Memberdayakan prinsip atau pendekatan psikologi ke dalam kegiatan komunikasi, sebetulnya bukan hal khusus; karena sadar atau tidak, mungkin kita sudah melakukannya.

Karena, kegiatan komunikasi pada umumnya, dan apapun bentuknya, memiliki satu tujuan dasar: mengubah perilaku audiens.

Namun, memahami lebih dalam tentang perilaku manusia dari sudut pandang psikologi, bisa bikin perencanaan komunikasi yang kita rancang atau jalankan lebih mantap hasilnya; dan tak kalah penting, lebih mudah dipantau efektivitas dan efisiensinya.

Mari kita coba bahas beberapa prinsip psikologi (yang juga merupakan pondasi ilmu komunikasi) yang mungkin bisa digali untuk membuat kegiatan atau program komunikasi kita lebih baik lagi.

psikologi komunikasi

Imbalan

Imbalan merupakan prinsip interaksi tentang aksi positif yang muncul sebagai respon atas aksi positif lainnya. Katakanlah si A bersikap baik pada si B, maka berdasarkan prinsip ini, si B akan bersikap baik juga pada si A.

Terkait kegiatan atau program komunikasi, kita bisa mengoptimalkan konsep ini dengan cara menyiapkan ‘hadiah’ untuk sasaran komunikasi, jika ia melakukan sesuatu yang kita inginkan. Imbalan ini akan makin meningkat nilainya, jika berupa sesuatu yang bermanfaat untuk penerimanya; dan akhirnya mendorong tingginya kepercayaan sasaran komunikasi pada kita.

Contoh: Kita ingin meminta sekelompok orang untuk mengisi survei tentang penggunaan media sosial. Jika mereka bersedia, maka tiap orang pada kelompok itu akan mendapatkan buku tentang tips berbisnis di media sosial.

Information Gap Theory

Dalam dunia psikologi, konsep ini mengacu pada tingginya tingkat keingintahuan seseorang saat ada celah dalam pengetahuannya tentang sesuatu. Menurut teori yang dikembangkan George Loewenstein sekitar awal 1990-an ini, manusia cenderung terpacu untuk giat mencari sesuatu yang mereka ingin ketahui.

Konsep ini mungkin termasuk yang paling sering diterapkan dalam strategi kegiatan atau program komunikasi. Bahasa kerennya: bikin penasaran.

Dalam periklanan, rasanya sudah lazim model yang membuat orang penasaran dulu tentang pesan selanjutnya dari rangkaian materi iklan.

Pada pemberitaan, penerapan konsep ini biasanya ditekankan pada judul yang memikat dan membuat orang yang melihatnya tertarik ingin mengetahui lebih dalam isinya; dan akhirnya melakukan klik atau membaca artikel lengkapnya.

Pengaruh Sosial

Konsep ini biasa juga dikenal sebagai social proof, yang dalam studi psikologi merupakan pengamatan perilaku seseorang yang cenderung memilih sesuatu yang sudah banyak disukai, digunakan, atau direkomendasikan kebanyakan orang.

Kesimpulan sederhana dari prinsip ini adalah:

Kita mengikuti aksi dari kebanyakan orang lain karena kita tidak yakin dengan diri sendiri, dan percaya bahwa kebanyakan orang punya pengetahuan yang lebih baik ketimbang kita secara individual.

Dalam kegiatan komunikasi, konsep ini lumrah diterapkan dengan cara distribusi dan pemasaran pesan secara merata, agar menjangkau dan menyerap audiens sebanyak mungkin; hingga meningkatkan rasio partisipasi di antara kelompok audiens itu, dan akhirnya secara bertahap membangun pengaruh sosial.

Fear of Missing Out (FOMO)

Gampangnya, konsep ini berarti: manusia punya kecenderungan lebih menghargai sesuatu yang langka atau sulit ditemukan.

Hal itu kemudian memunculkan kekhawatiran kalau mereka tidak bisa mendapatkannya; bisa karena keterbatasan waktu atau jumlah, hingga secara psikologis mereka keinginan mereka mendapatkannya lebih besar.

Dalam pesan atau media komunikasi, hal ini seringkali diterapkan lewat kalimat seperti: “Cepat! Persediaan terbatas!”, atau “Pendaftaran gratis hanya sampai pukul 17.00 WIB.”

Loss Aversion

Konsep ini juga populer dalam bidang ekonomi juga pada teori tentang kepemimpinan dan pengambilan keputusan. Pengertiannya: Seseorang cenderung lebih menghindari kekalahan, kejatuhan, atau kehilangan, ketimbang memperoleh keuntungan.

Kunci dari penerapan prinsip ini adalah mengetahui secara detail tentang profil sasaran program komunikasi kita. Sehingga kita bisa memetakan kekhawatiran atau hal yang mereka takutkan.

Contohnya, ketimbang menerbitkan artikel berjudul “Cara mengembangan bisnis online”, judul “Cara menghindari kerugian dalam berbisnis online” mungkin lebih menarik untuk sasaran komunikasi; menurut konsep ini.

Paradox of Choice

Prinsip ini menyimpulkan kalau manusia cenderung tidak menyukai keadaan saat mereka memiliki banyak pilihan.

Perkiraannya karena kebanyakan orang cenderung mengalami kesulitan saat harus mengambil keputusan atas pilihan. Dan keadaan ini makin buruk jika terlalu banyak pilihan yang tersaji.

Maka dalam penerapannya pada kegiatan atau program komunikasi, kita perlu mengupayakan agar tidak melempar pesan atau pokok pikiran yang terlalu banyak, hingga membuat sasaran bingung; bagian mana yang paling penting?

Rangkai pesan secara cermat, dengan satu sampai maksimal dua pokok pikiran. Ungkapkan dengan terang dan lugas, jangan lemparkan terlalu banyak informasi.

Pernah ada pengalaman terkait konsep ini dalam sesi belajar menulis yang pernah saya alami. Saat itu, salah satu mentor saya soal penulisan mendekati mangkuk yang dipenuhi apel. Ia mengambil satu buah apel dan melemparkannya, hingga saya pun refleks menangkapnya.

Ia lalu mengambil satu buah lagi dan melemparkannya. Saya menangkapnya lagi dengan tangkas.

Setelahnya ia terus mengambil sebuah apel dan melemparkannya pada saya, sampai kemudian saya kewalahan, menjatuhkan semua apel yang sudah saya pegang, dan akhirnya menghindari lemparannya.

Lalu ia berujar, “Begitulah menulis. Lemparkan satu sampai dua pokok pikiran saja, agar pembaca mudah menangkapnya.”

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry