Lulus dari bangku kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama) dengan IPK 3,86 jadi modal lebih dari cukup untuk Desy Setyowati mengejar impiannya menjadi wartawan.

Tak sampai satu bulan sejak kelulusannya, ia pun diterima bergabung di media daring (online) dan riset di bidang ekonomi bisnis, Katadata.co.id.

Selain bekal ilmu dan minat, ia merasa kalau pengalamannya bergabung di organisasi semasa kuliah, yang membuatnya terbiasa diskusi, jadi bumbu yang bikin pengalaman awalnya sebagai jurnalis makin sedap. Berikut perbincangan dengan Desy:

profil wartawan desy setyowati

Laman profil Desy Setyowati di Katadata.co.id

Apa yang ada di benak Desy tentang profesi wartawan saat masih mahasiswa?

Pekerjaan yang menarik dan nggak membosankan. Butuh koneksi dan wawasan luas. Leluasa mengeksplorasi isu untuk jadi laporan atau berita yang mendalam.

Lalu, setelah kini menggelutinya, apakah sesuai dengan perkiraan itu?

Lebih dari yang dibayangkan.

Dari sisi penentuan isu dan sudut pandang atau angle misalnya, butuh konsentrasi lebih baik dan pemahaman mendalam. Selain itu juga perlu diskusi dengan banyak orang. Menariknya, kita jadi lebih paham dan bisa melihat persoalan dari berbagai sudut pandang dan bingkai wawasan.

Lalu soal keleluasaan eksplorasi isu, ternyata nggak semua media memberi kebebasan itu. Ada pula tuntutan kecepatan dan istilah tidak boleh “bobol” dari media lain.

Untungnya, di tempat saya bekerja, keleluasaan itu ada. Tapi usulan yang disampaikan harus kuat datanya, supaya fokus untuk jadi liputan mendalam. Investigasinya juga mesti terukur dan ada goal-nya.

Apa tantangan menggeluti profesi ini?

Banyak! Hahaha. Soal pengambilan angle misalnya, karena saya ditempatkan di bagian ekonomi dengan cakupan luas (termasuk ekonomi makro, moneter, pajak, perbankan, dan saham), sering juga tertinggal isu terbaru.

Hal semacam itu bikin kita jadi terdorong untuk makin gesit mengikuti perkembangan kabar dan belajar lebih banyak tentang ekonomi.

Contoh, soal pelemahan rupiah, kan nggak bisa dipahami dari sisi faktor domestik seperti perlambatan ekonomi saja. Ada juga pengaruh eksternal dan perilaku investor.

Termasuk juga tentang hubungan ke industri atau sektor riil dan perbankan. Atau tentang kemampuan pemerintah dan pengusaha membayar utang.

Keterkaitan semacam ini kadang sulit dipahami seluruhnya oleh seorang reporter, padahal menentukan sulit atau mudahnya kita menentukan angle tadi.

Lalu dari sisi peliputan atau penggalian informasi. Nggak semua narasumber mau menjawab pertanyaan, khususnya yang krusial. Ini sangat menantang.

Ada juga sebagian narasumber, terutama menteri, yang enggan menjawab pertanyaan yang mereka nilai nggak fokus.

Momen seperti ini bikin reporter jadi mesti benar-benar paham teori ekonomi dan mekanisme penentuan kebijakan, supaya pertanyaan yang kita ajukan fokus dan bisa dipahami narasumber dengan baik. Apalagi jawaban mereka, biasanya, hanya beberapa kata, tapi penting.

contoh berita wartawan desy setyowati di katadata

Salah satu berita yang dilaporkan Desy Setyowati di Katadata.co.id

Bagaimana dengan bagian yang menyenangkan dari profesi jurnalis?

Proses diskusi di rapat redaksi itu menyenangkan; ketika berita direncanakan, lalu muncul adu argumentasi dengan data yang dimiliki masing-masing untuk menentukan perlu atau tidaknya mengangkat suatu isu.

Juga dari sisi peliputan, yang seringkali kejadian menyebalkan, tapi justru kalau diingat lagi jadi lucu.

Misal berita sudah lengkap datanya, dan butuh quote; tapi narasumber kabur-kaburan. Kadang lewat pintu belakang. Reporter pun harus hafal nomor plat mobil, tahu alamat rumah, sampai kenal dengan ajudan atau supirnya.

Atau nungguin ageda DPR yang ngaret-nya bisa sampai dua jam, bahkan seharian, tapi kemudian batal. Hahaha.

Pernah juga, kalau pun jadi rapat DPR, mereka bicara dan berdebat urusan nggak penting, sampai harus pulang pagi. Dan reporter duduk manis mengikutinya.

Lucunya, narasumber sering terburu-buru, hingga kabel para wartawan televisi ketuker-tuker. Bahkan ada yang jatuh karena nguber satu narasumber.

Tingkah narasumber juga kadang bikin ketawa. Seperti Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro yang pernah bicara tegas tentang hak dia berjalan ketika dihadang reporter televisi di eskalator.

Anyway, mengejar narasumber yang kabur itu menyenangkan. Hahaha.

Dengan tantangan dan kesenangan itu, apakah memang jurnalis ini profesi yang kami inginkan? Passion?

Saya suka pekerjaan yang menuntun saya berpikir lebih dalam dan luas, dan semua itu saya dapatkan dari pekerjaan sebagai reporter.

Jadi jurnalis bikin saya melihat persoalan dari berbagai sisi. Membuat saya jadi kritis dan skeptis saat menilai persoalan. Maka, iya; ini adalah profesi yang saya inginkan.

Apa impian yang ingin dicapai dari profesi ini?

Wawancara khusus dengan Presiden RI; bicara intim dan mendalam dengannya. Nggak cuma door-stop; kalau itu sih sering. Hahaha.

Lalu melakukan liputan investigasi, yang kemudian bisa dijadikan buku seperti Pemimpin Redaksi saya, Metta Dharmasaputra, yang laporan jurnalistiknya jadi buku dengan judul Saksi Kunci.


Catatan untuk jadi jurnalis dari Desy:

  • Ikuti perkembangan informasi di media sosial. Ikuti juga akun media sosial narasumber, di Twitter atau Facebook; karena banyak isu bisa di-follow-up dari situ.
  • Pantau berita di media lain, selain update isu, kita juga bisa belajar untuk melihat hubungan atau keterkaitan dari suatu isu.
  • Supel dalam pergaulan, dan berteman dengan jurnalis lain. Hal ini penting, karena kita bisa dapat informasi soal agenda atau isu yang berjalan. Perbanyak juga ngobrol dengan wartawan lain untuk memperluas wawasan dan pengetahuan.
  • Selalu catat nomor kontak narasumber yang baru dikenal. Ini sangat penting, dan pasti kelak kita butuhkan.
  • Selektif dalam menentukan narasumber. Pahami latar belakang pendidikan dan pekerjaannya.
  • Jangan mudah percaya dengan sumber yang tidak jelas. Kalau ketinggalan acara atau nggak ikut door-stop, jangan mudah percaya juga dengan wartawan lain yang bersedia memberi rekaman atau hasil transkripsinya. Intinya, jangan percaya dengan informasi yang bukan berasal dari usaha kita sendiri di lokasi kejadian.

Biodata

  • Nama: Desy Setyowati
  • Tempat dan tanggal lahir: Jakarta, 5 Desember 1991
  • Pendidikan: S1 Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama)
  • Pekerjaan: Reporter (Katadata.co.id)
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry