Islandia dikenal sebagai negeri bangsa Viking yang orang sebut tanah api dan es; pulau kecil dengan banyak gunung vulkanik; pertemuan lempeng pegunungan amerika utara dan eropa; pulau yang terpencil di antara Faroe Island dan Greenland.

Sewaktu di sana saya merasakan yang namanya angin kencang dan dingin yang hebat akibat dampak badai Sandy dari Amerika.

agus makkie di islandia

Dibandingkan Indonesia yang sudah mendunia sejak lama karena rempah-rempah yang kemudian didatangi para petualang, pedagang dan penjajah. Nyatanya negeri Viking yang masih seperti sebuah pulau, layaknya satu pulau kecil di Nusantara ini kini lebih maju dan kreatif dari Indonesia.

Negeri yang mereka juga bilang Negara paling damai, aman, bebas polusi sedunia, dan yang lebih mencengangkan adalah keterbukaan mereka pada persamaan gender.

Untuk mendatangi Islandia saya tidak memiliki harapan yang berlebihan, data tentangnya hanya saya ketahui dari berbagai website dan email dari teman-teman baru saya; terutama para produser, musisi dan festival organizer.

Saya selalu membayangkan Islandia sebagai sebuah dunia yang sangat unik dan terpencil secara geografis. Negaranya orang Viking, yang menurut sejarah keras dan kejam. Saya mendarat di Kevlavik pertama kali pada 2012 untuk merasakan Islandia yang sebenarnya.

Bagi orang di Indonesia yang belum tahu tentang Islandia akan merasakan kepribadian mereka yang pandai merayakan kehidupan dan karakteristik yang mengutamakan nilai kekeluargaan ala bangsa ini setelah bertemu mereka. Sebuah kejutan di balik wajah dan brewok mereka yang sangar.

Berikut ini kisah yang saya alami selama di Islandia, ketika menyambangi festival musik Iceland Airwaves pada 2012; sebuah kegiatan kesenian di kota Reykjavik, sekaligus magnet wisatawan untuk mengunjungi Islandia.

Saya menginap di guest house Eric the Red di jalan Eiriksgata 6 yang dikelola pasangan Edan dan Runar Sigurdsson. Mereka berdua adalah mantan pemandu wisata dan sangat bersahabat dan suka ngobrol. Usia mereka yang sudah lanjut tak menghalangi semangat mereka mengelola tempat penginapan itu. Mereka sudah seperti keluarga buat saya, dan saya pun merasa sudah jadi bagian dari mereka.

Guest house itu dekat sekali dengan gereja Lutheran terbesar di Islandia, namaya Hallgrimskirkja.

Pada 2012 itu pula pertama kali saya bertemu Kamilla Ingibergsdottir, PR & Marketing Iceland Airwaves. Kamilla adalah sosok yang baik, ia menyambut dengan hangat dan membantu saya mendapatkan Media Pass, Photo dan Press Wristband, serta tiket nonton Sigur Ros. Kamilla kini jadi manajer grup musik Of Monsters and Men.

Momen yang juga menyenangkan ketika berada di sana adalah saat saya berjalan di sepanjang downtown dan menanyakan jalan menuju KEX Hostel pada seorang pemuda yang sedang memarkirkan mobilnya. Anak muda itu bilang, “Kalau mau menunggu saya 5 menit saja untuk mengantarkan kotak-kotak ini ke toko itu, kalian akan saya antar ke sana.”

Nama pemuda itu Sid dari Record Records, dan ia pun mengantarkan kami ke KEX untuk menonton Soley. Setelah menonton dan merekam penampilan sederhana dan singkat dari Soley di lobi KEX Hostel, saya pun bertemu Carry, volunteer dari Seattle KEXP 90.3FM yang kemudian bercerita kalau ia pernah belajar bermain gamelan di Boston (Amerika Serikat, red.)

Look and feel festival musik Iceland Airwaves di kota Reykjavik ini sungguh kental terasa, dan seperti sebuah acara yang dimiliki bersama oleh seluruh penduduk kota itu. Mereka seperti merayakannya bersama sebagi pesta milik mereka. Hal yang juga saya rasakan ketika sempat mengunjungi Montreux Jazz Festival ke-46 di Switzerland, tahun yang sama, saat saya menyaksikan tema jazz di berbagai elemen kota, termasuk window display toko-toko di sana. Sungguh kerjasama dan koordinasi yang baik dari berbagai elemen pengelolaan kota-kota ini.

Kembali ke Islandia, saya sempat pula diundang masuk ke dalam Eldhus, untuk menyaksikan band legendaris beraliran reggae dari Islandia, Hjalmar. Di dalam rumah kecil itu, meski sebetulnya tidak diperbolehkan mengambil foto pun video, kami diberikan kesempatan khusus untuk memotretnya sebelum on-air. Ide ini dibuat oleh Inspired by Iceland dan disiarkan melalui website serta big screen yang ada di dinding Center Hotel.

agus makkie di islandia dan hjalmar

Penampilan Hjalmar di Eldhus sebelum on-air.

Menyenangkan sekali berada didalam Eldhus dan menikmati kesantaian mereka serta musik yang walaupun bertema reggae tapi masih terasa ciri khas Islandia-nya. Malam harinya saya menyaksikan Ulfur di Harpa Kaldalon, yang musik mistis elektronik eksperimentalnya sangat menyita tensi saya, dan saya akui ini sebagai musik alternatif yang keren. Kemudian saya lanjutkan menonton Magnus Leifur yang membawakan alternative rock bernuansa enerjik dengan style yang terasa baru dan segar.

Lalu saya pun bertemu dengan Olafur Arnalds, dan itu adalah sebuah keajaiban bagi saya. Ketika datang suasana sudah penuh sesak, dan saya mendapatkan posisi foto dan rekam video yang agak tanggung. Merekam pertunjukan Olafur saya pun sempat menangis ketika dia memainkan lagu Ljósið (The Lights). Usai show, saya berpapasan dengannya dan langsung menyapanya, “Saya dari Indonesia…” Ia pun menjawab, “Find me in 20 minutes.”

Saya kembali lagi menemuinya, berbincang, sekaligus memberitahunya kalau saya pernah mengirim email untuk dia. Dengan sopan Olafur Arnalds meminta maaf karena belum sempat membalas email saya karena kesibukannya tur keliling Eropa bulan lalu. Namun akhirnya, ia bersedia di-interview. Sungguh baik sekali orang ini.

Saya mewawancarai Olafur Arnalds dengan lancar walaupun sambil repot menyiapkan kamera dan mic sendiri saat mewawancarainya. Dia sangat senang sekali bertemu saya yang jauh-jauh dari Indonesia untuk ngobrol bersama dia.

agus makkie di islandia bersama olafur arnalds

Agus Makkie berfoto bersama Olafur Arnalds.

Menikmati musik dari Ulfur Eldjarn bersama teman-temannya sangat mengasyikkan. Hilhur, manager Apparat Organ Quartet memberi info bahwa mereka belum bisa interview. Tapi saya melihat Ulfur Eldjarn dan teman-temannya mengemasi barang mereka sendiri-sendiri tanpa crew. Saya pun menghampiri Ulfur Eldjarn dan berkenalan.

Kemudian malamnya saya menonton Elektro Guzzi yang enerjik di saat udara dan angin yang berhembus dingin. Setelah merekan penampilan mereka di Sirkus Port saya pun dapat kesempatan untuk mewawancari mereka. Interview berjalan sangat lancar setelah kita mencari tempat yang tepat untuk ngobrol. Elektro Guzzi tampak sangat senang dengan materi interview saya. Kata tim manajemennya, biasanya band ini agak susah dengan para jurnalis, tapi kali ini mereka senang sekali dengan interview saya.

agus makkie di islandia bersama elektro guzzi

Berpose dengan Elektro Guzzi yang puas dengan sesi wawancara.

Esok harinya saya menuju City Hall dalam cuaca yang buruk karena dampak badai Shandy dari Amerika telah melewati Islandia. Di City Hall kami bertemu dengan menteri kebudayaan yang ngobrol dengan santai, kemudian walikota Reykjavik, Jon Gnarr pun datang dan memperkenalkan diri serta bercerita tentang bagaimana ia mengelola kota Reykjavik. Kemudian kami dari grup media (wartawan) pun mengunjungi sebuah opera house tua di pusat kota untuk menikmati Reyka Vodka dan menonton Mugison Show bersama Cheek Mountain Thief, Sindri dari Sin Fang, Mr. Silla, dan Bartonar Kallarkor Kaffibarsins, dengan konduktor Jon Svavar Josefsson.

Ada lagi saat yang menarik ketika saya ke pemandian air panas Blue Lagoon dengan pemandangan batuan alam serta pembangkit tenaga listrik panas bumi di kejauhan. Bauran udara dingin dan kolam air panas merupakan sensasi mengagumkan; ditambah lagi dengan pertunjukkan musik dari DJ Margier, Fridfinnur aka Oculus, Daniel Agust dari Gus Gus, Sisy Ey —penyanyi yang berkolaborasi seperti Beta, Elin og Sigga.

agus makkie di islandia blue lagoon

Penampilan DJ Margier di Blue Lagoon.

Puncaknya tentu saat menonton Sigur Ros di tempat asalnya. Harapannya saya menonton mereka di suasana outdoor, namun kali ini hanya di dalam sebuah hall besar. Opening-nya mengagumkan dengan setting panggung berhias tata lampu dramatis. Memasuki pertengahan (yang suasananya mulai agak drop), Sigur Ros melakukan break sejenak seolah tampak selesai, sampai kemudian mereka kembali dengan gebrakan untuk kembali mengangkat suasana sampai akhirnya menuntaskan lagu terakhir.

agus makkie di islandia motret sigur ros

Penampilan Sigur Ros.

Hari-hari terakhir dalam kunjungan pada 2012 itu saya menuju toko musik 12 Tonar dan bertemu Larus Johannesson untuk melakukan wawancara. Kami ke ruang bawah, ruang kantor kecil sekaligus gudang tempat kami bisa ngobrol panjang dengan leluasa.

Kemudian saya pun melakukan perjalanan dalam trip yang bernama Golden Circle, melihat-lihat air terjun Gullfoss, Strokkur Geysir, air terjun Selfoss, taman nasional Thingvellir hingga melewati daerah parlemen masa lalu, dan melewati daerah pertemuan patahan Eropa dan Amerika yang seolah seperti perbatasan geologis antar dua benua.

Kembali ke Reykjavik dan janji bertemu dengan Ulfur Eldjarn di Hotel Marina, akhirnya saya dapat bertemu dan melakukan wawancara dengan Ulfur salah satu anggota Apparat Organ Quartet. Dia juga memberi saya CD music hasil eksperimen yang dia buat. Kami pun pulang ke guest house dan dibuatkan makan malam oleh Edda dan Runar.

agus makkie di islandia makan malam

Suasana makan malam di guest house yang dikelola Edda dan Runar Sigurdsson.

Hadir juga menantu Edda dan Runar menemani kami malam itu. Hidangan yang disajikan pun lezat dan khas Viking, yaitu ikan haddock, roti, kentang rebus, salad dan wine; tak lupa dessert buatan Edda yang mantap untuk pencuci mulut.

***

Sungguh perjalan ini begitu penting dalam hidup saya, dan membuat riset pribadi saya tentang film, seni, dan kebudayaan makin berwarna. Setelah semua perjalanan yang saya alami, saya kembali mengingat Indonesia. Bagaimana mengangkat local wisdom dan memperkenalkannya pada dunia sebagai kepribadian yang baik dari bangsa kita. Sekarang tak ada lagi batas negara. Segalanya bisa kita capai dalam hitungan detik dengan bantuan internet, dan kita harus merasa bahwa kita adalah salah satu warga dunia.

Indonesia dan Islandia sebetulnya memiliki kesamaan. Ya, sama-sama merasa hidup di pulau yang memiliki keberagaman etnis. Perbedaannya adalah kebudayaan dasar dan bagaimana kebudayaan itu berkembang atau dikembangkan berdasarkan perkembangan zaman.

Layaknya budaya K-Pop yang melanda Indonesia dan mungkin dunia, sebetulnya memang berbeda dengan tradisi etnis asli Korea; tapi kebudayaan ini diciptakan dan dikembangkan untuk tujuan negara dan kesejahteraannya. Musik dari Islandia pun bisa disukai di seluruh dunia, mulai dari Bjork, Sigur Ros, sampai musisi lainnya yang berasal dari pulau kecil ini.

agus makkie di islandia sigur ros

Studio grup musik Sigur Ros.

Bahasanya bisa jadi tak kita mengerti sedikit pun, tapi musiknya bisa bikin kita merasakan kesepian, sedih, bahkan memunculkan keinginan bunuh diri. Orang sedunia menerawang dan jadi ingin mengunjungi Islandia yang terpencil dan sangat dingin itu.

Hal ini ternyata merupakan usaha pemerintah dan pengelola kota dan kebudayaan untuk memperkenalkan Islandia pada dunia lewat jalur seni dan budaya, seperti Korea tadi yang agresif memajukan kebudayaan K-Pop-nya. Sungguh usaha yang mengagumkan kalau kita melihat betul bagaimana kedua negara ini merencanakan dan mengembangkan ide-ide ini dengan matang.

Kita semestinya tidak hanya membahas sisi luar kebudayaan, tapi juga lebih penting lagi tentang cara pikir bahkan mungkin peradaban. Kebudayaan masa lalu dan masa sekarang bisa kita kelola dengan baik dan benar, sehingga kita tidak disebut terbelakang, bahkan primitif, akibat terjebak ego dan keadaan besar kepala karena merasa sebagai bangsa besar, multietnis dan multikultural.

Kita memerlukan budi pekerti, pola pikir, serta pemahaman yang baik mengenai kebudayaan kita, cara mempertahankannya, dan juga cara mengembangkannya.

When you travel, just remember this, “The beauty is within the human, the scenery is just the background.”

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry