Pada edisi Kamis, 31 Desember 2015, salah satu koran tertua di Indonesia, Sinar Harapan, mengumumkan kalau mereka akan menghentikan kegiatan penerbitan media cetak dan kanal daring (online) per Sabtu, 2 Januari 2016, lewat kotak pengumuman di halaman mukanya.

penutupan Sinar Harapan

Sinar Harapan, edisi Kamis (31/12/2015) yang mengumumkan penutupan koran sore itu.

Koran Sinar Harapan pertama kali terbit pada 27 April 1961. Sempat diberedel pemerintah pada Oktober 1986, akibat berita terkait tata niaga impor, koran itu pun terbit lagi pada Juli 2001; atau sekitar tiga tahun setelah jatuhnya rezim orde baru.

Moto koran sore ini adalah “Memperjuangkan kemerdekaan dan keadilan, kebenaran dan perdamaian berdasarkan kasih.” Dan frasa “berdasarkan kasih” itu pula yang lekat dengan branding Sinar Harapan sebagai pelaku jurnalisme damai.

Hal itu tertuang juga dalam catatan undur diri yang ditulis Pemimpin Umum/Ketua Dewan Redaksi Sinar Harapan, Daud Sinjal, pada halaman muka edisi Kamis (31/12/2015).

penutupan Sinar Harapan

Catatan Pemimpin Umum dan Ketua Dewan Redaksi Sinar Harapan, Daud Sinjal, di edisi Kamis (31/12/2015).

Kini setelah lebih dari 14 tahun sejak kembali terbit, Sinar Harapan pun menghentikan kegiatan jurnalistiknya. Sebab pastinya kurang jelas, tapi kalau menyimpulkan dari berita di Jakarta Globe, sepertinya karena pembaca media cetak makin merosot dan makin pesatnya pertumbuhan media daring.

Namun, versi daring Sinar Harapan pun akan dihentikan pada Jumat, 1 Januari 2016, lepas tengah malam. Kenapa? Belum terang betul sebabnya.

penutupan koran sore Sinar Harapan

Pengumuman penutupan koran sore Sinar Harapan, di halaman muka edisi Kamis (31/12/2015).

Yang jelas, Sinar Harapan bukan hanya unit media massa, tapi juga entitas bisnis. Penghentian operasional pun merupakan keputusan bisnis. Kadang sulit dipahami, tapi ya begitulah.

Mereka yang jadi bagian di dalamnya pun belum tentu lebih mudah menerimanya. Bahkan bisa jadi lebih sulit.

Kita berharap saja, semangat Sinar Harapan seperti yang ditulis Daud Sinjai dalam catatannya tentang koran yang membela Indonesia yang majemuk dan damai dijaga dan diteruskan oleh pemain lain di industri ini.


Sumber foto: jakartaglobe.beritasatu.com (Antara Photo/Wahyu Putro)

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry