Pewarta mode atau fashion kadang dianggap remeh di medan tempur jurnalisme, karena mungkin topiknya dirasakan hanya bicara soal gaya berpakaian, dan tak sama pentingnya dengan politik atau ekonomi.

Padahal, fashion bukan sekadar urusan gaya atau berbusana; tapi juga cermin sosial, tentang cara kita mengekspresikan diri, agar nyaman dan makin percaya diri.

Kalau mengutip desainer Coco Chanel, “I don’t do fashion. I am fashion.” Ya, fashion bukan hanya soal sepotong kain, tapi lebih pada cerita tentang manusia.

Hal itu pula yang diungkapkan jurnalis fashion Nurulia Fitri, atau lebih akrab disapa Ruri, pada kegiatan Rabu Diskusi (Radis) di Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama), Jakarta.

“Kalau kemudian menginspirasi orang lain, itu hanya bonus,” ungkapnya.

jurnalisme fashion

Gambaran salah satu kegiatan dalam penggarapan konten fashion pada penerbitan media massa. (Sumber foto: cj222.wordpress.com)

Diterangkan pula oleh Ruri, kalau prinsip dalam kegiatan ini sama dengan jurnalisme di bidang lain, untuk mengungkapkan fakta dalam cerita. Tujuan utamanya melaporkan tren terkini, atau justru menciptakan tren baru lewat artikel berita, kolom, foto atau fashion spread, bahkan kritik.

“Menurut Suzy Menkes, kritikus fashion dari International Herald Tribune, dalam penulisan jurnalistik tentang fashion harus ada subjek yang jelas dan menarik. Penggarapannya dilengkapi dengan riset dan penggalian informasi yang lengkap, serta selalu menerapkan standar jurnalistik yang baik,” ujarnya.

Ruri juga bercerita kalau jurnalisme fashion bukan baru lahir kemarin sore, tapi sudah berkembang sejak awal abad ke-20. “Bahkan majalah Vogue sudah lahir sejak 1892. Lalu ada La Gazette du Bon Ton dari Prancis yang terbit 1912 sampai 1925,” katanya.

Pertumbuhannya makin pesat ketika media noncetak seperti televisi sampai internet berkembang dan mengangkat topik fashion.

“Bahkan budaya populer juga mengadaptasi jurnalisme fashion ke layar lebar lewat film seperti The Devil Wears Prada (2006), Confessions of A Shopaholic (2009), The September Issue (2009), atau film lokal Fashion 1 Hari (2010),” urainya.

Salah satu adegan dalam Fashion 1 Hari (2010)

Salah satu adegan dalam Fashion 1 Hari (2010), garapan sutradara Syahmedi Dean, yang juga pewarta gaya hidup. (Sumber foto: tangkapan layar video YouTube)

“Kalau suka baca blog, kini juga sudah banyak fashion blogger yang situsnya disukai banyak orang, seperti The Sartorialist atau Jak&Jil,” imbuhnya.

Tak hanya karya seperti majalah atau film, persona di bidang fashion journalism juga tak sedikit yang masuk ke dalam deretan tokoh penting di industri mode.

Sebut saja pemimpin redaksi majalah Vogue di Amerika Serikat, Anna Wintour, yang bisa dibilang sebagai salah satu tokoh paling disegani di dunia fashion.

Pemimpin redaksi majalah Vogue, Anna Wintour.

Pemimpin redaksi majalah Vogue sejak 1988 sampai sekarang, Anna Wintour. (Sumber foto: blog.indiaspopup.com)

Atau penulis asal Italia, Anna Piaggi, yang tak hanya bergerak di bidang penerbitan, tapi juga seorang ikon di bidang yang digelutinya.

Penulis dan kritikus fashion peraih Pulitzer dari The Washington Post, Robin Givhan.

Penulis dan kritikus fashion peraih Pulitzer dari The Washington Post, Robin Givhan.

Bahkan, ada Robin Givhan dari The Washington Post yang pernah mendapatkan penghargaan bergengsi di bidang jurnalistik, Pulitzer pada 2006, untuk kategori kritik. Ia dianggap membawa tulisan fashion jadi kritik budaya yang berpengaruh.

Di Indonesia ada Samuel Mulia, yang sudah memasuki pentas mode Tanah Air sejak 1963. Tak hanya jadi jurnalis, ia juga dikenal sebagai perancang busana dan konsultan branding.

“Menurut Samuel Mulia (dalam film Fashion 1 Hari, keuntungan menjadi jurnalis fashion itu adalah kesempatan traveling, networking, dan close access to the luxury things,” tandas Ruri.

Lalu, apa saja yang dibutuhkan untuk jadi pewarta mode yang ciamik?

Menurut Ruri, yang pertama adalah kualitas dasar jurnalistik mumpuni. Punya mata dan insting bercerita tajam, mampu menulis dengan baik, dan objektif.

Ia menambahkan, kemauan kuat saja tak cukup, perlu daya tahan mental yang tahan banting juga.

Sebagai tambahan, juga memiliki gaya dan kepribadian yang khas dan percaya diri. “Kalau mampu membeli barang-barang high-brand, harus bisa menghindar untuk tidak menjadi fashion victim,” ujarnya.

Beberapa hal penting lain yang perlu diperhatikan jika melakoni jurnalisme fashion adalah:

  • Riset, riset, riset! Khususnya kalau mau mewawancari desainer. Jangan lempar pertanyaan standar seperti, “Kenapa Anda suka fashion?”
  • Kini sudah banyak video koleksi terbaru dari berbagai acara atau pergelaran mode seperti Fashion Week untuk ditonton dan dipelajari; tonton lah!
  • Jangan malas membaca.
  • Pelajari istilah-istilah dalam dunia fashion, atau cara membaca label atau merek.

Lalu apa yang perlu dihindari? Menurut Ruri, “Jangan memakai barang palsu!”


Sumber foto utama: bgr.in

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry