sosial. Tak sekadar aktif, tapi juga terbilang ahli memanfaatkannya untuk berkomunikasi terkait peran dan pekerjaannya. Ia mengoptimalkan saluran seperti Twitter, Facebook, sampai Instagram untuk mengatur anak buah, hingga sekadar menyapa warga Bandung.

instagram ridwan kamil

Laman profil akun Instagram Ridwan Kamil: ridwankamil

Dianna Booher dalam buku What More Can I Say? — Why Communication Fails and What To Do About It (2015) mengatakan, komunikasi yang dilakukan pemimpin pada bawahannya bertujuan untuk menggerakkan perubahan; mengubah cara pandang dan pemikiran lingkungan organisasinya.

Kembali ke Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, gaya komunikasinya bisa jadi memang bentuk totalitas memimpin ibukota.

Namun, sebagai pemimpin, mungkin Ahok perlu juga mempertimbangkan cara berbicara santun untuk membangun hubungan harmonis secara internal dan eksternal dengan persona atau lembaga lain, untuk menekankan kesan merangkul dan mengayomi warga.

Semoga.


 

Survei Periskop Data dilakukan pada 1 sampai 7 Juni 2015 di 6 Kabupaten/Kota di Jakarta, dengan 500 responden yang diambil acak dengn syarat berusia 17 tahun atau lebih atau sudah menikah. Survei dilakukan dengan cara wawancara tatap muka; dengan klaim margin of error sekitar 4,4 persen.

Sumber foto: temanahok.com, lensaindonesia.com,

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry