Fotografi yang dengan sederhana bisa dipahami sebagai seni memotret kini digeluti makin banyak orang.

Tak hanya juru foto profesional yang bisa mentereng karena hasil jepretannya; pengguna media sosial pun berpeluang populer karena foto-fotonya. Bisa karena mengikuti lomba foto yang makin banyak diadakan, atau sekadar suka berbagi momen di media sosial.

Hal ini tentu jadi tantangan untuk pelaku fotografi profesional, tentang bagaimana memosisikan diri di antara ramainya pelaku kegiatan memotret saat ini.

Salah satu yang punya keperluan menjawab pertanyaan itu adalah mahasiswa yang tertarik berkarier di bidang media atau fotografi.

“Saya awam yang tidak tahu banyak juga pingin tahu lebih lanjut di luar mata kuliah fotografi yang didapatkan di kelas,” ujar Bimbi Ardianti, mahasiswi yang mengambil konsentrasi studi jurnalistik.

“Kita kan masih pemula, jadi pingin cari tahu gimana caranya jadi fotografer jurnalistik profesional,” kata Aditya Dirgantara, mahasiswa.

Merespon kebutuhan itu, pewarta foto Tempo, Aditya Noviansyah menerangkan, terlepas dari urusan teknis, lebih penting untuk memahami modal fotografi paling dasar, yaitu tema dan konsep.

Ia menerangkan kalau kamera (atau aplikasi) itu hanya alat atau media. Kekuatan fotografi sesungguhnya ada pada visi dan kecerdasan si pemotret (fotografer).

Fotografer yang serius akan melihat dan berpikir sebelum ia menekan tombol jepret. Ia ingin bercerita, menyampaikan sesuatu. Ia memiliki tujuan.

aditya noviansyah (tempo) tentang fotografi

Aditya Noviansyah, pewarta foto dari Tempo.

“Kita harus tahu pesan apa yang ingin disampaikan, agar orang yang melihat memahaminya seperti yang kita inginkan,” ungkapnya dalam acara seminar Menentukan Tema dan Konsep dalam Fotografi Jurnalistik di Laboratorium Humas, Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama), Jakarta, Kamis (10/12).

Jurnalis foto kelahiran 1986 itu juga memberi pesan, kalau pesan lewat foto tak hanya bisa ditampilkan secara naratif, tapi juga deskriptif.

“Misalnya seperti efek atau dampak dari peristiwa yang kita potret. Umumnya, tema sosial seperti potret kehidupan orang pinggiran atau kemiskinan banyak digunakan karena memang memiliki proximity (kedekatan) dengan kehidupan kita,” imbuhnya.

Fotografer yang serius itu ingin bercerita, menyampaikan sesuatu. Ia memiliki tujuan.

Terkait media sosial, Aditya Noviansyah menyebutnya sebagai alat yang bisa mendukung kegiatan fotografi profesional. “Kita bisa melatih konsep foto yang kita sajikan,” ujarnya.

“Kalau konsep dan tema foto yang kita tawarkan disukai atau bahkan dijadikan referensi pengguna media sosial lain tentu bagus,” katanya menandaskan.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry