Pertengahan pekan kemarin (Rabu, 17 Februari), jejaring sosial Facebook merilis keterangan terkait peluncuran akses penuh pada fitur Instant Articles untuk semua publisher (atau unit media), yang rencananya akan dilakukan pada April mendatang.

Untuk yang merasa asing dengan fitur tersebut, Instant Access merupakan fitur Facebook yang memungkinkan penggunanya menikmati konten (dari berbagai penerbit) langsung lewat News Feed pada aplikasi Facebook, di iOS pun di Android.

Ilustrasi gampangnya begini: Kalau selama ini kita dibawa pindah ke laman penerbit setelah mengklik artikel yang di-share di News Feed kita, dengan Instant Articles, kita bisa langsung mendapatkannya tanpa mesti berpindah keluar dari aplikasi.

Waktu loading pun terpangkas jauh. Lebih cepat dan simpel. Berikut perbandingannya:

Fitur yang sudah diperkenalkan sekitar medio 2015 ini mulai bisa diakses lewat perangkat iOS pada Oktober 2015, dan kemudian di Android pada penghujung tahun.

Hanya saja, saat itu belum semua orang atau penerbit bisa menjajalnya. Facebook baru memberi akses pada beberapa publisher saja; termasuk nama-nama besar seperti The New York Times, National Geographic, BuzzFeed, The Atlantic, sampai The Guardian.

Disusul ke beberapa negara Asia, termasuk Indonesia, yang melibatkan sekitar 50 saluran media. Khusus untuk Indonesia saja, saluran media yang sudah bisa mengoptimalkan fitur ini adalah Detik, Kompas, Liputan6, Merdeka, dan Tribun News.

instant articles di laman facebook kompas

Penggunaan Instant Articles pada salah satu berita dari Kompas.com yang disebarkan ke laman Facebook.

Sampai awal tahun ini, Facebook menyatakan ada ratusan publisher yang sudah mulai mencoba Instant Articles, dan setelah nanti dibuka untuk semua publisher, mereka menatap kemungkinan lebih banyak lagi unit media yang memanfaatkannya.

Sejak diperkenalkan, fitur ini mengundang perdebatan, karena menahan orang dari mengunjungi situs sumber untuk tetap berada di Facebook saat mereka membaca berita atau artikel; dan akhirnya berpotensi mematikan si media.

Hal itu pun ditangkis Facebook dengan kebijakan memberikan 100 persen hak atas penghasilan iklan yang dilakukan sendiri oleh publisher, lewat mekanisme iklan seperti sponsored content atau native advertising.

Dan jika publisher mendapatkan penghasilan iklan via ad network Facebook, maka dilakukan bagi keuntungan dengan proporsi 70 persen untuk si media, dan 30 persen untuk Facebook.

Dalam situasi ini, tantangan penerbit atau pengelola media adalah memastikan kualitas konten, karena dalam logika yang kerap disebut sebagai distributed content ini, media massa bukan lagi pengelola saluran, tapi pengelola konten.

Selain menjawab urusan iklan, keuntungan lain yang ditawarkan Instant Articles pada publisher adalah kontrol terhadap konten yang ingin ditampilkan dengan fitur ini.

Penerbit atau pengelola media bisa menentukan dengan bebas, konten apa yang ingin dioptimalkan dengan fitur ini untuk melayani kebutuhan informasi sasaran pembacanya di Facebook. Mereka juga bisa mengaturnya langsung dari content management system yang digunakan untuk menerbitkan konten.

Dari sisi pembaca, distribusi konten lewat fitur semacam Instant Articles tentu menambah kenyamanan mengakses konten, karena cepat dan cocok dengan kebiasaan mengasup konten lewat perangkat mobile.

Lagipula, Instant Articles memang hanya bisa dinikmati lewat aplikasi mobile Facebook.

Soal laporan pengunjung, publisher yang menggunakan layanan ini juga bisa mengetahui keterangan semacam jumlah pembaca, penyuka, dan penyebar artikel, seperti yang sudah lazim diketahui lewat Facebook Insights saat kita mengelola Facebook Page.

The New York Times misalnya, disebutkan mendapatkan peningkatan konsumsi konten sampai 30 persen akibat optimalisasi Instant Articles.

Kalau ingin mencoba pengalaman mengakses konten yang sudah dioptimalkan dengan Instant Articles, bisa mengunjungi laman Facebook Kompas.com atau Merdeka.com, dan cari artikel yang didistribusikan dengan ikon petir di pojok kanan atas pada gambar artikel:

instant articles pada laman facebook kompas

Untuk teman-teman pelajar atau mahasiswa komunikasi, kehadiran fitur ini bisa jadi pertimbangan, kalau produksi media bukan lagi soal medium, melainkan konten.

Lalu, menjaring jumlah pageviews saja tidak cukup, karena lebih penting lagi adalah memastikan dampak dan respon audiens terhadap konten yang kita sasar.

Apa komentar mereka? Berapa banyak yang menyebarkannya? Bagaimana cara meningkatkan konversi dari pembaca menjadi partisipan? Yang makin mudah tercapai jika konten yang kita buat memiliki nilai manfaat tinggi, juga mudah dan cepat untuk diakses.

Dan terkait iklan, banner placement di situs makin surut relevansinya, sehingga kita perlu lebih kreatif lagi memikirkan model bisnis dan periklanan pada media yang kita kelola.

Kembali ke soal Instant Articles, tantangan yang mungkin perlu dijawab juga oleh Facebook adalah: Bagaimana memastikan environment jejaring sosial raksasa itu tetap seksi untuk pengguna dari berbagai kategori usia.

Apakah anak muda masa kini (yang juga akan menjadi mayoritas konsumen media masa depan) masih aktif menggunakan Facebook, dan akan memanfaatkan Instant Articles untuk mendapatkan informasi yang mereka butuhkan?

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry