Bicara soal penulisan feature, rasanya belum ada media yang lebih baik di Indonesia, untuk dijadikan rujukan, selain majalah berita mingguan Tempo.

Waktu sempat bergabung dengan lembaga pers mahasiswa saat kuliah, majalah Tempo jadi salah satu media yang wajib dibaca dan dipelajari teknik penulisannya.

Tapi ya namanya belajar lewat mengamati saja, rasanya kurang nendang. Memang yang pas belajar langsung dari para wartawan majalah yang pertama terbit pada 1971 ini.

Mengatasi persoalan dan kebutuhan ini, senior di lembaga pers mahasiswa pun memperkenalkan buku berjudul Seandainya Saya Wartawan Tempo, yang mengurai proses kerja redaksi Tempo dalam menulis dan menyusun berita.

Sejak mulai mengenalnya, buku itu langsung jadi semacam kitab untuk saya dan beberapa teman. Kami menyalin dan membawanya kemana-mana, ibarat panduan yang bisa dipakai kapan saja dibutuhkan.

Buku Seandainya Saya Wartawan Tempo, pertama terbit pada 1996; dan kini sudah beberapa kali dicetak ulang, bahkan dengan desain sampul berbeda.

Jadi, kalau memang berminat, apalagi sedang mengambil studi tentang bidang jurnalistik atau wartawan pemula, buku ini sangat direkomendasikan.

Tenang saja, cara materi disampaikan dalam buku ini sama sekali tak susah diikuti. Gaya tulisannya bercerita, tidak bikin dahi mengerut, dan banyak contoh supaya lebih mudah dipahami. Kalau mengutip slogan Tempo, buku ini enak dibaca dan perlu.

Soal tulisan enak dibaca ini pula yang muncul di bab pertama; judulnya, Pada Mulanya adalah Feature.

Pada bagian itu disebutkan kalau tak mudah menjelaskan definisi feature secara utuh dan memuaskan; meski ada batasan klasik yang bisa dijadikan acuan dasar:

“Adalah artikel kreatif, kadang-kadang subjektif, yang terutama dimaksudkan untuk membuat senang dan memberi informasi kepada pembaca tentang suatu kejadian, keadaan, atau aspek kehidupan.”

Dituliskan juga kalau ada sifat jenis tulisan ini, yaitu: cenderung lebih untuk menghibur ketimbang menginformasikan. Meski ditegaskan pula kalau “menghibur” dalam tulisan feature bukan berarti merendahkan unsur informasi, apalagi fakta.

Maksudnya lebih untuk mengingatkan penulis agar memelihara semangat dan upaya “menghibur” pembaca lewat pengemasan fakta dan data ke dalam cara penulisan yang asyik dibaca dan awet.

Diterangkan juga, pengemasan informasi ke dalam bentuk feature perlu memerhatikan beberapa elemen, seperti:

  • Kreativitas; karena mesti tetap harus akurat, jenis penulisan ini memungkinkan jurnalis “menciptakan” sebuah cerita.
  • Subjektivitas; adalah saat emosi, pikiran, dan pengalaman si jurnalis terlibat ke dalam cerita, hingga berpotensi menyentuh hati pembaca. Tapi perlu berhati-hati, karena tetap tidak bisa mengabaikan syarat karya jurnalistik yang baik, yaitu objektif.
  • Informatif; meski sifatnya tidak aktual, tapi feature bisa memberikan informasi pada masyarakat tentang situasi atau aspek kehidupan yang mungkin diabaikan dalam berita biasa.
  • Menghibur; karena lebih bisa memberi variasi rasa dibandingkan berita biasa. Seperti kumpulan lelucon di tengah para petugas polisi, atau hasil perbincangan dengan nenek berusia 60 tahun. Intinya menghasilkan cerita menarik tentang manusia, dan membuat pembaca seolah hadir dan duduk di tempat spesial.
  • Awet; berita biasa cepat basinya, tapi feature bisa tahan berhari, berminggu, bahkan berbulan-bulan.
  • Panjang tulisan; bervariasi dari dua atau tiga alinea sampai 15 bahkan 20 lembar halaman. Tidak ada batasan, selama masih menarik. Patokan utama adalah minat pembaca. Bukan berarti juga boleh ditulis bertele-tele, karena justru bisa mengurangi kekuatan tulisan feature.
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry