Salah satu situs yang asyik diikuti terkait ulasan tentang industri dan komunitas teknologi di Indonesia adalah Tech in Asia (TiA) versi Indonesia; dan ada program yang menarik diikuti, yaitu Ask Me Anything (AMA); karena lewat program itu, TiA memfasilitasi tanya jawab antara narasumber pilihan dan pembaca mereka.

Jumat (8/1/2016) kemarin, salah satu narasumber dalam program AMA adalah Aulia Kushardini dan Nendra Primonik, yang merupakan bagian dari tim awal sekaligus editor situs populer Hipwee.com.

Narasumber Tech in Asia: Ask Me Anything, Aulia Kushardini dan Nendra Primonik dari Hipwee.com. (Sumber foto: Tech in Asia)

Hipwee sendiri adalah media daring yang fokus menyasar anak muda. Konten yang mereka tampilkan dibuat lewat identifikasi minat dan perilaku sasaran pembacanya membagikan konten di media sosial, lalu melakukan eksperimen dengan cara eksplorasi topik sebagai bahan artikel.

Hasilnya, Hipwee dikenal sebagai salah satu media yang memiliki kemampuan membuat konten dengan tingkat viralitas tinggi. Topiknya beragam, mulai dari relationship, traveling, motivasi, sampai tip seputar urusan sehari-hari.

Pertumbuhan pembaca pun berlanjut pada pengembangan Hipwee Community, yang kemudian juga memberikan kontribusi konten pada saluran utamanya. Soal komunitas ini, menurut Aulia Kushardini lewat TiA, kini sudah ada di 6 kota di Indonesia.

Mengenai perkembangan Hipwee ini, dalam diskusi di TiA ditanyakan tentang bagaimana awalnya hingga kini bisa berkembang pesat. Nendra Primonik menjawab, kalau awalnya tim Hipwee sendiri tak tahu persis harus menulis apa, hingga awalnya mereka menulis apapun untuk diterbitkan.

“Mulai dari gambar kucing, kegunaan minyak kelapa, sampai cerita cinta,” ujar Nendra.

Setelah beberapa bulan, baru mereka perlahan memahami apa yang dianggap menarik oleh sasaran pembacanya.

“Kini kami merasa sudah lebih punya sensitivitas tentang apa yang penting untuk anak muda (pembacanya). Kalau dulu kami meraba, sekarang kami tahu harus menuju ke mana,” lanjutnya.

Ia menambahkan soal proses pematangan konten di Hipwee, kalau pada tahun pertama mereka fokus bikin konten dan membangun pembaca, sebelum memikirkan tahap selanjutnya, termasuk soal bisnis (iklan).

laman muka hipwee

Tampilan laman muka Hipwee.com.

Pada tahap konsentrasi urusan konten dan membangun pembaca ini, tersebut juga oleh Nendra, kalau tiap terpikir ide dan diungkapkan pada tim (sebelum digarap), mereka selalu saling mempertanyakan, “Yakin ada yang mau nge-share artikel itu? Kenapa?” —tujuannya, menjaga kualitas konten dari sudut pandang pembaca.

“Konten berkualitas itu yang bermanfaat, menghibur, juga tidak menyia-nyiakan waktu orang yang membacanya. Kalau begini, kualitas konten bergantung pada kebutuhan pembaca kita, yang belum tentu sama dengan kebutuhan pembaca media lain,” ujar Aulia Kushardini.

“Dan menurutku, orang Indonesia itu suka sesuatu yang relatable, catchy, dan useful. Kalau semua elemen itu ada di dalam satu artikel, kemungkinan viralnya lebih besar,” kata Nendra mengimbuhkan, tentang resep yang bikin kontennya bisa punya sebaran tinggi.

Begitu kira-kira cara Hipwee mengembangkan kontennya, hingga bisa menembus minat sasaran pembacanya dari kalangan muda; dan akhirnya menghasilkan secara bisnis.

Karena konten yang matang lewat jalan beriringan dengan pertumbuhan dan interaksi dengan pembaca, kini Hipwee mencatat kunjungan yang juga seksi secara bisnis.

Satu bulan terakhir (sejak pekan pertama Desember 2015), dicek lewat Quantcast, Hipwee.com tercatat memiliki 5 juta pengunjung per bulan, dengan capaian 9,6 juta pageviews. Laman Facebook-nya disukai lebih dari 270 ribu pengguna, serta lebih dari 20 ribu pengikut di Twitter dan Instagram.

Apalagi, kanal bisnis yang dikenal lekat dengan media ini adalah model native advertising alias iklan yang tersisip di dalam artikel orisinalnya. “KPI (key performance indicator) dari klien biasanya, pertama pageviews dan unique visitor; kedua social media shares dan social interactions,” pungkas Nendra.


Sumber foto: Fundbox.com

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry