Urusan perdebatan tentang era digital mematikan media cetak mewarnai akhir 2015 sampai awal tahun ini.

Dalam wawancara dengan wartawan senior Bre Redana yang sempat mengangkat istilah “senja kala media cetak”, ia menyebutkan kalau pandangannya diilhami pemaparan pengamat media massa Ignatius Haryanto. Kami pun mendapatkan kesempatan berbincang dengan Ignatius di tengah kegiatannya menjadi dosen tamu di program pascasarjana Universitas Indonesia.

Ignatius Haryanto tentang media cetak

Ignatius Haryanto di Universitas Indonesia, sebelum berbincang dengan Yellowcabin.com.

Dalam harian Kompas, Ignatius Haryanto sempat mengungkapkan pandangannya, bahwa faktor tutupnya sejumlah media cetak di Amerika Serika dan belahan dunia lainnya karena 4 (empat) hal:

  1. Perkembangan teknologi digital (yang memengaruhi pola produksi media);
  2. Pertumbuhan ekonomi yang melambat;
  3. Kebiasaan pembaca mengonsumsi informasi yang bergeser dari media cetak ke media daring;
  4. Generasi muda yang potensial jadi pembaca belum terbentuk menjadi pembaca masa depan.

Lalu, bagaimana dengan industri media cetak di Indonesia? Berikut perbincangan kami dengan Ignatius:

Bagaimana konsumen menyerap media cetak saat ini?

Hm, terus terang saya rasa makin berkurang, terutama surat kabar (koran). Pertama, karena konten yang sama sudah tersedia lewat gadget, dan gadget itu sudah menempel dengan manusia zaman sekarang. Tapi menurut saya, surat kabar masih punya fungsi tertentu, dan bagaimana pun juga kalau kita lihat dari sisi bisnis, perolehan pendapatan dari iklan yang dihasilkan media cetak saat ini belum terkejar oleh media online.

Sekadar gambaran saja, total perolehan media cetak (koran dan majalah) pada 2014 itu masih 30 triliun rupiah; sementara media daring, yang saya batasi hanya yang produk jurnalistik seperti Kompas.com, Detik.com, Tempo.co dan lainnya (tidak termasuk media semacam Malesbanget.com), perolehan iklannya belum sampai 1 triliun rupiah. Jadi masih jauh perolehan pendapatannya.

Saya tidak tahu persis, apakah ini ada pengaruh dari pemilik brand yang juga mungkin belum terbiasa beriklan di media online atau mereka masih berpikir kalau media online ini masih terasa terlalu cepat berubah-ubah, dan belum ada pijakan kuat terkait urusan iklan.

Apakah lebih memilih media cetak atau online?

Karena saya terlahir sebagai orang media cetak ya cetak, tapi saya tertarik belajar dan mengamati perkembangan situasi. Satu keyword yang belum saya sebutkan di sini dan sedang saya dalami adalah jurnalisme berbasis data (data journalism); kalau tentang yang satu itu, kita full ngomong tentang digital. Bahkan kita bicara tentang peran bernama data scientist.

Apa itu jurnalisme berbasis data? Jadi kita bisa mencari data dan melakukan kegiatan jurnalistik dengan berbagai tools yang ada di internet, sehingga si wartawan tak perlu turun ke lapangan. Ia cukup mengoprek-ngoprek internet untuk menghasilkan peliputannnya sendiri.

Saya bisa beri contoh di Amerika, Inggris, dan beberapa negara lain, praktik jurnalisme berbasis data ini sudah banyak dilakukan. Misal, ada media, kalau tidak salah BBC, dia melakukan peliputan berbasis data tentang hasil pengadilan di Inggris, dan dari data atau catatan dari tahun ke tahun tentang topik itu ia menemukan pola, kalau kantor-kantor pengacara tertentu selalu menang dalam berbagai kasus. Itu semua terbongkar dan bisa ditampilkan, mengerjakannya tentu tidak mudah.

Ada juga contoh lain, orang yang melakukan riset terhadap kekerasan pada anak, lalu menemukan pola-pola kekerasan tertentu terkait topik tersebut, yang ternyata sebaian besar dilakukan orang berkulit hitam; dan ditemukan pula kaitannya dengan keadaan ekonomi, pendidikan, dan lainnya. Jadi dengan bantuan berbagai tools tadi, hal-hal yang sebelumnya tidak terangkat bisa jadi penting untuk diangkat.

Jadi artinya, saya bisa katakan kalau surat kabar atau majalah itu hanya medium saja; hanya alat; salah satu cara kita menampilkan hasil peliputan atau karya jurnalistik supaya diketahui banyak orang.

Bagaimana dengan kesiapan sumber daya manusia industri media menghadapi era digital ini?

Kalau SDM-nya sendiri mestinya sudah banyak; minimal sudah tahu dan sadar dengan perubahan ini. Tantangannya adalah tetap mempertahankan esensi jurnalistiknya. Bre (Redana) sempat bilang kalau orang-orang media cetak itu setingkat doktor; saya rasa itu hanya romantisasi saja; ya tak ada salahnya juga dia bilang begitu. Tapi menurut saya, kalau orang-orang media cetak tidak tergantikan, menurut saya ya enggak lah.

Mari sama-sama kita amati kondisi yang berubah ini; misal saja, coba kita melihat teknologi yang lebih lama dari koran, seperti buku. Pada abad ke-17, format dan gaya bukunya tentu berbeda dengan abad ke-21. Jadi sejarah jurnalistik itu sendiri ya sejarah tentang inovasi. Dari koran lalu muncul radio; awalnya orang hanya melihat teks, lalu mulai berkembang ke fotografi; itupun bertahap, dari hitam putih dulu, baru berwarna. Layout koran dan majalah pun mengalami tahap-tahap perubahan.

Jadi saya rasa dunia jurnalistik itu dunia inovasi.

Bagaimana dengan keadaan media cetak di Indonesia?

Ada teman yang bilang begini, “Bagaimanapun industri media cetak di Indonesia masih bisa tumbuh, karena kita tahu, di Indonesia ini ada problem infrastruktur yang besar. Kita di Jakarta, bisa pakai gadget dengan santai karena koneksinya pun oke; tapi bagaimana dengan teman-teman kita di Papua? Kalimantan? Belum tentu mereka bisa mengakses data secepat kita.”

Di tempat-tempat itulah surat kabar masih jadi pegangan mereka; mungkin ongkos mengembangkan akses internet masih mahal, dan dari sisi konsumen, mau download aplikasi saja lama. Isu-isu semacam ini masih terang di Indonesia.

Dari data APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) kita bisa menemukan kalau baru maksimal 30 persen dari penduduk Indonesia yang mengoptimalkan penggunaan internet. Memang tidak ada angka pasti, tapi teman-teman media di daerah mengamini hal itu. Karena urusan infrastruktur inilah, media cetak kini masih potensial.

Ignatius Haryanto saat wawancara tentang media cetak

Pengamat media massa Ignatius Haryanto.

Apa yang kemudian perlu dikembangkan oleh pelaku media cetak di Indonesia?

Banyak; pertama, paradigma berpikir investor dan pimpinan perusahaan medianya, juga para wartawannya. Utamakan kegiatan menghasilkan konten yang baik, karena tidak ada gunanya adu cepat menerbitkan berita; karena kini, akurasi lebih penting ketimbang cepat. Paradigma ini penting, karena bagaimanapun, dalam dunia jurnalistik, content is the king. Konsumen akan menilai value sebuah media dari situ.

Lalu kedua, keterampilan teknis mesti terus diasah dan dikembangkan, termasuk produksi video dan menyusuri data untuk keperluan peliputan seperti tadi saya terangkan (terkait jurnalisme berbasis data). Terbuka untuk meningkatkan skill dengan berbagai tools digital ini perlu dan mesti dimiliki oleh tiap pekerja jurnalistik, apapun mediumnya.

Ketiga, yang mungkin juga pe-er paling besar adalah memperbarui bisnis model yang kini masih jadi problem besar, bahkan untuk pengelola media online. Bagaimana mencari duitnya? Ini persoalan besar dan penting, dan dari semua yang berjalan saat ini belum ketemu rumus pastinya.

Salah satu contoh, kini publik bebas mengakses informasi dari internet secara gratis, apa yang membuat mereka harus atau mau bayar? Lah, orang gue bisa dapet gratis kok!? Coba kasih alasan, kenapa gue kudu bayar?

Lalu jawab pertanyaan ini, apakah kita bisa meyakinkan konsumen untuk mereka membayar harga tertentu, untuk mendapatkan konten yang berbeda dari tempat lain? Mampukah kita menyajikan konten yang memang layak dibayar oleh mereka?

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry
1