Beberapa waktu lalu saya sempat terlibat perbincangan bersama beberapa teman tentang kebiasaan wartawan yang suka kalem di forum saat moderator atau pembicara berujar, “Silakan teman-teman wartawan kalau ada yang mau tanya.” Forum di sini ya macam-macam, mulai dari seminar, acara jumpa pers, sampai media briefing.

Memang tidak semua begitu, ada lah beberapa pewarta yang masih melempar pertanyaan pada sesi tanya jawab; tapi kebanyakan tidak. Kalaupun ada pertanyaan, mereka lebih memilih menanyakan langsung saja pada narasumber yang sudah mereka incar, setelah forum bubar.

Menurut Ichwan Susanto, lelaki yang sudah lebih dari sepuluh tahun jadi jurnalis di harian Kompas, ada 3 (tiga) kemungkinan alasan wartawan lebih suka bertanya 1-on-1 dibandingkan di tengah forum.

Pertama, soal ingin eksklusif. Ichwan menduga, banyak pewarta berpikiran, jika bertanya di forum maka sudut pandang dari naskah berita yang akan digarap bisa diambil oleh pewarta lain.

“Takut wartawan lain ngambil angle yang sama,” ujarnya.

Lalu kedua, faktor kurang percaya diri. Biasanya karena wawasan atau pengetahuan si pewarta terkait isu yang sedang dibahas di forum kurang luas, jadi dia malu.

Dan yang ketiga, bisa jadi karena si pewarta ingin menanyakan hal lain di luar materi yang dibawakan di forum. Kalau ditanyakan pada sesi tanya jawab kan berpotensi nggak nyambung alias OOT.

“Atau juga si wartawan pingin forum atau acara konfrensi pers itu cepet selesai,” imbuh Ichwan sambil tersenyum.

Pendapat serupa juga diutarakan Ajeng Zahra, Senior Associate Cognito Communications Counsellors yang sering mengundang wartawan ke acara jumpa pers. Menurutnya, banyak pewarta lebih suka wawancara narasumber di forum setelah acara utama usai, ketimbang memanfaatkan sesi tanya jawab.

“Ya mungkin memang mau eksklusif atau malah malu,” kata Ajeng dengan nada canda.

Sumber foto: americantower.com

Lain lagi dengan apa yang diutarakan Khalisah Khalid. Ibu satu anak yang juga Kepala Departemen Kajian dan Penggalangan Sumber Daya Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) ini mengatakan kalau hal ini ada pengaruh dari kultur industri media, seperti soal peralihan tugas wartawan.

Misal, wartawan ekonomi yang dirotasi ke topik atau isu lain.

Kecuali media yang fokus ke satu isu atau topik saja, memang banyak organisasi media yang suka merotasi tugas pewarta, bahkan dengan perputaran yang relatif cepat. Sehingga pewarta tidak pernah memahami isu satu isu secara mendalam, dan juga kerap menghadapi persoalan adaptasi.

Contoh saja tentang topik lingkungan. Banyak pewarta di lapangan memang tidak khusus menyoroti isu ini, mereka hasil rotasi, yang akhirnya sering menemukan kesulitan mengikuti isu lingkungan hidup yang cukup rumit dan kompleks. Akhirnya, saat wawancara ya pertanyaannya cukup yang di permukaan saja.

Kalau dikaitkan dengan pendapat Ichwan di atas, pewarta yang model begini mungkin terjebak rasa kurang percaya diri, karena memang tidak mendalami isu tertentu akibat rotasi.

Ya memang begitu salah satu tantangan jadi wartawan, mesti cepat beradaptasi dan belajar lintas topik atau isu. Dan sebetulnya tidak perlu malu juga melontarkan pertanyaan di forum atau sesi tanya jawab pada acara seperti konfrensi pers.

Karena jangan-jangan pewarta lain yang diam saja bisa belajar dan mendapatkan manfaat dari pertanyaan yang diajukan, atau justru jadi ikut berani bertanya dan akhirnya memunculkan diskusi yang hidup dan menarik.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry