Aksi teror di kawasan Sarinah, Thamrin, Jakarta, terjadi sekitar pukul 10.50 WIB, Kamis 14 Januari 2016.

Peristiwa bermula dari ledakan dan kemudian terjadi kontak senjata dengan anggota Polda Metro Jaya. Akhir cerita, 7 orang tewas: 5 orang pelaku, 1 orang warga negara Indonesia, dan 1 warga negara asing.

Negara Islam Irak Suriah (ISIS) mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut; dan seorang bernama Bahrun Naim disebut Polri sebagai perencana aksi teror yang terjadi ini.

Tak sedikit pula yang jadi korban luka berat pun ringan; akibat terkena tembakan, sampai baut dan paku yang konon berpencar dari bom yang meledak.

Begitulah kisah suram di pertengahan Januari yang terurai dalam berbagai berita di media massa; mencekam dan mengerikan, sampai Jakarta pun seperti lumpuh dan pemerintah tampak tidak memiliki kekuatan. Banyak juga masyarakat yang akhirnya menyegerakan pulang ketimbang tetap bekerja seperti biasa di luar rumah.

Keuntungan yang diperoleh kelompok pelaku teror adalah pekerjaan mereka tidak sepenuhnya sia-sia. Bisa dibilang juga berhasil, bahkan berani menyatakan diri bertanggung jawab atas peristiwa tersebut (jika pengakuan yang diberikan benar).

Tim dari kepolisian saat menangani aksi teror yang terjadi di kawasan Sarinah, Jakarta, Kamis (14/1/2016). (Sumber foto: Reuters/Darren Whiteside)

Bahkan ada keterangan media menghembuskan, kalau sedang ada kompetisi perebutan kepemimpinan di organisasi yang mengaku bertanggung jawab; hingga target yang tadinya hanya di wilayah Timur Tengah pun bergeser ke Asia Tenggara (Malaysia, Filipina, Indonesia).

Isu itu pun dikaitkan dengan kata sandi “konser” sebagai simbol aksi teror di Asia Tenggara yang sudah muncul di berbagai media massa sejak di penghujung tahun lalu.

Ada juga pandangan lain, kalau peristiwa itu bisa jadi juga hanya “main-main” sekelompok anak muda yang baru belajar pada kelompok radikal, yang kemudian menguji kemampuan alias “ngetes ilmu”; kesimpulan ini pun berasal dari media.

Lalu, informasi yang mana baik untuk dikonsumsi masyarakat? Apakah informasi atau berita yang memberikan gambaran sepak terjang aparat saat menumpas aksi teror dengan heroik? —Karena, meski tanpa perlengkapan standar antiteror mereka berani menghadapi berondongan peluru dari para teroris.

Atau informasi dan berita yang menggambarkan kondisi apa adanya?

Baca juga: Blur: Mengais kebenaran di era banjir informasi

Teori Gatekeeping

Peran media dalam isu semacam ini sangat penting. Merujuk pada teori gatekeeping yang menekankan peran krusial dari penjaga gerbang (gatekeepers) —yang adalah eksekutif media— yang bisa membuka atau menutup gerbang pesan-pesan yang disampaikan lewat medianya.

Mereka ini, para gatekeepers, yang menentukan pesan atau isi apa yang dimuat atau ditayangkan di media; pesan mana pula yang tidak perlu diterbitkan. Misal, apakah para produser di divisi pemberitaan pada stasiun televisi memutuskan untuk menayangkan peristiwa tertentu atau tidak?

Tiap media memiliki penjaga gerbang masing-masing. Mereka berfungsi sebagai penjaga gerbang yang menentukan wacana, ide, atau gagasan apa yang ditampilkan.

Dalam pendekatan ini, para jurnalis, produser, atau pengelola media harus bersikap kritis dan cermat dalam menyeleksi dan memilah informasi juga pesan yang mau disampaikan lewat berita. Berita atau pesan yang tidak mendukung pembentukan karakter bangsa yang kuat, bisa diabaikan saja, atau tidak perlu disiarkan sama sekali.

Sebagai gatekeepers informasi, pers selektif memilih berita yang akan dilaporkan, menentukan apa yang perlu dilaporkan, dan bagaimana caranya; karena khalayak akan cenderung terpengaruh dengan berita yang mereka baca, dengar, atau liat.

“Penjaga gerbang” ini juga memiliki kontrol dalam komunikasi massa; hingga cukup krusial juga untuk mengetahui siapa mereka, dan bagaimana mereka berfungsi.

Peran pemain-pemain ini tentu juga dipengaruhi faktor-faktor lain yang berasal dari dalam (internal) pun luar organisasi media terkait (eksternal); yang juga bisa bikin mereka dengan mudahnya memainkan isu, memutar fakta dan kenyataan yang sebetulnya terjadi.

Teori Ekonomi Media

Lain lagi urusannya kalau dilihat dari kacamata teori ekonomi media, yang menyatakan kalau media sebagai institusi politik dan ekonomi punya kekuatan memengaruhi khalayak. Prinsip yang penting diperhatikan di sini adalah dalam perspektif kapitalistis, media massa mesti diberi perhatian memadai sebagaimana institusi produksi dan distribusi lainnya.

Berbagai kondisi yang ditemukan pada level kepemilikan media, praktik pemberitaan, dinamika industri, sampai operasional radio, televisi, film, dan periklanan memiliki hubungan saling menentukan dengan keadaan ekonomi-politik yang berkembang di suatu negara; dan pada gilirannya juga dipengaruhi kondisi ekonomi-politik global.

Untuk memahami bagaimana penerapan pendekatan ekonomi-politik dalam studi media massa, ada 3 (tiga) konsep awal yang harus dipahami:

1. Commodification

Komodifikasi merupakan upaya mengubah apapun jadi komoditas atau barang dagangan untuk mendapatkan keuntungan. Tiga hal yang saling terkait untuk urusan ini adalah: isi media, jumlah audience, dan iklan.

Berita atau isi media merupakan komoditas untuk menaikkan jumlah audience (atau oplah). Lalu jumlah audience tadi pun komoditas yang bisa dijual pada pengiklan. Uang yang masuk merupakan profit dan bisa dipakai untuk ekspansi media.

Ekspansi media ini pun menghimpun dan bisa menghasilkan kekuatan lebih besar untuk mengendalikan masyarakat lewat sumber-sumber produksi media, seperti teknologi, jaringan dan lainnya; selain tentunya profit yang makin besar untuk si pengusaha.

Komodifikasi ada beberapa jenis, seperti:

Komodifikasi konten (isi):

Bentuk utama dari sebuah media adalah konten. Proses komodifikasi dalam hal ini bermula ketika pelaku media mengubah pesan lewat teknologi yang ada, menuju sistem interpretasi yang bermakna agar menjadi pesan yang marketable.

Komodifikasi audience (khalayak):

Salah satu prinsip dimensi komodifikasi media massa menurut Nicholas Garnham, dalam buku The Political Economy of Communication (1995) yang ditulis Vincent Mosco, adalah pengguna periklanan merupakan penyempurnaan proses komodifikasi massa secara ekonomi; dan audience adalah komoditas utama untuk media massa mendapatkan pengiklan (pemasukan).

Media pun menciptakan kelompok khalayak dengan membuat program semenarik mungkin, agar audience tertarik. Lalu audience ini dijual, dalam bentuk rating atau rasio konsumsi konten.

Untuk urusan program, cara gampangnya ya menyontek program konten yang memiliki rating tinggi atau populer di saluran media lain, karena kemungkinan besar memang menjawab kebutuhan audience; lalu dikumpulkan di satu program atau dipecah ke beberapa program, hingga audience pun menikmati beragam konten di media itu.

Komodifikasi pekerja:

Pekerja merupakan penggerak kegiatan produksi (juga distribusi). Pemanfaatan tenaga dan pikiran mereka digarap secara optimal dengan cara melakukan konstruksi pikiran, misal tentang betapa menyenangkannya bekerja di institusi media massa, walau dengan upah yang tak seharusnya.

2. Spatialization

Konsep ini merujuk pada cara-cara mengatasi hambatan jarak dan waktu dalam kehidupan sosial. Dengan kemajuan teknologi komunikasi, jarak dan waktu bukan lagi jadi isu dalam praktik ekonomi-politik.

Berkaitan dengan media massa, maka kegiatan yang berada di kota kecil bisa disiarkan langsung oleh televisi nasional yang berpusat di Jakarta, untuk kemudian dijadikan komoditas.

Dengan kekuatan modal besar untuk berinvestasi pada teknologi komunikasi, pengusaha media Jakarta akan melibas pengusaha media di kota-kota lain, yang dikelola dengan modal lebih kecil. Dengan begitu, semua kegiatan dalam negara, akan diliput oleh orang-orang yang sama.

3. Structuration

Penyeragaman ideologi secara tertata terjadi karena (misal) orang-orang redaksi media rangkap jabatan dengan usaha penerbitan lainnya; misal, koran-koran daerah juga dikuasai oleh kelompok pengusaha media di Jakarta.

Dalam struktur kepemilikan model begitu, pemimpin redaksi koran-koran daerah biasanya adalah “kiriman” dari Jakarta; atau setidaknya sudah menjalani praktik kerja beberapa bulan di ibukota. Hingga, beberapa media yang sama pemiliknya, cenderung memiliki ideologi yang sama pula.

Sumber foto: Newsonomics.com

Pembahasan

Merujuk pada dua teori yang diulas di atas (gatekeeping dan ekonomi media) maka perlu diperjelas juga kalau informasi media massa harusnya bukan komoditas ekonomi, yang demi kepentingan industri bisa digunakan seenaknya untuk berlomba-lomba mengumbar kabar yang tujuannya hanya untuk menarik audience demi urusan iklan.

Karena, kalau begitu, informasi yang disajikan akan bermanfaat ganda untuk audience-nya. Berita bisa jadi sesuatu yang informatif, tapi juga edukatif, propaganda, komersial, bahkan (yang lebih mengerikan) dijadikan alat kontrol sosial.

Contoh, ketika pihak kelompok bersenjata melancarkan aksi pada peristiwa di kawasan Sarinah yang sempat dibahas di awal tulisan ini; tingkat keberhasilan juga peluang untuk melancarkan aksi teror berikutnya mereka pelajari dari berita yang disampaikan media massa.

Baca juga (kajian di Remotivi): Jurnalisme Teror, Teror Jurnalisme

Makin lengkap media menyampaikan informasi, maka makin besar peluang kelompok bersenjata itu melakukan aksi berikutnya, dengan kemungkinan berhasil yang makin tinggi pula.

Tak heran kalau seorang Napoleon Bonaparte takut pada ketajaman pena; karena memang hasilnya bisa memiliki dampak besar pada kesuksesan dan kehidupannya.

Ada adagium yang berbunyi, “Media massa bukan berada di ruang hampa” yang artinya isi media massa penuh dengan tarik-tarikan kepentingan.

Kalau kita analisis dengan teori ekonomi media akan tergambar, kalau berita di media massa dikemas untuk memenuhi kepentingan publik, dan publik pun merasa bahwa informasi yang ia dapat adalah komoditas yang harus diterima; hasilnya, pengemasan dan make-up pada informasi pun makin dilakukan oleh pihak media, hingga kemudian pihak media mengabaikan etika, karena media sudah dijadikan alat mencari keuntungan.

Bukan kasus pemerkosaan yang menjadikan pemerkosaan mengerikan, melainkan isi media. Bukan kasus pembunuhan yang menjadikan pembunuhan mengerikan, tapi isi media. Bukan teroris yang menuntun mereka melakoni aksi teror, tetapi isi media.

Penutup

Pihak media massa adalah gatekeepers; mereka adalah pedang bermata dua yang memungkinkan hasil manfaat atau mudarat.

Manfaat, ketika informasi yang diberikan menghasilkan direct action dari masyarakat, karena masyarakat jadi tahu apa yang perlu dilakukan di tengah krisis. Mudarat ketika informasi yang diterima justru berperan menciptakan kerusakan untuk banyak orang.


Sumber foto: Si Gross, Flowerclava II (2015). Courtesy of the artist.

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry