Teknologi komunikasi menurut Deddy Mulyana (2008:174) punya peran penting mengalirkan informasi dari bawah (rakyat) ke atas (pemerintah); dan dari pemerintah daerah ke pemerintahan pusat, begitupun sebaliknya.

Platform media sosial kini memberikan jalur untuk arus informasi tersebut. Hal ini, juga menjadi dasar bagi Obama, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), hingga Jokowi mengelola dengan terencana dan baik proses komunikasi yang terjadi di dunia maya.

Salah satu platform media sosial, dari sekian banyak yang ada, dan cukup menonjol termasuk di Indonesia adalah Change.org. Layanan yang awalnya digagas Ben Rattray ini menjadi dinilai menjadi sebuah solusi berbagai permasalahan di seluruh dunia.

Jennifer Dulski, selaku Presiden dan COO Change.org dalam wawancara yang dikutip dari thechanger.org menjelaskan bahwa misi Change.org adalah untuk mendukung semua orang di manapun mereka berada, untuk membuat perubahan yang ingin mereka lihat.

Di Indonesia sendiri, Change.org ada sejak Juni 2012, dan hingga kini menurut data yang kami terima telah berhasil mengagas beragam perubahan yang berpengaruh dalam berbagai pembuatan kebijakan sosial di Indonesia.

Dengan jumlah anggota mencapai 900 ribu per Desember 2014, ada lima kategori terpopuler di Indonesia pada layanan itu, yaitu demokrasi, satwa, lingkungan, hak anak, dan media. Kategori-kategori inilah yang paling sering disuarakan dan dibuat petisinya oleh masyarakat.

Berdasarkan kategori paling laris itu, terlihat kalau saat ini masyarakat Indonesia memiliki perhatian lebih mengenai proses demokrasi yang terjadi di Indonesia. Menurut data dari Change.org juga, ada enam kemenangan seperti Save Aru, Save Wilfrida, Stop YKS, Tunda Pengesahan RUU KUHP/KUHAP, Blusukan Asap, dan Save Sophie.

Pada petisi Save Aru yang digagas penyanyi Glenn Fredly dan ditujukan untuk Presiden SBY agar membatalkan rencana pembabatan hutan di Aru misalnya, ada lebih dari 15 ribu dukungan suara, hingga akhirnya pemerintah pun membatalkan rencana itu.

Selain isu umum, petisi yang berawal dari permasalahan personal pun bisa disebarkan via Change.org ini; dipetisikan Ayu Oktariani, perempuan dengan HIV positif dan pengidap Hepatitis C; Ayu yang memang juga aktivis ODHA membuat petisi yang ditujukan untuk Menteri Kesehatan Nila Moeloek, agar Kementerian Kesehatan bernegosiasi dengan pemilik paten obat Hepatitis C Sofosbufir, dan pabrik obat generik India.

Tujuannya: agar pengidap Hepatitis C mendapatkan akses kesehatan memadai dan obat-obatan yang terjangkau.

Petisi itu pun mendapat lebih dari 3500 pendukung dan menghasilkan Permenkes No.53/2015 tentang penanggulangan virus dan mendorong obat Hepatitis C Sofosbuvir termasuk dalam tunjangan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

petisi change tentang hepatitis c

Petisi tentang lingkungan juga kerap muncul, seperti yang pernah dibuat oleh Rahyang Nusantara. Petisi tentang Diet Kantong Plastik ini ditujukan pada Presiden RI dan Gubernur DKI Jakarta. Lewat petisi tersebut, Rahyang berharap ada peraturan pemerintah tentang pengurangan penggunaan kantong plastik, sebagai pelaksanaan dari Peraturan Pemerintah No.81/2012 tentang Pengelolaan Sampah.

Dalam ilustrasi di petisi itu juga diterangkan data kalau ada sekitar 6000 ton sampah di ibukota setiap harinya; jumlah yang lebih dari setengah ukuran candi Borobudur.

Konten di media sosial menurut praktisi media digital Shafiq Pontoh dalam buku Brand Gardener (Hendroyono, 2012:186) menjabarkan ada 4 (empat) syarat untuk mengembangkan pendekatan komunikasi digital:

  1. Transparent: Semua orang bisa mengakses informasi, dan semuanya terdokumentasi secara digital; maka itu pendekatan komunikasi yang dilakukan melalui komunikasi digital mesti jujur dan menyebutkan sumber yang jelas, karena semua percakapan dapat terekam secara digital, dan nyaris tidak ada batasan untuk mengaksesnya.
  2. Authentic: Unik dan mengandung ide yang belum pernah dibuat sebelumnya. Ide mengenai diet kantong plastik misalnya, merupakan gagasan unik dan dapat diterapkan dengan mudah oleh semua orang.
  3. Genuine: Orisinal. Asli, dan tidak dibuat-buat; atau bukan sekadar untuk pencitraan. Percakapan melalui media sosial yang dapat didokumentasikan akan menjadi cermin apakah sebuah percakapan memang dilakukan atas dasar kepedulian atas suatu permasalahan.
  4. Sincere: Atau jujur. Kepedulian yang dinyatakan harus jujur, yang akhirnya menunjukkan komunikasi yang tulus, bukan karena ada maksud tertentu atau titipan pihak ketiga.

Dengan konten yang mengandung unsur Transparent, Authentic, Genuine, dan Sincere (TAGS) itu, komunikasi persuasif dapat dilakukan lewat media sosial bisa menimbulkan empati dan simpati publik. Tumbuhnya empati dan simpati itulah yang kemudian jadi landasan pembentukan opini publik.

Namun, kembali ke Change.org, tidak semua gerakan yang dipetisikan lewat Change.org mendapatkan penyelesaian yang seharusnya. Seperti yang dialami Karlina Octaviany, dengan atas nama organisasi di tempatnya bekerja, ia sempat mempetisikan masalah kasus korupsi PLTS di Timor Tengah Selatan. Petisi yang ia unggah meski kemudian membangun komunikasi dan advokasi, namun mendapatkan dukungan kecil.

Dalam sebuah wawancara ringkas, Karlina mengungkapkan, “Kasus korupsi memang berat. Apalagi di daerah terpencil. Berkali-kali kalah di pengadilan. Media di sana juga bungkam.” Hal ini menekankan kalau peran media massa mainstream pun tetap memegang peranan penting untuk penyebarluasan informasi dari petisi yang diunggah via Change.org.

Berita yang disebarkan oleh instansi media massa tetap mendapatkan perhatian dan bisa meyakinkan masyarakat tentang isu tertentu. Media massa konvensional, betapa pun dahsyatnya gelombang tren media sosial, masih jadi sumber informasi utama untuk masyarakat.

Pembuatan petisi online di Change.org memang bisa jadi salah satu cara untuk mengumpulkan orang yang memiliki kepedulian yang sama tentang suatu hal, untuk kemudian melakukan aksi nyata. Tapi amplifikasi dari media massa bisa membuat hasilnya jadi jauh berbeda.

Jika pun menang, hasil itu mesti tetap perlu dikawal secara offline. Misal, meski Kemenkes sudah mengeluarkan Permenkes No.53/2015 seperti diurai di atas, Ayu si penggagas petisi dan publik tetap perlu mengawal prosesnya agar obat Sofosbuvir benar dapat diakses dengan fasilitas JKN. Karena hasil petisi online seperti lewat Change.org hanya akan menjadi information bubble jika tidak didampingi kegiatan pendukung lainnya.

Terkait hal ini Karlina Octaviany salah satu pembuat petisi yang juga pernah berprofesi sebagai jurnalis menyatakan, “Kadang intervensi perubahan tidak bisa mengandalkan satu cara saja. Misal kasus kriminalisasi, selain petisi, tentu perlu dukungan pendampingan hukum,” tandasnya.

Kembali menurut Jennifer Dulski, Presiden dan COO Change.org, ada tiga hal berdasarkan pengamatannya terkait kampanye yang berhasil di layanan yang dikelolanya:

  • Pertama, petisi dibuat berdasarkan cerita yang memiliki nilai sentuhan personal, dengan tambahan foto atau video untuk menarik orang mempelajari petisi terkait lebih lanjut;
  • Kedua, petisi mesti ditujukan pada orang yang tepat untuk membuat kebijakan;
  • Ketiga, petisi memiliki bobot untuk menyebar secara viral. Hal ini biasanya terjadi jika petisi diliput oleh media massa yang membuat petisi memiliki daya sebar lebih besar ketimbang yang luput dari peliputan media massa mainstream.

Sumber foto: Republika.co.id

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry