Salah satu urusan yang mesti dihadapi pengelola media saat ini adalah distributed content; yang kurang lebih artinya: alih-alih hanya fokus menerbitkan konten di channel sendiri, pengelola media juga mengoptimalkan channel lain di luar kontrol mereka, untuk jadi saluran utama penerbitan konten.

Atau bukan hanya menyebarkan judul dan tautan, tapi memuat konten secara utuh lewat channel distribusi yang digunakan, misal media sosial (Twitter, Facebook, YouTube, atau Instagram).

Dipopulerkan oleh BuzzFeed

Terkait hal ini, pada sekitar Agustus 2014, situs media BuzzFeed mengumumkan pendanaan 50 juta dolar AS yang mereka terima dari venture capital.

Pada saat itu juga, industri media diperkenalkan dengan frasa baru: distributed content; karena BuzzFeed menyatakan akan menggunakan sebagian investasi itu untuk membentuk divisi baru bernama BuzzFeed Distributed.

Divisi yang diisi sekitar 20 staf itu akan memproduksi konten khusus untuk berbagai platform di luar BuzzFeed seperti Tumblr, Imgur, Instagram, Snapchat, Vine, dan bahkan aplikasi messaging. Kegiatan itulah yang mereka sebut distributed content.

Yang artinya juga, semua konten yang diproduksi divisi itu bukan untuk website BuzzFeed.com dan tidak akan di-repost untuk terbit di situs induk tersebut.

distributed content buzzfeed

Penampakan konten khusus di akun Vine dan Instagram BuzzFeed.

Berkegiatan di platform jejaring sosial tentu bukan hal baru untuk kebanyakan pengelola media (publisher). Kebanyakan situs yang kita ketahui sudah eksis di Twitter dan Facebook, dan memanfaatkannya sebagai alat untuk menarik arus pengunjung ke situs utama.

Tapi terkait cerita tentang BuzzFeed tadi, bayangkan saja, distributed content bisa berarti 20 staf redaksi Kompas misalnya, membuat konten untuk diterbitkan di Detik. Logika yang mungkin tidak masuk akal untuk kebanyakan pengelola media saat ini.

Analogi itu mungkin tidak akan pernah terjadi. Namun cukup untuk menerangkan poin utama distributed content yang tidak memandang unit media sebagai pengelola medium, melainkan pengelola konten.

Hasil yang ingin dicapai dari model ini adalah perluasan raihan pembaca atau konsumen; dengan pemahaman kalau orang-orang akan lebih nyaman mengonsumsi konten di tempat mereka biasa berada atau berjejaring dengan teman-temannya.

Fokus pengelola media soal distributed content bukan lagi pada bagaimana cara mereka mengunjungi situs kita, tapi memikirkan tentang konten yang menarik minat audiens, dan bikin mereka mau menyebarkannya, terlepas dari apapun platform-nya.

Lagipula, urusan berapa banyak yang melihat saja sudah bisa diketahui di berbagai platform sosial; sebut saja Facebook Insights pada Facebook Page, atau Twitter Analytics di Twitter.

Lalu urusan penghasilan, model iklan kini bisa digali lebih kreatif lagi, lewat konten berbayar (sponsored content atau native advertising), pengembangan komunitas, atau event; yang memang lebih efisien ketimbang sekadar banner placement.

Mengembangkan konten di channel lain

Potensi mengembangkan konten dengan cara lintas platfrom ini sebetulnya bisa diamati dari pertumbuhan influencer di berbagai saluran media sosial.

Pengguna perorangan yang sebelumnya tidak memiliki atau terlibat dalam unit media massa bisa jadi besar karena mengoptimalkan social media. Bahkan mereka membangun bisnis dari kegiatan menerbitkan konten di media sosial.

Sebabnya, karena batas perhatian kebanyakan orang untuk mengonsumsi media memang terbatas, sementara saluran media makin banyak.

Sehingga saat mereka mendapatkan cukup konten untuk mereka konsumsi dari satu saluran saja, yang juga tempat mereka berhubungan dengan teman-temannya, maka nyaris tak ada alasan untuk berpindah-pindah channel. Di situ lah beberapa orang mengambil peran secara kreatif untuk jadi penyedia konten dan informasi.

Hal itu pun diadaptasi menjadi peluang oleh pengembang media, dan juga pengelola jejaring sosial:

1. Reported.ly

Startup bikinan Pierre Omidyar ini muncul tanpa situs utama untuk menerbitkan konten. Mereka memusatkan kegiatan penerbitkan konten dilakukan di berbagai media sosial (Medium, Twitter, Facebook, Reddit).

“Kami tidak mau menyusahkan orang dengan menarik mereka dari komunitas online favoritnya, hanya untuk kepentingan pageviews,” ujar pemimpin redaksi Reported.ly, Andy Carvin.

2. Snapchat

Aplikasi chat yang populer di kalangan muda ini merilis Snapchat Discover pada 2015, yang memberikan ruang khusus pada pengelola media (publisher) untuk berinteraksi dengan pengguna Snapchat.

3. NowThis

Jika Reported.ly muncul tanpa situs utama, NowThis justru mengawali kiprah medianya dengan situs utama. Namun, dalam perjalanannya mereka justru dikenal lewat video pendek yang khusus didesain untuk media sosial.

Lewat program video di media sosial itu mereka meraih pemirsa dalam jumlah fantastis. Hingga mereka pun menutup situsnya. “Semua lebih mudah jika audiens kami menonton video di feed media sosial, ketimbang membawa mereka mengunjungi situs kami,” ujar VP of Social Media NowThis, Ashish Patel.

TGIF! Here’s a baby polar bear discovering snow for the first time! (Reuters/Toronto Zoo)

A video posted by NowThis (@nowthisnews) on

4. Facebook Instant Articles

Pekan lalu jejaring sosial raksasa ini mengumumkan kalau mereka akan membuka akses terhadap fitur Instant Articles yang memungkinkan pengguna Facebook untuk membaca berita dari berbagai sumber langsung dari aplikasi Facebook, pada April mendatang.

Baca selengkapnya tentang fitur Instant Articles di Facebook pada tautan ini.

Meramaikan inovasi distribusi konten, Google mengambil langkah yang justru fokus mempermudah akses pembaca untuk mengonsumsi konten dari website milik pengelola konten (publisher), lewat inisiatif bernama Accelerated Mobile Page (AMP).

Mesin pencari yang diandalkan sebagian besar pengguna internet dunia itu diperkirakan akan segera memastikan AMP bisa dinikmati penggunanya.

Secara umum, fitur ini akan membuat pengguna Google bisa mengakses konten media secara langsung lewat hasil pencariannya. Namun dengan tingkat akses yang lebih cepat dan simpel. Mereka menyebutnya content delivery sytem.

Berbeda dengan Instant Articles pada Facebook, untuk memanfaatkan AMP, publisher tetap perlu memiliki situs sebagai sumbernya.

Lebih serunya lagi, selain bisa diakses lewat mesin pencari Google, AMP juga berlaku di media sosial seperti Twitter, Pinterest, LinkedIn, dan berbagai channel lain di internet.

Begitulah dinamika inovasi penerbitan konten yang terus bergerak di jagat maya, yang selalu menarik untuk disimak dan seperti tak pernah berhenti mengusik kemampuan kita beradaptasi secara kreatif.

Benang merah dari tiap inovasi teknologi media yang berlangsung fokus pada konten; tak hanya untuk konten utama seperti berita atau artikel, tapi juga iklan dan program kehumasan.

Dan jika medium bukan lagi jadi isu terkait urusan meraup audiens, maka pengembangan jangkauan makin tidak ada batasnya. Kita berpotensi menyentuh audiens, di manapun mereka berada.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry