Sejak 2010, Dewan Pers menetapkan bahwa wartawan mesti memiliki sertifikasi kompetensi. Berkas kelayakan itu untuk cerminan jejak rekam wartawan selama menjalani profesi kewartawanannya. Seorang wartawan harus mencerminkan prinsip luhur seperti kejujuran, etika profesi, dan sejumlah unsur lainnya, sebagai norma dasar dalam kegiatan peliputan dan produksi berita, di manapun ia berada.

Setelah sebelumnya menetapkan kompetensi wartawan media cetak, pada 2013 lalu, IJTI (Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia) menyelesaikan buku panduan Uji Kompetensi Jurnalis Televisi. Buku ini jadi dsar untuk mengukur kompetensi wartawan televisi, dengan harapan para jurnalis televisi menjalankan tugasnya secara sehat dan sesuai kode etik jurnalistik dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Penyiaran (P3SPS).

Unduh buku panduannya di sini: Uji Kompetensi Jurnalis Televisi

Perbedaan kompetensi media cetak dan televisi ini didasari adanya aspek teknologi, presentasi layar, dan aspek teknis lain yang jelas membedakan kegiatan wartawan televisi dengan media lainnya. Hingga dirasakan, para wartawan televisi perlu diuji dengan instrumen khusus yang juga sesuai dengan keadaan pekerjaan mereka sehari-hari.

Kompetensi wartawan adalah kemampuannya memahami, menguasai, dan menegakkan profesi jurnalistik atau kewartawanannya, serta kewenangan untuk menentukan (juga memutuskan) sesuatu terkait kegiatannya di bidang jurnalistik.

Standar kompetensi wartawan ini juga merupakan rumusan kerja yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan serta keahliah, dan sikap kerja yang relevan dengan tugas-tugasnya sebagai wartawan. Kelayakan pada panduan Uji Kompetensi Jurnalis Televisi ini mencakup 11 (sebelas) kompetensi kunci:

  1. Memahami dan menaati Kode Etik Jurnalistik dan P3SPS;
  2. Mengindentifikasi masalah memiliki nilai berita;
  3. Membangun dan memelihara jejaring;
  4. Menguasai bahasa;
  5. Mengumpulkan dan menganalisis informasi (fakta dan data) juga informasi sebagai bahan berita;
  6. Menyajikan berita;
  7. Menyunting berita;
  8. Merancang rubrik atau kanal halaman pemberitaan dan atau slot program pemberitaan;
  9. Manajemen redaksi (newsroom);
  10. Menentukan kebijakan dan arah pemberitaan;
  11. Menggunakan peralatan teknologi pemberitaan.

Lalu, ada 3 (tiga) kategori fungsional yang mesti mengikutinya:

Pertama, kelompok wartawan televisi yang asal muasal pekerjaannya fokus pada proses pengumpulan, pengolahan, dan penyajian materi informasi secara verbal dan tekstual. Mereka di kelompok ini termasuk reporter, penyaji berita (presenter), periset, penulis naskah, dan koordinator peliputan.

Kedua, kelompok jurnalis televisi yang pekerjaannya fokus pada pengumpulan, pengolahan, dan penyajian materi informasi audio visual. Mereka yang berada di kelompok ini adalah juru kamera, dan koordinator kamerawan.

Dan ketiga, yang muncul akibat perkembangan pesat teknologi informasi dan mencuatnya kebutuhan infografis, adalah kelompok pewarta televisi yang pekerjaannya fokus pada pengumpulan, pengolahan, dan penyajian materi informasi grafis. Termasuk di dalamnya, editor visual seperti penyunting grafis (graphic/GFX Editor) juga penyunting audio visual (VT Editor).

Hingga kini, IJTI sebagai penyelenggara uji kompetensi sudah melakukan pengujian sebanyak 3 (tiga) kali. Hendarata Yudha, Wakil Ketua Bidang Sertifikasi & Kompetensi IJTI, dalam situs ijti.org menyatakan:

“Ini bukan ujian, tapi mengukur sejauh mana seorang jurnalis utama yang bertindak sebagai pemimpin dan pengelola newsroom melaksanakan tugas-tugasnya sesuai dengan standar jurnalistik, bertanggung jawab pada kepentingan publik, mengikuti kode etik jurnalistik, serta memahami kaidahnya dan P3SPS.”

Dengan uji kompetensi wartawan jurnalistik televisi ini diharapkan bisa meningkatkan kualitas pewarta dengan makin patuh terhadap kode etik dan mampu menyajikan berita-berita yang bersandar pada kepentingan publik.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry