Konten dalam bentuk video bisa dibilang sebagai jenis paling disukai konsumen media saat ini, khususnya digital. Bahkan, banyak dengar juga kalau format video bakal makin populer dan terus berkembang penyajiannya.

Kita sendiri mungkin biasa menonton konten video di media internet lewat media sosial, seperti YouTube, Vine, Instagram, atau Snapchat. Kalau di media berita daring (online), beberapa sudah menyediakan channel buat video (seperti DetikTV atau Viva.co.id/video), tapi mungkin jarang kita lihat dibandingkan via media sosial tadi. Alasannya bisa karena kontennya, bobotnya yang berat saat diakses, atau tidak mudah ditonton secara mobile.

Memang, konten video ini cukup menantang untuk dilakoni serius oleh pengelola media massa; salah satu alasannya mungkin soal produksi video yang enggak segampang bikin artikel teks. Tantangan ini bukan cuma buat media di Indonesia, tapi juga di banyak negara lain.

Tapi, para pengelola media mungkin bisa memetik pelajaran dari kesuksesan media channel bernama NowThis asal New York, Amerika Serikat, yang berdiri empat tahun lalu. Karena apa yang dicapai NowThis kini boleh dikatakan sebagai cerita sukses media mengandalkan konten video.

Pada Januari 2016 ini, NowThis ditonton sampai 1 miliar kali per bulan, dari ditonton sekitar 600 juta kali per bulan pada Oktober 2015. Artinya, dalam tiga bulan terakhir dari Januari, mereka meningkatkan jumlah tontonan per bulan sampai sekitar 400 juta kali per bulan! Padahal, saat Managing Editor Versha Sharma bergabung dengan media ini pada Juli 2014, NowThis hanya ditonton sampai 1 juta kali per bulan.

Salah satu keputusan penting yang lahir di bawah kepemimpinan Versha adalah penutupan website NowThis (sebagai medium utama penyajian konten) pada Februari 2015, dan fokus pada distribusi konten di media sosial. “Dan keputusan menutup website itu adalah keputusan terbaik yang pernah kami ambil,” ujarnya, seperti dikutip dari Journalism.co.uk.

“Kami jadi lebih mendalami strategi distributed content, dan memikirkan lebih serius tentang cara menyesuaikan konten kami ke dalam platform berbeda yang juga memiliki audience unik masing-masing,” imbuhnya.

Baca juga: Memahami gelombang distributed content

Bagaimana struktur redaksi NowThis?

NowThis ditopang oleh lima tim editorial untuk mengurus materi konten di 9 platform media sosial.

Tiga tim difokuskan pada produksi video untuk Facebook; masing-masing untuk laman utama NowThis Faceboook Page, NowThis Election, dan NowThis Entertainment.

Bernie Sanders speaks to NowThis about college educationBernie Sanders wants to make college free by making Wall Street pay for it

Posted by NowThis on Friday, August 28, 2015

 

Lalu satu tim untuk Twitter @nowthisnews, yang fokus pada berita hangat dan populer.

 

Serta satu tim lagi (disebut sebagai emerging media team) khusus memproduksi konten untuk SnapChat, Vine, Instagram, Tumblr, YouTube, Weibo, dan WeChat.

Bagaimana NowThis memproduksi kontennya?

Mereka semua memulai tiap hari dengan rapat pagi, untuk semua orang menjelaskan tentang materi yang akan mereka kerjakan hari itu. Selanjutnya, enam orang produser senior akan memutuskan materi atau cerita mana yang akan diangkat, dan di platform yang mana.

Jika ada peristiwa besar terjadi, maka mereka akan menentukan cara menyajikan topik atau isu itu ke dalam 9 platform yang mereka gunakan (Facebook, Twitter, SnapChat, Vine, Instagram, Tumblr, YouTube, Weibo, dan WeChat).

“Para produser mesti memahami betul karakteristik tiap plaftorm, bahkan dari alasan kenapa platform tersebut dibuat pada awalnya. Misal, Snapchat memang dibuat untuk penggunanya berbagi foto lucu atau semacam artwork on-the-go dengan teman-temannya. Jadi snaps yang kami buat mesti lebih artistik ketimbang video Facebook kami,” kata Versha Sharma, menerangkan.

Untuk mengedit video, para produser mengandalkan software seperti Adobe Creative Suite. Selain itu, mereka juga mendesain content management system (CMS) khusus yang disebut Switchboard, yang memungkinkan tim redaksi NowThis melakukan editing sekaligus mendistribusikan konten ke berbagai platform.

Keunggulan CMS khusus ini adalah kemampuannya membantu kreator untuk merilis video yang bobotnya ringan untuk ditonton audience lewat perangkatnya masing-masing, sehingga video NowThis tidak makan waktu lama untuk loading.

CMS ini juga memberikan gambaran video yang ideal untuk tiap platform, termasuk kombinasi gambar, teks, dan suara. Bahkan salah satu fiturnya bisa memberitahu tentang gambar atau komposisi serupa yang pernah dirilis sebelumnya, sehingga memperkecil kemungkinan video serupa, dan para produser tak repot mengingat-ingat atau mencari-cari video lama untuk memastikan keberagaman konten.

Per hari, tim NowThis memproduksi sekitar 60 video ke 9 platform yang mereka gunakan. Termasuk di dalamnya, breaking news, trending news, dan explainer journalism.

Dari semua itu, topik yang paling disukai audience NowThis secara umum adalah soal politik, kriminalitas, kekerasan oleh polisi, serta isu ras dan gender.

Soal durasi, seluruh video Facebook berada di bawah dua menit, dan masa paling penting dari durasi itu biasanya pada 60-90 detik pertama. Sementara untuk Twitter biasanya sekitar 30-60 detik, 10 detik untuk Snapchat, dan tentunya 15 detik untuk Instagram, dan 6 detik untuk Vine.

Bagaimana NowThis memantau traffic-nya?

Ada sebuah tim khusus yang tugasnya memantau performa tiap video di berbagai channel. Selain memantau dan menganalisis, tugas mereka juga adalah memberikan feedback pada produser dan editor terkait performa video dan juga topik atau percakapan yang sedang ramai berlangsung di berbagai saluran media sosial.

Menurut Managing Editor Versha Sharma, tim ini menilai shares sebagai elemen paling penting dari respon audience terhadap tiap video. Dan uniknya, nilai ini bisa berbeda-beda ukurannya pada masing-masing platform. Misal, shares di Facebook tidak diukur dengan cara yang sama dengan Snapchat.

“Pada Snapchat, kami melihat jumlah screenshot yang dilakukan audience pada konten kami, dan konten mana saja yang mereka screenshot,” katanya.

Bagaimana NowThis menjaga hubungan dengan audience-nya?

Para produser dan kreator di tim kami diarahkan tidak hanya untuk membuat konten yang penting dan relevan, tapi juga membangun relasi dengan para pengguna di berbagai media sosial. Secara teratur mereka tak hanya memantau pesan dan komentar, tapi juga meresponnya dengan komentar balik.

“Jika kami merilis video yang memuat tentang rencana Hillary Clinton, dan ternyata banyak komentar meminta sudut pandang lain dari materi itu, maka kamu akan meresponnya dengan apresiasi dan memberitahu mereka kalau akan ada video follow up, atau informasi tambahan dari sudut pandang lain itu,” ujar Versha.

“Kami memiliki ruang redaksi yang progresif dan kreatif. Kami mengupayakan agar audience kami menjadi cerminan ruang redaksi kami, sehingga membuat kami memiliki editorial voice yang unik dan autentik di tiap platform yang kami gunakan,” pungkasnya.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry