Siapa sangka, konten digital dengan format podcast justru makin berkembang saat ini. Hal itu terbukti dari makin banyaknya wartawan atau outlet media yang mengoptimalkan medium tersebut untuk menjangkau audiennya.

Podcast sendiri merupakan format konten digital yang biasanya episodik dan menyajikan audio (bisa juga video atau bahkan teks), dan lazim dikonsumsi dengan cara berlangganan atau mendengarnya langsung secara online (streaming).

Kalau kamu pengguna perangkat dengan sistem operasi iOS, bisa mengunduh aplikasi Podcasts untuk menikmatinya. Sementara pengguna Android bisa menjajal Pocket Casts, Podcast Addict, atau Doggcatcher.

Ada banyak penyedia konten podcast, yang bisa dipilih sesuai minat. Tapi kalau kamu suka konten bertema cinta, ada program dari Amerika Serikat yang kini sedang mencuri perhatian karena dinilai inovatif akibat menerjemahkan konten teks menjadi konten audio lewat program kolaborasi. Namanya: Modern Love.

Program ini disiarkan stasiun radio publik WBUR milik Boston University, Massachusetts, Amerika Serikat; berkolaborasi dengan salah satu raksasa media, The New York Times. Konon program langsung mencuri perhatian publik, bahkan sempat bercokol di posisi puncak program podcast terpopuler di AS.

Selama lebih dari sebelas tahun, The New York Times (atau biasanya diringkas jadi The Times) telah menerbitkan lebih dari 600 esai dengan bingkai tema Modern Love; tentang suka cita dan kesengsaraan cinta yang dikirim oleh para pembacanya.

Materi itulah yang kemudian diterjemahkan secara memikat ke dalam format podcast. Mengutip dari produser Modern Love, Jessica Alpert, “Program ini adalah film untuk telinga Anda.”

Ide program ini sendiri sebetulnya sudah ada sejak dua tahun silam, lewat sesi brainstorming di forum yang disebut WBUR’s Innovation Hub. Hasil diskusi itu baru mendapat persetujuan untuk diproduksi September 2015 lalu, sekaligus melibatkan langsung editor esai Modern Love di The Times, Daniel Jones.

Pemilihan materi esai

Konsep awalnya sederhana: salah satu esai dibacakan dengan iringan musik dan suara suasana (seperti suara hujan, angin, dsb.). Namun proses kreatifnya makin serius saat pembacaan betul-betul diarahkan agar memiliki intonasi yang tepat, dan menggugah emosi.

Selain itu, pemilihan esai yang tepat untuk dijadikan materi juga kunci utama. Hal yang dianggap tim produksi paling menantang, karena sesuatu yang indah di atas kertas, belum tentu sama nilai artistiknya saat disampaikan dalam bentuk audio.

Karena itu, Jessica Alpert si produser dan tim menentukan kategori esai yang cocok untuk diterjemahkan menjadi audio. Detail kategorinya adalah esai yang memiliki elemen spesifik seperti komponen yang bisa dijadikan suara (seperti suasana), ada adegan, dialog, dan disajikan secara deskriptif.

Materi esai yang mengarah atau dominan pada refleksi, atau bicara dalam hati dianggap tidak cocok untuk dikembangkan ke dalam format audio.

Seleksi pembaca esai

Unsur lain yang juga penting dalam produksi podcast Modern Love adalah siapa pembaca esainya. “Tidak mudah membuat orang betah mendengarkan konten sampai 15 menit,” ujar Alpert. Maka itu Modern Love kerap melibatkan selebriti seperti Dakota Fanning, Judd Apatow, dan Jason Alexander, sebagai pembaca esai.

Hasilnya? Program Modern Love berhasil menjaring audien dan mendapatkan jumlah pengunduh juga pelanggan yang besar pada hari-hari pertama rilis. Hal itu terjadi juga berkat dukungan strategi dan program promosi yang mumpuni lewat media sosial seperti Facebook dan Twitter, bahkan pemasangan iklan.

Cerita tentang program Modern Love ini bisa bikin kita belajar tentang banyak hal terkait inovasi dan proses kreatif produksi konten yang menyeluruh. Hal ini penting, karena format podcast merupakan salah satu alternatif medium yang bisa dioptimalkan dan memiliki segmen peminat khusus yang menarik untuk digali.

Kalau kembali mengutip si produser Modern Love Jessica Alpert, “Dengan pertumbuhan dan makin berkembangnya akses terhadap format ini, maka saat ini pula merupakan saat yang tepat untuk para kreator konten atau jurnalis bereksperimen atau mengoptimalkan konten audio,” tandasnya.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry