Buat kamu yang memang mempelajari bidang kehumasan, mungkin sudah akrab dengan istilah media relations.

Gampangnya, media relations merupakan salah satu kegiatan dalam dunia kehumasan untuk menjangkau media massa agar menerbitkan pesan humas yang didesain untuk meningkatkan pemahaman publik tentang lembaga, perusahaan, atau pihak tertentu.

Idealnya tanpa mesti bayar, karena kalau bayar sama dengan periklanan. Media relations lebih fokus pada model pengajuan (pitching) agar pesan humas bisa dianggap menarik oleh wartawan atau unit media massa.

Menurut penulis berbagai buku tentang kehumasan Frank Jefkins, ukuran kesuksesan media relations adalah jumlah media yang memuat pesan terkait, dan mampu menjangkau audien yang disasar.

Nah, bicara soal media relations, menurut pembahasan di situs PR Daily, perannya di era sekarang ini potensial untuk jadi makin penting. Bahkan bukan tak mungkin, urusan media relations ini bisa jadi urusan firma khusus yang terpisah dari induknya: kehumasan.

Kenapa? Berikut ulasannya:

Pertama, kini peredaran media cetak makin surut, tak hanya oplah tapi juga nilai bisnis, bahkan jumlah pekerjanya; karena tak sedikit media cetak yang akhirnya menghentikan kegiatannya.

Tapi meski begitu, peran media relations tidak kehilangan peluang, justru makin banyak pihak yang bisa dijangkau oleh kegiatan ini; misal, media daring yang kini makin beragam, blogger, bahkan influencer di media sosial.

Keunikan dari media relations adalah kemampuannya mengemas pesan, berkomunikasi dengan lincah dengan pihak yang bisa dioptimalkan untuk menjangkau audien, kecakapan menulis, dan mengembangkan jaringan.

Semua itu adalah skill vital yang kini dibutuhkan industri komunikasi. Dan jika lembaga atau perusahan tidak memiliki staf internal yang fokus menangani urusan media relations ini, maka menyerahkannya pada firma yang khusus menangani relasi media bisa jadi solusi yang efektif.

Baca juga: 7 Tren kehumasan yang perlu kamu tahu

Kedua adalah makin ramainya aktivitas komunikasi yang terjalin dari kerja sama perusahaan pengelola brand dengan unit media massa.

Seperti Netflix dan The Wall Street Journal misalnya; mereka mengembangkan program konten lewat model native advertising, yang walaupun keren tapi membutuhkan biaya besar. Sementara kemampuan finasial tiap brand berbeda-beda.

Program konten kerja sama Netflix dengan The Wall Street Journal. (Sumber foto: WSJ.com)

Dalam hal ini, ketika native advertising jadi salah satu pilihan masuk akal untuk mengembangkan bisnis di sektor media saat ini, pengelola brand atau perusahaan perlu melirik ke peran media relations.

Karena mestinya mereka memiliki kemampuan untuk mengemas pesan berdasarkan isu atau kebutuhan terkini, melakukan pendekatan pada pengelola media massa, sampai kemudian menempatkan pesannya untuk muncul atau terbit secara organik.

Penerapan strategi yang kemungkinan besar lebih hemat biaya ketimbang memasang iklan berbentuk advertorial.

Alasan ketiga adalah makin tumbuhnya kegiatan content marketing. Karena kalau merujuk pada studi Content Marketing Institute, 90 persen pelaku bisnis mulai memutuskan untuk melakukan aktivasi pemasaran dengan konten sebagai poros utamanya.

Lagi-lagi hal ini bisa dimanfaatkan praktisi media relations yang mestinya cukup kuat memahami soal pengelolaan konten, menempatkan profil sebagai figur berpengaruh (thought-leadership), sampai mengatur distribusi konten yang kini makin canggih.

Jadi bagaimana? Apakah kamu tertarik untuk mulai memusatkan perhatian pada karier di bidang media relations?

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry