Apa itu subaltern? Kata ini mungkin terdengar asing; padahal kalau diurai pengertiannya, memiliki makna dalam, terutama terkait Indonesia yang dicatat sebagai negara dunia ketiga. Atau istilah halusnya, negara berkembang.

Kembali ke urusan subaltern, istilah ini pertama muncul dari ilmuwan sosial dan politik Antonio Gramsci; merujuk pada kelompok inferior, atau sederhananya kelompok masyarakat yang jadi objek dominasi (hegemoni) kelas penguasa, seperti petani, buruh, atau yang tidak memiliki akses kekuasaan.

Gagasan Gramsci itu kemudian diadopsi oleh ahli sejarah asal India, Ranajit Guha. Lewat tulisan bertitel On Some Aspects of the Historiography of Colonial India (1981), Guha menyimpulkan kalau subaltern adalah “mereka yang bukan elit”.

Maksud Guha tentang “elit” pada pernyataan itu menunjuk pada kelompok dominan, baik pribumi pun asing. Dalam konteks India saat itu, yang asing adalah pejabat Inggris, pemilik industri, atau pedagang; sementara pribumi ia bagi dua, kelompok yang beroperasi di tingkat nasional seperti pegawai birokrasi, dan kelompok yang dominan di tingkat lokal dan regional.

Jargon itu mencuat ketika ahli teori pascakolonial (lebih khusus juga dikenal sebagai pakar kajian subaltern) asal India, Gayatri Chakravorty Spivak meluncurkan pemikirannya lewat esai berjudul Can the Subaltern Speak? pada 1983.

Gayatri Chakravorty Spivak

Gayatri Chakravorty Spivak, kini juga profesor di Columbia University, New York.

Dalam esai itu, Gayatri menyinggung intelektual pascakolonial yang bicara atas nama kelompok subaltern. Menurutnya, mereka yang tertindas memang tidak bisa bicara, sehingga klaim dan suara romantis kaum intektual itu juga bersifat kolonial.

Sudut pandang Gayatri menyangkut subaltern ini jadi berpengaruh dalam studi pascakolonial; hingga istilah subaltern pun makin dikenal luas.

Dari pengertian itu, menarik pula melihat soal subaltern dari kacamata komunikasi; khususnya komunikasi massa.

Karena dalam lapisan masyarakat seperti di Indonesia, dominasi informasi lewat media massa dari kelompok penguasa potensial berwujud ancaman terhadap persona subaltern (notabene jumlahnya lebih banyak dibandingkan nonsubaltern), menebar ketakutan atau histeria yang subjektif, hingga lebih menonjolkan unsur emosi ketimbang rasionalitas.

Efeknya bisa kita amati pada pemberitaan yang menghiasi layar dan halaman media massa juga, seperti kabar kekerasan, kebiasaan amuk massa, atau budaya manusiawi lainnya; seperti aksi keributan usai penghitungan suara Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kalimantan Utara, Desember 2015 kemarin.

Masyarakat subaltern di Indonesia menggandrungi media komunikasi massa seperti televisi, atau bahkan kini mulai banyak juga yang mengonsumsi berita cepat lewat ponsel; hingga memiliki pengaruh besar pada pemikiran kelompok subaltern di Indonesia.

Kelompok subaltern ini, walau dominan dan bisa dibilang makin mandiri, tapi tidak memiliki akses pada kelompok superior atau elit. Kondisi yang akhirnya bikin mereka membangun ruang independen sendiri; salah satunya lewat media massa tadi.

Lewat media massa seperti televisi atau kabar daring mereka merasakan hubungan dengan masyarakat superior. Apa yang dinyatakan media massa, dianggap hasil dari kebudayaan tinggi, menyetujuinya sebagai realitas, dan jadi wujud kesetaraan mereka dengan kelompok elit.

Gambar promosi film Peepli Live (2010) yang mengangkat tentang kehidupan kelas petani, eksploitasi media massa, dan kepentingan politik; juga dianggap sebagai ulasan isu subaltern dalam kebudayaan populer.

Subaltern jadi seperti tak sempat berpikir dua kali dalam menangkap pesan di media massa (atau juga media sosial), karena rasionalitas sudah tertimbun pembenaran-pembenaran karena ingin setara dengan elit tadi.

Maka itu, sebagai negara yang masyarakatnya masih didominasi subaltern jadi penting untuk sadar tentang pengaruh media massa, terutama yang memiliki jangkauan luas.

Karena secara perlahan tapi pasti, media bisa membentuk cara pandang penonton, pendengar, atau pembacanya sampai ke tahap bagaimana ia melihat dirinya sendiri dan bagaimana cara berhubungan dengan dunia sehari-hari (Gamble, Teri & Michael. Communication Works, 7th Edition);

  • Media memperlihatkan pada khalayak tentang standar hidup layak seorang manusia. Dari sini khalayak pun menilai, apakah ia berada dalam situasi layak itu? Apakah ia sudah berada pada standar yang tepat?
  • Media menawarkan citra untuk memengaruhi keinginan khalayak; seperti ilustrasi kehidupan keluarga ideal, hingga kemudian khalayak mulai membicarakannya dan membandingkan keadaan dirinya. Persoalannya, ilustrasi itu terlihat sempurna, hingga kesalahan pun mudah terjadi, dan jadi menu untuk topik perbincangan sehari-hari.
  • Media visual menampilkan standar cantik atau tampan, gaya, atau gerak untuk kepribadian yang lebih menarik; untuk anak-anak misalnya, pengaruh untuk tampil bagai penyihir Harry Potter, atau putri dari tokoh Disney. Pemirsa dewasa mungkin lebih halus, lewat cara tampil atau berpakaian; seperti menata rambut kita dengan sisiran penuh ke samping, dengan bagian pinggir yang tercukur halus, ala selebriti asal Korea.
  • Tak hanya adaptasi tampilan, pada remaja atau kaum muda juga, jadi penonton atau pendengar saja tak cukup. Mereka pun terlibat sebagai penentu kelanjutan tren, lewat adopsi ekspresi, cara bersikap, atau mengemukakan pendapat.

Bagi subaltern, respon terhadap pengaruh itu mungkin dianggap cara memperjuangkan posisi sebagai bagian dari masyarakat independen. Padahal ada sisi lain juga yang banyak tidak disadari, bahwa pengaruh itu merupakan permainan kelompok superior untuk tetap menjaga kekuasaannya.


Sumber foto: Sandiegodesi.com, Specters of the Post-Colonial City

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry