Buku karya Bill Kovach and Tom Rosenstiel yang berjudul Blur (2011) seolah memang diterbitkan untuk mengingatkan para jurnalis (juga warga) agar tidak sembrono di kala media massa berlomba-lomba menyajikan berita dalam hitungan detik, berkat canggihnya dukungan teknologi informasi saat ini.

Bill Kovach and Tom Rosenstiel merupakan sepasang sahabat yang sebelumnya menyusun buku Warp Speed: America in the Age of Mixed Media (1999) dan The Elements of Journalism: What Newspeople Should Know and the Public Should Expect (2001).

Khusus judul kedua, yang sudah diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa, dikenal juga sebagai panduan tentang sembilan elemen jurnalisme (versi terbaru sudah ditambahkan dengan satu elemen baru tentang hak dan tanggung jawab warga).

Buku Blur yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Judul orisinalnya: Blur: How to Know What’s True in the Age of Information Overload. (Sumber foto: renjanatuju.files.wordpress.com)

Kembali ke Blur, buku yang terdiri dari sembilan bab ini dibuka dengan bagian yang membahas pertanyaan, “Bagaimana kita tahu mana yang bisa dipercaya?”

Masa depan pengetahuan adalah pertanyaan utama pada abad baru kita, karena kembali muncul pergulatan pikiran dan perdebatan tentang modernisme dan medievalisme, juga empirisme, informasi, dan keyakinan; berbagai pokok pemikiran yang kini hidup berdampingan.

Terkait hal itu, Kovach dan Rosenstiel mengurainya dalam perspektif perkembangan komunikasi yang kini terbagi jadi tiga: seni, bahasa, dan tulisan (hal. 15). Soal tulisan ini pula yang berhubungan dengan arus informasi yang kian deras, bahkan membuat masyarakat penerimanya perlu jadi “editor” untuk diri sendiri.

Maka itu dalam pembahasan lain di buku ini terangkan pula tentang keterampilan-keterampilan yang perlu dimiliki masyarakat penerima informasi (hal. 32), seperti cara berpikir skeptis atau mempertanyakan hal seperti, “Konten macam apa ini?”

Jurnalis dan editor Howie Schneider, dalam sesi dengan mahasiswa di State University of New York menandaskan tentang prinsip “Kenali lingkunganmu.” Berita yang kita terima mesti bisa kita identifikasi, apakah termasuk berita, propaganda, iklan, kehumasan, hiburan, atau bahkan sekadar informasi mentah.

Kovach dan Rosenstiel juga menerangkan tentang empat model berita dengan nilai dan tujuan berbeda (hal. 35) seperti: jurnalisme verifikasi, jurnalisme pernyataan, jurnalisme pengukuhan, dan jurnalisme kaum kepentingan. Soal ini juga dijabarkan dengan beberapa contoh agar kita mudah memahaminya.

Tujuan memahami empat model tadi agar masyarakat mampu memilah pemberitaan yang disajikan media massa, juga caranya diproduksi dan dimaknai oleh pembuat atau penerbit berita. Hal yang penting mengingat keberagaman konten dan media, juga kepemilikan media massa dengan berbagai kepentingan.

Reklame iklan CNN yang mengajak publik untuk berpartisipasi dalam produksi berita (diperkirakan muncul di sekitar dekade pertama 2000-an). Sempat jadi kontroversi, karena saat itu validitas jurnalisme warga masih dipertanyakan; sementara CNN mengajak publik melaporkan berita untuk mereka. (Sumber foto: Brandwatch.com)

Pada bab keempat, Kovach dan Rosenstiel juga mengangkat tentang pentingnya fakta (hal. 59), dengan mengembangkan konsep dasar 5W1H dengan tambahan unsur Q (question), mewakili pertanyaan yang bisa muncul dari benak pembaca. Disebutkan, berita yang gagal menjelaskan pertanyaan selanjutnya dari benak pembaca tak lebih lengkap dari berita setengah-setengah (hal. 65).

Untuk melengkapi unsur dalam tulisan berita itu, duo penulis juga menekankan fungsi yang diharapkan konsumen dari dunia jurnalisme (hal. 184-190) kini, dan penting untuk jadi catatan dan diingat para jurnalis dalam kegiatan jurnalistik yang dilakukan.

Fungsi-fungsi itu adalah:

  1. Authenticator — Konsumen perlu wartawan untuk memeriksa autentisitas informasi; fakta yang benar dan dapat diandalkan. Wartawan bukan sekadar penyedia informasi, tapi juga menerangkan bukti dan dasar pemahaman yang kuat, kenapa suatu informasi bisa dipercaya.
  2. Sense Maker — Menjelaskan mengapa dan bagaimana sesuatu jadi wajar untuk diterima akal sehat. Hal yang juga dianggap penting karena kini banyak informasi tidak masuk akal berseliweran di internet, hingga kebingungan dan ketidak-pastian pun bermunculan.
  3. Investigator — Wartawan juga berfungsi sebagai investigator untuk mengawasi kekuasaan, serta membongkar kejahatan dalam pelaksanaan pemerintahan. Jurnalisme membongkar apapun yang tersembunyi atau dirahasiakan, maka perannya penting untuk merawat demokrasi. Hal ini fundamental, sejak jurnalisme era lama, hingga kini.
  4. Witness Bearer — Berbagai kejadian di dalam dinamika kehidupan masyarakat perlu diamati, dipantau, dan diteliti. Wartawan mesti ada di berbagai tempat di lapangan, agar bisa jadi saksi langsung dari kejadian penting. Jika sumber daya kurang memadai, maka harus menemukan cara agar mendapatkan bantuan dari pewarta warga (citizen journalist); sekaligus kesempatan menciptakan kemitraan dengan publik, dan alasan kenapa masyarakat pun wajib memberdayakan jurnalisme, yang kemudian jadi catatan pada fungsi berikutnya.
  5. Empowerer — Fungsi saling memberdayakan di antara pelaku jurnalistik profesional dan warga. Wartawan perlu juga memberdayakan warga dengan membagikan pengalaman dan wawasan terkait news gathering secara aktif.
  6. Smart Aggregator — Masyarakat memerlukan hasil agregasi informasi yang rajin dan cerdas menelusuri berbagai sumber untuk menyuguhkan informasi bermutu pada publik. Wacana organisasi berita sebagai “taman tertutup” yang hanya menawarkan karya mereka sendiri sudah berakhir; kini wartawan juga harus cerdas berbagi hasil pengolahan dari berbagai sumber yang bisa diandalkan.
  7. Forum Organizer — Organisasi berita, baru atau lama, dapat berfungsi sebagai “alun-alun” tempat warga bisa memantau suara dari semua pihak, bukan hanya ideologi mereka sendiri atau suara dari sebagian kelompok saja.
  8. Role Model — Media gaya baru, terutama yang merupakan warisan dari nama besar media lama yang sudah terkenal, untuk bertahan hidup perlu berfungsi sebagai panutan untuk warga yang berminat dan ingin menjadi pewarta warga (citizen journalist).

Perkembangan teknologi pada akhirnya akan membawa perubahan, tidak saja pada cara kerja tim redaksi dalam organisasi media, tapi juga publik; untuk bersinggungan langsung dengan kegiatan pengelolaan media massa.

Karena salah satu karakteristik media yang kini perlu disadari adalah kemungkinan berita dikemas secara lebih dalam, padat, dan luas (hal. 191-192); bukan sekadar cepat. Hal ini pula yang membuat media gaya baru lebih potensial menjangkau publik lebih luas dibandingkan media konvensional.

Literasi media juga jadi hal mutlak yang perlu dipelajari dan dipahami, tak hanya orang jurnalis, tapi juga publik; agar mampu melakukan seleksi di era informasi yang makin deras. Bahkan warga sebaiknya aktif memberikan kontribusi jadi kreator atau pelaku aktif jurnalisme warga.

Filosof dan praktisi pendidikan John Dewey pernah berujar, yang juga dituangkan dalam bagian akhir buku ini:

“Satu-satunya peran pers yang dapat dibenarkan adalah membantu mendidik publik. Membantu publik jadi lebih mampu berpartisipasi dalam masyarakat demokratis. Pers tidak punya tugas lain di luar itu; tidak juga dengan hanya melakukan pendidikan secara insidental. Demokrasi tidak bisa selamat dengan itu.”

Begitulah; dan buku ini layak dibaca bahkan jadi pedoman para praktisi media, akademisi dan pelajar studi komunikasi, juga pemerhati media.

Dengan membacanya, kita bisa makin memahami proses mengais dan memproduksi informasi, yang kini tak hanya dilakukan oleh jurnalis profesional, tapi juga publik (citizen journalism). Buku yang dicetak terbatas oleh Dewan Pers dan Yayasan Pantau ini bisa didapatkan secara gratis dengan cara mengajukan permohonan pada Dewan Pers.


  • Judul: Blur
  • Penulis: Bill Kovach & Tom Rosenstiel
  • Penerbit (versi bahasa Indonesia): Dewan Pers & Yayasan Pantau (November 2012)
  • Jumlah halaman: 225
Like
Like Love Haha Wow Sad Angry