Lewat situs ini, kita pernah bahas soal temuan Badan Litbang SDM Kementerian Kominfo tentang pemetaan profesi bidang komunikasi; dan salah satu kesimpulannya adalah: apapun bidang pekerjaannya, semua orang memerlukan kompetensi komunikasi.

Dalam ulasan itu juga disinggung kalau 6 dari 14 kompetensi dasar profesional menurut studi Carl E. Van Horn adalah skill komunikasi; seperti membaca, menulis, bicara, mendengar, kemampuan berinteraksi, dan beradaptasi dengan keberagaman.

Di era internet dan perkembangan teknologi yang kian pesat, kompetensi ini kian diperlukan; karena komunikasi umumnya adalah tentang konten dan media yang merupakan menu utama internet; seperti peran keduanya dalam studi dan praktik komunikasi.

Maka, penting untuk peminat dan penggiat komunikasi menguasai medan daring (online) ini. Kalau tidak, konon bisa memunculkan pengaruh negatif pada pertumbuhan produktivitas dan ekonomi.

Persoalannya kini, penguasaan teknologi dan internet masih ada isu terkait pemerataan.

Media publik asal Inggris, BBC pernah melaporkan, kalau lebih dari 12 juta orang dan sejuta bisnis kecil di UK (termasuk Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara) belum memiliki pengetahuan dan kemampuan mumpuni untuk mengoptimalkan penggunaan internet.

Sebabnya: Mulai dari terbatasnya akses pengetahuan, kemiskinan, sampai persoalan infrastruktur.

Akibatnya: Dilaporkan, UK potensial kehilangan setidaknya Rp3 triliun putaran uang; bahkan risiko gulung tikar para perusahaan yang tidak mampu beradaptasi dengan teknologi.

Padahal jumlah 12 juta orang itu hanya 20 persen dari total penduduk di UK.

pengguna internet di indonesia

Apa kabar dengan Indonesia yang diperkirakan memiliki sekitar 88 juta pengguna internet, atau belum sampai 50 persen total penduduknya?

Menurut laporan Pusat Kajian Komunikasi (Puskakom) Universitas Indonesia (2015) yang bekerja sama dengan APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia), itu pun masih terpusat di pulau Jawa, terutama DKI Jakarta; dan sebagian lain lagi di Sumatera.

Bahkan dari jumlah 88 juta itu, Kalimantan tercatat hanya ada 4,2 juta pengguna, lalu 5,9 juta di Papua, dan 7,3 juta di Sulawesi. Ini pun belum termasuk perkiraan, berapa yang benar-benar paham cara memanfaatkan teknologi dan internet dengan baik.

Kalau kembali merujuk pada laporan BBC, setidaknya perlu ada lima kemampuan dasar penggunaan internet yang baik:

  1. Kemampuan mengelola informasi.
  2. Kemampuan berkomunikasi.
  3. Kemampuan melakukan pembayaran.
  4. Kemampuan menghadapi atau menyelesaikan persoalan.
  5. Kemampuan membuat konten.

Deretan hal itu tentu tak mudah disebarkan secara merata. Bahkan, Amerika Serikat yang dikenal sudah melek internet pun disebut masih mengalami persoalan ini.

Layanan platform Grovo, lewat studinya menyebutkan: Hanya 1 dari 10 orang yang sudah bekerja di sektor digital yang mengaku benar-benar menguasai perangkat digital yang mereka gunakan sehari-hari untuk bekerja.

Laporan studi itu juga mengurai skill yang diperlukan untuk memaksimalkan internet dan teknologi daring, terkait pekerjaan dan kegiatan komunikasi.

kemampuan komunikasi digital

Skill itu, seperti diungkapkan dalam laporannya, merupakan kemampuan teknis yang penting diketahui profesional di bidang komunikasi; karena kebanyakan dianggap lekat dengan praktik kehumasan (public relations). Apa saja? Berikut daftarnya:

1. Komunikasi

Seperti tertuang dalam temuan Badan Litbang SDM Kementerian Kominfo tentang pemetaan profesi bidang komunikasi, teknis komunikasi merupakan skill yang diperlukan pelaku industri dari bidang apapun.

Memang, mungkin kebanyakan sudah bisa mengirim email, bertukar pesan lewat aplikasi seperti BBM atau WhatsApp; tapi ada hal-hal lain yang perlu juga diketahui dan dikuasai, seperti:

  • Menulis untuk media internet atau website;
  • Cara berkomunikasi secara visual;
  • Mendeteksi platform yang digunakan sasaran komunikasi;
  • Dan memahami pola komunikasi yang khas dari tiap platform yang digunakan sasaran.

2. Search dan research

Sudah umum diketahui saat ini, kalau mau tahu sesuatu kita bisa tinggal googling (mencari lewat mesin pencari Google).

Bahkan, menurut laporan biro humas Edelman Global Trust Barometer 2015, mesin pencari dianggap kebanyakan pengguna sebagai sumber; serta duduk sebagai media yang paling banyak digunakan dan dipercaya.

Maka itu, diperlukan kemampuan seperti:

  • Research kata kunci atau keywords;
  • Cara optimalisasi konten (teks dan visual) terkait penampilan di mesin pencari;
  • Memahami cara kerja algoritma mesin pencari, dan tetap update dengan perubahannya;
  • Memahami jenis konten yang disukai Google;
  • Cara memantau percakapan sosial di internet;
  • Cara menemukan insights yang bisa memicu respon atau reaksi yang diharapkan.

3. Kolaborasi

Membuat materi seperti rilis pers, foto, video, bahkan grafik mungkin sudah biasa jadi bagian dari kegiatan komunikasi. Untuk melakukannya kita perlu bekerja dengan desainer, penulis, dan klien.

Maka, kini penting untuk mengetahui cara mengoptimalkan perangkat digital untuk melakukan proses itu lebih cepat dan efisien; seperti cara menggunakan perangkat pengelolaan proyek secara kolaboratif, model Dropbox, Google Drive, dan lainnya.

4. Pengelolaan dokumen

Kini, dokumen digital merupakan tulang penyangga lingkungan kerja modern. Kita perlu memahami secara rinci cara penggunaannya, mampu membuat konten dalam berbagai format, dan cara mendistribusikannya.

Dokumen dalam hal ini termasuk: Word, Excel, Powerpoint, Keynote, PDF, foto, dan video.

5. Etika digital

Atau lazim juga disebut sebagai tata cara berkomunikasi daring (online). Pemahaman tentang hal ini dianggap penting untuk meningkatkan kualitas interaksi dan relasi dengan sasaran komunikasi yang dituju.

Kemampuan yang diperlukan:

  • Mendengarkan;
  • Mengetahui saat yang tepat melakukan interaksi atau engagement;
  • Keahlian bersosialisasi;
  • Perilaku yang baik dan bisa diterima sasaran komunikasi;
  • Pemahaman terhadap beragam komunitas di berbagai platform atau jejaring.

6. Membuat konten

Kemampuan membuat konten memikat jadi salah satu skill utama yang perlu dimiliki, terutama oleh praktisi komunikasi. Bukan lagi sekadar menulis, tapi juga:

  • Fotografi;
  • Konten visual (tata letak, grafik, dan lainnya);
  • Video;
  • Audio;
  • Editing;
  • Dasar pemrograman komputer (coding);
  • Penguasaan software untuk blogging;
  • Penggunaan aplikasi; dan berbagai teknis produksi konten lainnya.

7. Pengelolaan informasi

Maksudnya adalah kemampuan menjaring, menganalisa, dan mengelola informasi; terkait teknologi dan pemanfaatan internet, beberapa skill yang diperlukan adalah:

  • Memantau distribusi konten. Tak hanya memantau, tapi bisa menarik data terkait distribusi dan sebaran;
  • Menguasai penggunaan layanan analitik, seperti Google Analytics;
  • Memahami istilah dan perhitungan akses serta interaksi terhadap konten, termasuk mengidentifikasi impresi, klik, dan kualitas interaksi;
  • Menentukan tujuan dan menerjemahkannya ke dalam sasaran konversi yang bisa dipantau rasio efektivitasnya;
  • Menarik dan menggali insights dari data.

8. Mengelola perhatian

Salah satu tantangan teknologi dan perkembangan media internet adalah mengatasi perhatian yang makin terpecah-pecah.

Bayangkan saja, kita dan juga sasaran komunikasi diserang oleh informasi dari berbagai penjuru, mulai dari ponsel, aplikasi di dalamnya, media sosial, juga televisi. Semua berupaya menarik perhatian kita.

Mampu mengelola waktu dan perhatian kita untuk hal yang benar-benar penting jadi perlu. Meremehkan urusan ini bisa bikin produktivitas merosot, bahkan akhirnya tidak bisa mengoptimalkannya secara fokus.


Sumber foto: The New York Times, gbgindonesia.com, Mashable, Slate

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry