Berpikir out of the box atau di luar kotak merupakan metafora yang maknanya berpikir berbeda atau dengan perspektif baru untuk mencari ide atas solusi dari masalah yang ada.

Frasa ini kerap dihubungkan dengan terminologi creative thinking dan sejak 1970-an menjadi creative mantra yang cukup populer.

Buat beberapa orang, mantra ini terbilang ampuh untuk menghasilkan ide solusi yang cemerlang. Sedangkan untuk sebagian lainnya, hanya jargon omong kosong.

Well, saya cenderung melihatnya dari persepektif tengah saja.

Sering kali, berpikir di luar kotak tidak menjadi jawaban atas masalah yang ingin dipecahkan. Kenapa? Karena masalahnya ada di dalam kotak; kenapa kita harus berpikir diluarnya?

Lalu, kalau sudah begitu bagaimana menghubungkan solusi yang ada di luar kotak dengan masalah yang ada di dalam kotak? Bagaimana menjembataninya?

berpikir dengan prinsip 5w1h

Harap diingat, bahwa berpikir kreatif harusnya berdasarkan motivasi memecahkan masalah yang ada, bukan malah menambah persoalan baru.

Ok, bicara soal kotak, manusia adalah makhluk sosial yang terikat berbagai nilai sosial dalam sebuah sistem kemasyarakatan (atau apa pun namanya), di mana pun ia berada.

Jika dia berada di sebuah perusahaan, berarti ada di kotak sistem manajemen. Kalau di rumah, berarti dia berada di kotak sistem kesepakatan prinsip yang diciptakan bersama dalam keluarganya.

Kotak ibarat satuan sistem yang mengikat kita sebagai makhluk sosial. Dan manusia dalam kesehariannya tidak hanya terikat hanya pada satu kotak saja.

Contoh: Seorang pria berusia 40 tahun yang memiliki istri dan dua orang anak, bekerja sebagai kepala divisi marketing pada perusahaan makanan. Di dalam keluarganya sendiri saja dia sudah memiliki setidaknya empat kotak.

Yaitu kotak sistem dia dengan istrinya; kotak sistem dia, istri, dan kedua anaknya; kotak sistem dia dan kedua anaknya; dan satu lagi yang menghubungkan ketiga kotak tadi dalam satu kotak besar sistem keluarganya.

Bagaimana dengan urusan di kantornya? Bisa kepanjangan kalau terus diceritakan di sini ;p

Sering kali, berpikir di luar kotak tidak memecahkan masalah; karena persoalannya ada di dalam kotak.

Contoh lain, kita coba umpamakan kotak itu adalah kamar kita. Keadaan di dalam kamar tersebut otomatis mencerminkan kepribadian kita.

Suatu hari, Si Mbok yang baru dipekerjakan di rumah oleh ibu masuk ke dalam kamar kita, dan membersihkan semuanya, serta menata barang-barang yang berantakan jadi rapi.

Apa yang terjadi selanjutnya adalah kita jadi bingung mencari letak barang tertentu yang sebelumnya bisa dengan mudah kita temukan, walau berantakan.

Tidak jarang pula karena urusan begini kita jadi marah dan tidak suka, serta menganggap tindakan Si Mbok itu lancang.

“Baru juga kerja sehari dan padahal niatnya baik, tapi udah kena omel. Sedih mbok…,” begitu pikir Si Mbok.

Tapi hal ini tidak akan terjadi jika sebelumnya kita menyadari bahwa kamar kita berantakan dan meminta dirapikan oleh Si Mbok.

Ada kesadaran dari dalam diri bahwa kotak kita berantakan dan kita pun menyadari kebutuhan untuk membersihkannya. Namun karena tidak ada waktu maka kita minta Si Mbok yang baru bekerja untuk membantu merapikannya.

Moral cerita di sini adalah: Sebelum kita berpikir di luar kotak, kita perlu menyadari dulu masalah yang ada (WHAT) di dalam kotak.

Setelah itu adalah mencari tahu kenapa kita perlu mengatasi masalah tersebut? (WHY).

Baru memikirkan solusi atau cara penyelesaiannya (HOW); dengan siapa (WHO) yang mungkin bisa membantu kita, serta kapan (WHEN) dan di mana (WHERE).

Sebelum berpikir di luar kotak, kita harus sadar terlebih dahulu masalah di dalam kotak, agar solusi yang diterapkan bisa lebih tepat guna.

Selamat berpikir di luar kotak! Tapi jangan kejauhan ya, karena masalahnya di dalam, bukan di luar.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry