Banyak orang menganggap profesi jurnalis cukup menyenangkan. Tidak harus berpenampilan rapi dan memiliki banyak wawasan. Bekerja di tempat dan dengan tantangan yang berbeda-beda, sering bertemu orang-orang baru tiap harinya. Lalu pesan yang disampaikan si jurnalis dari pekerjaannya jadi bahan diskusi masyarakat pula.

Asyik? Iya sih. Hanya saja tidak selalu seindah itu. Terutama untuk wartawan perempuan…

Kenapa? Karena di lapangan ada saja hal yang menambah tantangan jadi jurnalis untuk seorang perempuan. Menjalani profesi pewarta saja sudah menantang, ditambah lagi urusan-urusan seperti membagi diri di antara urusan pekerjaan dan keluarga, urusan karier dan kenaikan jabatan, sampai sekadar diremehkan oleh narasumber.

Seperti cerita reporter Investor Daily, Damiana Ningsih misalnya. Saat masih jadi jurnalis pemula, Kak Eme (panggilan akrabnya) bekerja menyorot industri yang fokus pada kesehatan. Saat sedang mencari data terkait produk pangan dan obat impor ilegal pada instansi terkait yang berada di bawah tanggung jawab Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) DKI Jakarta, ia merasa diremehkan oleh beberapa narasumber karena pertanyaan yang ia ajukan dianggap dangkal, sampai akhirnya menyuruh Kak Eme mencari jawabannya di website BPOM saja.

“Waktu aku mulai nanya, mereka bilang, ‘baca saja di situs kami. Semua data ada di situ.’ Terus aku bilang kalau aku justru mau minta penjelasannya terkait isi situs. Mereka malah bilang, ‘wartawan kok enggak bisa baca data.’ Sumpah, rasanya aku mau nangis tapi aku tahan dan akhirnya pulang dengan tangan kosong,” kisahnya.

Senada dengan Kak Eme, jurnalis Radio Republik Indonesia (RRI), Puspita Ayu juga memiliki pengalamannya sendiri sebagai wartawan. Ia meyakini kalau jurnalis adalah pekerjaan hati yang tidak bisa dilakukan oleh banyak orang. Pendapat ini diyakini karena profesi jurnalis tidak punya rutinitas tetap yang monoton. Nyaris tidak punya jam kerja dan risiko profesi yang kadang berat adalah beberapa di antaranya.

“Aku bisa bilang, profesi ini butuh passion kali ya. Kalau emang enggak suka, bisa berabe. Cuma serunya, kita bisa melihat banyak hal dari banyak perspektif. Bahkan memungkinkan kita berada sejajar dengan narasumber. Mau itu pemulung atau presiden sekalipun,” imbuhnya.

Menurut Ayu lagi, jadi wartawan itu tak pandang bulu, mau laki-laki atau perempuan sama saja. Mau itu porsi liputan, pembagian isu, jam kerja, tanggung jawab, bahkan fasilitas yang dimiliki, semua sama. Melihat semua itu, Ayu menganggapnya hanya sebagai risiko profesi. Perbedaan perlakuan dan penugasan hanya pada perempuan yang sedang mengandung. Hal ini ada baiknya, tapi juga kadang bisa bikin miris.

Ia pun bercerita, pernah ada satu kasus yang terjadi pada rekan kerjanya yang baru bekerja usai cuti melahirkan, yang berarti anaknya masih berusia hitungan bulan. Suatu hari, si perempuan ini mendapat tugas meliput sebuah kasus yang sedang hangat di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Karena kasus itu cukup besar, maka sama seperti jurnalis lain, si perempuan ini mendapat perintah untuk menetap di kantor KPK dan mengawal tiap perkembangan yang terjadi dari kasus tersebut.

“Itu yang harusnya sudah jam pulang, dia tetap disuruh stay di sana. Alasan kantor karena sudah larut malam dan enggak ada yang bisa gantiin. Padahal dia harus nyusuin anaknya. Air Susu Ibu (ASI) yang dia pompa di rumah sudah habis dan ASI yang sudah dia pompa untuk sore pulang kerja pun basi (karena tak terjaga suhunya). Akibat tidak boleh pulang, ia pun nangis. Keesokan harinya ia request untuk bekerja di kantor saja, tidak mau di lapangan lagi,” kata Ayu bercerita.

“Jadi ya begitu, profesi ini bisa dibilang akan sangat menyenangkan buat mereka yang masih belum berkeluarga. Kalau sudah nikah dan punya anak, mungkin aku akan beralih profesi saja, hehehe,” ungkap Ayu.

Terkait kisah yang diceritakan Ayu, wartawan kontributor Kantor Berita Radio 68H, penerima Tasrif Award yang juga meneliti dan menulis buku Jejak Jurnalis Perempuan, Luviana, pernah menyatakan bahwa dalam perhitungan industri, lamanya waktu bekerja per minggu selalu dianggap sangat menentukan produktivitas jurnalis.

Sayangnya, penilaian ini seringkali hanya menguntungkan wartawan laki-laki, karena beban pekerjaan lelaki umumnya banyak di sektor publik. Sedangkan jurnalis perempuan menjalani dua peran pekerjaan, di sektor publik dan domestik. Hal ini yang kadang luput diperhitungkan industri media.

“Ini terjadi pada wartawan perempuan yang sedang menyusui di jam istirahat. Otomatis, jam istirahat jurnalis berkurang. Hitungan jam istirahat yang berkurang ini tidak masuk dalam perhatian manajemen media. Bahkan jam kerja jurnalis yang sudah lazim lewat dari 8 jam per hari juga dianggap lumrah oleh pengelola media,” kata Luviana yang juga pengelola media online feminis konde.co.

Pun untuk mendapatkan kesempatan naik jabatan, banyak wartawan perempuan sengaja belum menikah agar karier dan tingkat kesejahteraannya bisa setara dengan jurnalis laki-laki. Ditambah lagi, kesadaran tentang kesetaraan gender di kalangan wartawan perempuan masih rendah, hingga semua persoalan hanya dianggap sebagai faktor risiko pekerjaan.

Lara Logan, wartawan perang CBS yang pernah mengalami serangan seksual saat sedang bertugas di Mesir. Bajunya dibuka paksa, dada dan selangkangannya pun digerayangi oleh beberapa orang. Ia bahkan dipukuli dengan tongkat agar tidak sadarkan diri.

Budi Wahyuni, Wakil Ketua Komisi Nasional (Komnas) Perempuan mengatakan, jika mengamati banyaknya kasus pelecehan seksual verbal pun nonverbal di industri media, baik yang dilakukan oleh atasan, rekan kerja, atau narasumber, sudah seharusnya wartawan perempuan mendapatkan proteksi atau jaminan perlindungan yang layak selama pelaksanaan tugas peliputan.

“Jadi sudah saatnya kita semua berpikir bukan tentang bagaimana cara melindungi perempuan baik itu jurnalis atau profesi lainnya. Tapi, kita sudah harus mulai berpikir bahwa perempuan tidak layak mendapatkan kekerasan atau pelecehan apapun alasannya. Jadi, bukan perempuan yang harus berhati-hati. Siapapun tidak layak mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan, laki-laki atau perempuan,” tandasnya.


 

Sumber buku dan penelitian: Jejak Jurnalis Perempuan

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry