Kalau sering mendengar radio, tentu sudah terbiasa merasakan bagaimana seorang penyiar bisa bikin kita hanyut dalam perbincangan yang ia bangun pada pendengarnya. Cara bertuturnya lincah dan enak diikuti.

Sekilas seperti gampang; cuap-cuap saja membicarakan ini itu. Kenyataannya tak memang tak mudah. Jauh berbeda dengan berkelakar saat nongkrong bersama teman-teman sehari-hari.

Untuk bisa jadi penyiar radio ada sederet keahlian yang perlu dikuasai. Kabar baiknya, keahlian itu tidak turun begitu saja dari langit, tapi bisa dipelajari sampai kita benar-benar terlatih dan mahir.

Apa saja yang bisa dipelajari untuk kelak bisa jadi penyiar radio?

melatih suara untuk jadi penyiar radio

1. Vokal

Vokal merupakan hasil kolaborasi antara pita suara, paru-paru, difragma, saluran pernapasan, dan tentunya mulut. Vokal bisa disebut berkualitas kalau memiliki unsur-unsur berikut ini:

  • Menyenangkan untuk didengar;
  • Dinamis, karena memberikan impresi yang bertenaga;
  • Ekspresif dan kaya nuansa;
  • Jelas dan lugas;
  • Mengalir dengan wajar; tidak terdengar dibuat-buat.

2. Intonasi

Sederhanya bisa dibilang sebagai tinggi rendahnya suara, dan bagian dari unsur vokal. Intonasi bisa juga digambarkan seperti nada pada lagu; yang kalau dilantunkan secara pas dan tepat bisa menghasilkan dampak emosional pada pendengarnya.

Intonasi bisa bikin pendengar lebih mudah memahami pesan yang disampaikan, dan menghindarkan dari kejenuhan (yang biasanya lebih cepat muncul kalau kita mendengar orang bicara tanpa intonasi).

3. Artikulasi

Istilah untuk menyebut teknik penyebutan kata atau kalimat secara tepat dan jelas. Bicara dengan artikulasi buruk berpotensi membuat pendengar bingung dan lebih sulit menangkap pesan; lebih parah lagi, jadi salah memahami maksudnya.

Biasakan bicara dengan lugas. Jangan sambil mendesis, bergumam, atau menyeret kalimat saat bicara. Buka mulut dan ungkapkan dengan enteng supaya terdengar jernih.

Faktor lain yang berpotensi bikin artikulasi bicara jadi kacau adalah rasa kurang percaya diri atau tidak menguasai materi yang dibicarakan.

4. Jeda atau perhentian bicara (pause)

Usahakan selalu memberi jarak antarkalimat, agar pembicaraan secara keseluruhan lebih enak dicerna pendengar.

Terus bicara tanpa jeda bisa membuat intonasi jadi kacau, kehabisan napas, bahkan membuat pembaca tersesat dari materi yang mestinya diikuti.

Jeda juga baik untuk memberi pendengar kesempatan mencerna secara bertahap pokok pembicaraan yang diutarakan.

5. Kecepatan bicara (pace)

Selain jeda, penting juga mengatur kecepatan bicara, supaya tiap kata bisa terserap dengan baik oleh pendengar.

6. Volume

Tak hanya kecepatan yang perlu diatur, volume atau keras tidaknya suara pun begitu.

Bicara keras berapi-api berpotensi membuat pendengar menerima maksud berbeda dengan volume rendah, meski pesannya sama. Contohnya, “JANGAN MASUK!” dan “jangan masuk…”

7. Kekuatan suara (power)

Power dalam hal ini berbeda dengan volume. Kekuatan suara bukan berarti berteriak, tapi lebih pada menyuntikkan tenaga ke dalam suara.

Kekuatan suara merupakan urusan membagi arus tenaga, agar suara bisa terus terdengar prima meski berlangsung lama; karena bicara terus selama dua jam bisa bikin kita lelah dan akhirnya memengaruhi kualitas suara.

8. Tempo

Seperti volume yang berbeda dengan power, begitupun tempo dan kecepatan bicara. Serupa tapi tak sama; karena kecepatan bicara lebih mengabaikan intonasi, sementara tempo lebih berirama namun disampaikan dengan cepat.

Agar lebih mudah membayangkan, bayangkan sebuah lagu; kecepatan bicara lebih pada membaca lirik lagu dengan cepat atau lambat saja, sementara tempo melantunkannya dengan cepat atau lambat.

9. Variasi

Maksudnya pada vokal, agar pendengar terus terjaga dari rasa bosan. Variasi di sini lebih pada bauran antara ujaran tegas, serius, mungkin sesekali juga humor.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry