Sekitar dua pekan lalu, ramai percakapan tentang kabar peran penyair Wiji Widodo alias Wiji Thukul terkait proses kemerdekaan Timor Leste. Pemicunya adalah status akun Path persona media sosial Ndorokakung yang menyebut kalau Wiji Thukul membantu tentara Timor Leste bikin bom, dan kemudian dibunuh anggota ABRI di perbatasan.

Penyair Wiji Widodo (lebih lazim dikenal sebagai Wiji Thukul) yang hilang sejak 1998, dan hingga kini belum terang keadaan sebenarnya. Ia dinyatakan hilang dengan dugaan diculik dan diperkirakan sudah meninggal dunia.

Status itupun menuai kontroversi dan menjadi perbincangan populer sampai dua tiga hari. Meski Ndorokakung yang memiliki nama asli Wicaksono sudah meminta maaf secara terbuka, banyak pihak masih menudingnya melukai hati keluarga Wiji Thukul yang memang masih belum jelas keadaannya sejak hilang pada 1998.

Wicaksono yang juga pemimpin redaksi media daring Beritagar.id itu dianggap gegabah, karena melontarkan pernyataan yang belum terang kebenarannya.

Wicaksono, persona media sosial yang dikenal lewat akun Ndorokakung, jurnalis dan pemimpin redaksi Beritagar.id. (Sumber foto: abarky.blogspot.co.id)

Menurut pengamat media massa Ignatius Haryanto, sebagai figur publik yang ucapannya diperhatikan banyak orang, mestinya Ndorokakung bisa lebih jeli dalam menyatakan suatu masalah di media sosial; apalagi jika masalah itu belum jelas kebenarannya.

“Saya kira dia kurang bijak. Artinya, harus cukup clear dulu tentang apa yang ingin dia sampaikan,” ujar Ignatius pada Yellowcabin.com.

Selain itu Ignatius juga menyayangkan sikap media massa yang justru seperti mengadu Ndorokakung dengan pihak keluarga Wiji Thukul. Menurutnya lagi, masalah ini tidak akan seramai yang terjadi kalau media massa tidak mengarahkan pemberitaan ke perseteruan kedua pihak.

“Dalam kasus ini, bukan cuma Ndorokakung yang salah, tapi juga media massa yang mengarahkan masalah seolah keadaannya seperti Ndorokakung versus keluarga Wiji Thukul,” ucapnya menyayangkan.

Sementara tokoh media massa dan anggota Dewan Pers, Nezar Patria juga menyayangkan pernyataan Ndorokakung lewat media sosial Path itu. Menurut Nezar, sebagai seorang pemimpin redaksi sebuah media massa, harusnya Ndorokakung melakukan verifikasi dulu pada pihak-pihak terkait sebelum menyatakan komentar itu ke publik.

“Saya pikir Ndorokakung harus lebih berhati-hati. Ia kan juga seorang jurnalis, setidaknya ia melakukan sikap jurnalistik (verifikasi) sebelum memproduksi informasi di akun media sosial yang dia punya,” kata Nezar, di tengah acara diskusi bersama AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Jakarta bertema Jurnalis dalam Riuh Media Sosial, di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Rabu 23 Maret 2016.

Meski sebetulnya Wicaksono juga sudah menyatakan secara lugas bahwa apa yang ia sampaikan belum pasti kebenarannya dan perlu diverifikasi, menurut Nezar, ia tetap kurang memperhitungkan dampak dari penyataannya.

“Karena besar kemungkinan terjadi salah interpretasi, hingga terjadi misleading dalam penyikapan informasi dan kemudian mengarah pada dampak yang merugikan orang lain,” imbuh Nezar.

Komentar juga terlontar dari Manajer Pengembangan HIVOS, Shita Laksmi yang menyatakan bahwa berdasarkan Undang-Undang (UU) Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), tiap orang yang mengeluarkan pendapat di internet harus bertanggung jawab atas pendapatnya.

“Dan terlepas Ndorokakung itu pemred (pemimpin redaksi), jurnalis, atau apapun, dia harus bertanggung jawab atas pernyataannya,” tandas Shita.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry