Ada yang tahu, berapa jumlah media online di Indonesia saat ini?

Menurut pernyataan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, awal Mei 2017, setidaknya ada 47 ribu perusahaan media massa yang beroperasi di Indonesia, dan berada di bawah pengawasan Dewan Pers, sebagai lembaga independen di bidang pers.

Sedihnya, seiring dengan meningkatnya jumlah media massa di Indonesia, penyebaran kabar palsu (atau populer dikenal sebagai hoax) juga makin subur; karena kabar palsu biasanya kontroversial, sehingga relatif mudah menarik minat banyak orang.

Seperti dikutip dari CNN Indonesia, Masyarakat Anti Hoax menyatakan kalau situs berita atau informasi hoax bisa mendulang keuntungan sampai ratusan juta rupiah, akibat perolehan arus pengunjung yang tinggi.

“Satu tahun bisa sampai Rp700 juta,” kata Septiadji Eko Nugroho dari komunitas Masyarakat Anti Hoax.

Tapi, kalau kamu mengelola media online, sebaiknya jangan tergiur. Karena audiens juga bakalan makin pintar memilah informasi. Dan pada akhirnya publik juga akan lebih memperhatikan media yang menyajikan kabar atau cerita yang bisa dipercaya.

Untuk itu, apa saja yang mesti diperhatikan untuk terhindari dari kegiatan menayangkan atau menyebarkan kabar bohong atau hoax?

Mulai membiasakan diri dengan proses fact checking

Fact checking adalah tahap pengujian informasi yang tujuannya meminimalisasi kesahalan data dan fakta; biasanya sebelum konten disiarkan ke masyarakat luas.

Dalam organisasi pers di Amerika Serikat misalnya, peran seperti fact checker sudah cukup lama ada secara spesifik di berbagai perusahaan media massa. Kalau di Indonesia, biasanya peran itu dijalankan oleh reporter, yang kemudian akan kembali dicek oleh redaktur atau editor.

Ada cerita yang menunjukkan pentingnya peran fact checking dalam proses produksi editorial adalah ketika redaksi Forbes meneliti fakta-fakta dalam artikel The New Republic berjudul “Hack Heaven” yang ditulis atas nama jurnalis Stephen Glass.

Berita yang mengangkat isu pembobolan sistem keamanan digital pada perusahaan software Jukt Micronics oleh hacker remaja itu diverifikasi Forbes sebagai informasi palsu dan murni karangan.

jurnalis stephen glass

Jurnalis The New Republic, Stephen Glass (sumber foto: simonandschuster.com.au)

Berkat fact checking, Forbes menghindari kesalahan pelaporan oleh wartawannya dalam penerbitan berita; bahkan akhirnya memunculkan berita baru yang lebih bisa dipercaya, bahwa kabar itu palsu.

Maka itu, walaupun ada kabar yang terdengar sangat menarik, jangan langsung percaya. Lakukan lagi pengecekan ulang terhadap data dan fakta di dalamnya.

Bagaimana cara mengetahui bagian yang perlu dicek?

Gampangnya, tidak semua isi artikel perlu kita cek ulang kebenarannya. Langkah yang perlu kita lakukan adalah menentukan bagian dari isi artikel yang perlu kita periksa ulang kebenarannya.

Salah satu hal penting pada proses ini adalah mempertimbangkan, apakah bagian dari isi artikel yang ingin kita cek faktanya termasuk pengetahuan umum (common knowledge) atau bukan.

Harvard University menyebutnya sebagai berikut:

Common knowledge is information generally known to an educated reader, such as widely known facts and dates, and, more rarely, ideas or language.”

Contohnya, fakta bahwa Indonesia diproklamasikan merdeka pada 17 Agustus 1945 itu adalah common knowledge. Tapi, soal kapan tepatnya naskah proklamasi diketik, atau berapa orang yang hadir langsung di lokasi proklamasi, itu bukan common knowledge.

Contoh lain, Jokowi itu Presiden RI adalah common knowledge. Namun, cerita bahwa Jokowi suka musik rock atau gemar memelihara kecebong, itu perlu dicek lagi kebenarannya.

Cara sederhana untuk menentukan, apakah bagian teks adalah common knowledge atau fakta yang tidak perlu dicek kebenarannya, adalah: kita tidak ada pertanyaan atas informasi itu.

Seperti soal Indonesia diproklamasikan merdeka pada 17 Agustus 1945, atau Jokowi adalah Presiden RI saat ini; ya, memang begitu; relatif tidak perlu dipertanyakan lagi.

Kalau mau lebih jelas lagi, Purdue University’s Online Writing Lab di Amerika Serikat menyatakan, jika fakta didokumentasikan pada setidaknya lima sumber kredibel, maka kemungkinan besar ia adalah common knowledge.

Dan, jika bagian teks itu bukan common knowledge, maka cek dan cari sumber yang bisa menguatkannya sebagai fakta yang layak masuk dalam tulisan.

Mengetahui mana sumber yang punya kredibilitas 

Karena ada sumber yang hanya bisa jadi referensi, dan sumber yang benar-benar punya kredibilitas. Walau sekilas sama, perbedaan di antara keduanya cukup signifikan, dan penting diketahui terkait proses fact checking.

Contohnya, kebanyakan institusi pendidikan tidak mengizinkan pelajarnya mengutip Wikipedia. Meski situs itu dikelola dengan baik, tetap tidak cukup untuk dipakai buat memperkuat pernyataan akademis.

Tapi Wikipedia yang digunakan jutaan orang, layak untuk jadi sumber yang bisa dijadikan referensi, atau acuan informasi untuk menggali fakta utamanya. Selain itu, forum atau layanan media sosial juga termasuk sumber yang hanya bisa digunakan sebagai referensi.

wikipedia mini globe

WIkipedia, populer sebagai ensiklopedia online yang kerap jadi solusi instan untuk mencari definisi atau keterangan terkait suatu informasi. (sumber foto: wikimedia.org)

Sementara media massa arus utama dipertimbangkan sebagai salah satu sumber yang punya kredibilitas; misal, Kompas, Tempo, atau Detik.com. Catatan: jika mereka menerapkan prinsip dan kaidah jurnalistik dengan baik.

Selain itu, beberapa jenis sumber yang juga bisa diperhitungkan punya kredibilitas, adalah: jurnal akademis, situs informasi resmi dari pemerintah, situs resmi institusi atau perusahan terkait, atau bahkan situs pribadi subjek atau objek cerita yang dikabarkan.

Nah, apakah kamu sudah terbiasa untuk selalu mengecek data dan fakta sebelum menuntaskan artikel untuk diterbitkan di blog atau situs yang digarap?

Nah, bagaimana dengan kamu? Apakah sudah membiasakan diri untuk selalu mengecek fakta sebelum menuntaskan artikel yang mau diterbitkan di blog atau situs yang digarap? Kalau belum, yuk di mulai dari sekarang!

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry