Bencana ibarat sudah jadi sahabat karib sekitar 230 juta penduduk Indonesia. Mulai dari gempa, letusan gunung berapi, banjur, longsor, sampai serangan tsunami. Hal ini karena letak geografis Indonesia yang berada di antara tiga lempeng tektonik dunia, lempeng Hindia, lempeng Eurosia, dan lempeng Pasifik.

Sebagian besar wilayah Indonesia juga termasuk daerah cincin api (rings of fire) yang merupakan jalur rangkaian gunung api teraktif di dunia.

Meski sering menghadapi bencana alam, informasi dan pendidikan tentang pengendalian bencana di Indonesia masih tergolong minim. Bencana tsunami di Nanggroe, Banda Aceh (2004) dan gempa di Daerah Istimewa Aceh (2005) yang mengakibatkan ratusan korban jiwa dan harta benda tak membuat pemerintah dan masyarakat Indonesia lebih waspada dan serius terkait penanggulangan bencana.

Pendidikan tentang bencana alam ini juga diperlukan para jurnalis, terutama yang melakukan peliputan bencana.

Peliputan bencana alam memiliki karakteristik tersendiri yang memerlukan pengetahuan reporter tentang situasi bencana yang terjadi, juga pendekatan yang berpatokan pada nilai-nilai empati, khususnya pada korban.

jurnalisme bencana

Salah satu hasil reportase foto pada bencana tsunami di Banda Aceh (2004). (Sumber foto: Kompas.com)

Pola pemberitaan yang disajikan oleh TVOne dan MetroTV pada saat kejadian bencana, seperti yang terjadi di Wasior (Papua), Mentawai (Sumbar), dan Merapi (Yogyakarta, Jateng) misalnya membuat kita terhenyak dengan pengetahuan jurnalis yang ternyata minim terkait bencana dan pola pendekatan terhadap korban.

Pewarta saluran televisi berita TVOne bahkan sempat diusir warga Yogyakarta karena pemberitaannya yang dinilai menyesatkan saat terjadi erupsi Merapi. Disebut-sebut juga, repoter TVOne menyebutkan radius awan panas mencapai pusat kota Yogyakarta yang berakibat paniknya warga kota dan bikin kekacauan saat proses evakuasi.

Di media sosial Twitter, bahkan ada sejumlah warga menempelkan tulisan yang melarang wartawan TVOne masuk ke wilayah mereka untuk keperluan peliputan. Alasannya karena dianggap menyesatkan, dan pola pendekatannya tidak mengedepankan empati pada korban.

Pertanyaan seperti, “Bagaimana perasaan ibu berpindah-pindah tempat pengungsian?”

Atau, “Bagaimana perasaan bapak apabila putri bapak tidak ditemukan?” dan sebagainya, sering dijadikan pertanyaan pembuka untuk mengetahui keadaan korban, meski sebetulnya dari ekspresi wajah saja kita sudah bisa menangkap perasaan korban.

Korban pun diposisikan lagi sebagai korban di media massa, akibat berondongan pertanyaan yang menyudutkan. Ketidakmampuan reporter menggali informasi dari korban secara apik pun membuat jurnalistik jadi bencana baru untuk si korban.

Dalam buku Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme, penulis Ahmad Arif menggambarkan tentang posisi wartawan dalam memberitakan bencana saat peristiwa tsunami di Aceh (2004); yaitu, dilema antara ingin membantu korban dengan menuliskan berita, dan kepentingan berita yang “laku dijual” karena mampu mendorong rating dan share penonton berita tentang peristiwa tersebut.

Tak hanya itu, keselamatan dan keamanan si wartawan sendiri sering diposisikan nomor dua karena tuntutan deadline dan laporan berita.

Dilema ini dirasakan para wartawan dalam meliput berita bencana, karena tak jarang tuntutan mengejar rating bagus dan oplah tinggi bisa membuat editor atau pemilik media memaksa wartawan membuat liputan eksklusif, meski menantang maut (hal. 18).

jurnalisme bencana

Buku Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme yang disusun oleh Ahmad Arif, wartawan yang juga pemimpin Ekspedisi Cincin Api garapan Kompas. (Sumber foto: Goodreads)

Perilaku media yang seperti ini tidak menyelesaikan persoalan yang terjadi di daerah bencana, karena fokus media hanya tertuju pada analisa ilmiah tentang kejadian gempa dan tsunami, mereka-reka angka korban, skala kerusakan secara makro, dan haru biru korban; tapi tidak menyentuh soal distribusi bantuan dan kebutuhan logistik yang lebih diperlukan di tengah peristiwa bencana.

Bercermin dari bencana tsunami di Aceh itu, media dinilai gagal mendorong masyarakat jadi lebih waspada pada bencana yang terjadi, dan atau mendorong perubahan positif.

Memang, media berhasil mengajak khalayaknya berpartisipasi dalam proses pemulihan daerah bencana dalam bentuk aksi sosial, namun tidak juga mengungkap secara detail tentang penyaluran dana atau bantuan itu ke daerah bencana.

Kemandulan media juga terlihat dalam pengawalan penyaluran bantuan dari masyarakat dunia yang jumlahnya mencapai 80 triliun rupiah untuk membangun kembali Aceh pascatsunami. Media berperan menggunggah bantuan, tapi gagal mengawal penggunaannya (hal. 133).

Salah satu penyebab media tidak mampu melakukan perubahan nyata adalah lemahnya posisi tawar media akibat ketidakmampuan memperjuangkan posisi wartawan dalam melakukan peliputan di daerah bencana.

Gambaran di lapangan pun diungkapkan Ahmad Arif, “Di medan bencana saya menemukan retasnya daya dukung bisnis media dalam memperjuangkan kemandirian peliputan para wartawannya, merupakan salah satu penyebab lemahnya daya tawar media dalam mendorong perubahan. Dosa itu bernama jurnalisme pendompleng atau lebih kerennya: embedded journalism.” (Hal. 137).

Arif menggunakan istilah embedded journalism untuk menggambarkan wartawan yang menebeng pihak lain, entah itu tentara, organisasi nonpemerintah, pun pemerintah yang berwenang.

Sebetulnya sudah banyak kritik terkait “jurnalisme nebeng” ini kalau bicara soal peliputan perang. Namun masih sedikit yang menyinggungnya terkait peliputan bencana atau rekonstruksi pascabencana.

Posisi sebagai wartawan dalam meliput bencana menyebabkan sulitnya wartawan bersikap kritis dalam menulis laporannya. Seperti diungkapkan Arif, “Bagaimana bisa wartawan penebeng mengkritik lembaga yang telah membiayai perjalanannya, memberinya tumpangan tidur, bahkan sarapan, makan siang sampai makan malam? Beberapa lembaga pengundang bahkan memberikan uang saku (hal. 139)”

Selain itu, Arif juga mengkritik media yang sering mencecar pertanyaan yang hanya fokus pada perasaan korban dan tidak memedulikan empati pada korban. Pemirsa seolah sedang menyaksikan reality show yang menggugah emosi karena parade airmata di layar kaca.

jurnalisme bencana

Potret seorang perempuan yang menangis pasca gempa dahsyat di kawasan Qinghai, Tiongkok bagian barat. (Sumber foto: Republika)

Tayangan televisi yang detik demi detik menampilkan live on the spot report terkadang disajikan tanpa sensor dan vulgar saja menampilkan gelimpangan jenazah korban bencana untuk mendorong unsur dramatisasi dan memikat lebih banyak penonton. Tragis!

Arif pun mengutip pernyataan Susan D. Moeller terkait compassion fatigue, yang intinya menyebutkan kalau masyarakat saat ini jatuh pada sindrom compassion fatigue atau bebal dan tak acuh pada pemberitaan bencana. Ketika berita-berita menyedihkan itu terlau sering dijejalkan pada mereka secara vulgar, maka kepedulian pun surut dan akhirnya hilang empati pada pemberitaan bencana kemanusiaan lainnya (hal. 140-141).

Media massa merupakan cerminan berbagai macam kejadian di dunia, namun apakah ini semua hanya soal perolehan rating, jumlah audiens atau penyerapan angka belaka? Pertanyaan besar ini perlu dijawab oleh organisasi media.

Karena dalam jurnalisme bencana, media dengan mudahnya menggambarkan korban dan mencari korban baru untuk dieksploitasi karena memiliki nilai ekonomis dan menarik sebagai objek.

Dalam bukunya, Ahmad Arif mengungkapkan juga pola-pola pendekatan yang ia lakukan saat melakukan peliputan di Aceh pascatsunami. Salah satu korban tsunami, Nurleli merasa letih dijadikan objek berita. Hal ini menurut Arif menunjukkan kalau korban bencana bisa jadi korban berita kalau wartawan tidak menghormatinya dan hanya menganggapnya sebagai objek peliputan (hal. 144).

Arif pun memaparkan kalau banyak rekan sesama wartawan yang beralih profesi jadi pegawai di berbagai lembaga donor pada masa rekonstruksi demi peningkatan kesejahteraan. Sayangnya, sebagian besar di antara mereka yang bekerja di berbagai organisasi ini masih mempertahankan statusnya sebagai wartawan. Sebagian bahkan masih tetap menulis berita (hal. 151). Wartawan yang merangkap semacam ini bisa bikin pemberitaan jadi bias.

Bencana alam juga membuat organisasi media menggalang dana bantuan dan menyalurkannya pada korban. Misal MetroTV dengan program Indonesia Menangis, yang kemudian diikuti beberapa stasiun lain, mereka mewawancarai penyumbang dan menyematkan pin sebagai tanda terima kasih pada penyumbang.

Mengutip Masduki, praktisi media yang juga dosen ilmu komunikasi Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, media memanfaatkan kredibilitasnya di benak khalayak untuk menjalan peran sebagai distributor bantuan, yang sekaligus kesempatan ruang iklan dan ruang penjaringan data korban penerima bantuan (hal. 154).

Akibatnya, disebutkan Arif, kelemahan jurnalisme bencana ini mendorong pertumbuhan media-media komunitas, untuk mengatasi sempitnya informasi yang berpihak penuh pada kepentingan korban. Jurnalisme warga pun jadi jembatan khalayak mendapatkan informasi. “Jurnalisme partisipatif menghapus batas antara pihak yang terkena dampak dengan yang melakukan peliputan peristiwa,” seperti dikutip dari buku George D. Haddow dan Kim S. Haddow berjudul Disaster Communications, In A Changing Media World.

Sebagai tawaran solusi, Ahmad Arif penulis buku Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme pun berbagi bekal untuk para wartawan yang terjun dalam peliputan bencana (hal. 163-170). Beberapa diantaranya, wartawan mesti memiliki pemahaman tentang lingkungan sekitar. Jurnalis juga harus mendapatkan pelatihan khusus, terkait persiapan diri dan teknis.

Membatasi diri sendiri juga penting untuk wartawan, karena seringkali jurnalis menghiraukan keselamatan dirinya demi berita, dan tidak menyadari potensi trauma yang bisa ia alami sebagai akibat ketegangan saat meliput daerah bencana. Lalu tentang cara melakukan rotasi tugas, meliput dan menampilkan korban, serta mengawal rekonstruksi daerah bencana.

Buku Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme ini layak dijadikan referensi untuk pelajar, pendidik, juga pelaku dunia jurnalistik karena pemaparannya yang menyeluruh tentang aktivitas wartawan terkait reportase bencana. Buku ini juga membuka wacana tentang bagaimana bencana dicitrakan di dalam media. Apakah media sudah berpihak pada kepentingan korban? Atau hanya bersandar pada kebutuhan rating atau audience traffic saja?

Diharapkan, lewat buku ini kita jadi lebih mengenal dan mewaspadai bencana yang kerap terjadi di Indonesia. Dan yang terpenting, menjadikan jurnalisme bencana sebagai penggerak perubahan dalam persiapan masyarakat yang tanggap bencana, dan tidak menjadikan berita atau karya jurnalistik jadi bencana baru.


 

Judul: Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme: Kesaksian dari Tanah Bencana
Pengarang: Ahmad Arif
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) bekerjasama dengan Tembi, Tifa, dan LSPP
Waktu terbit: April 2010
Jumlah halaman: +193 halaman


Sumber foto: peribiru89.blogspot.co.id

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry