Pagi ini, baru baca artikel di Forbes.com yang sebetulnya sudah muncul dari Desember 2015 lalu. Judulnya: 7 PR Trends You Need To Know In 2016. Penulisnya, John Hall, CEO firma content marketing Influence & Co.

Pada bagian pengantarnya ia menyebutkan, di tengah perkembangan komunikasi dan kebutuhan serta preferensi publik yang juga berubah dalam hal konsumsi media, praktik kehumasan juga perlu disesuaikan.

Hall menyatakan juga, saat ini para penerbit atau perusahaan media mulai mengubah cara mereka mendapatkan pemasukan, saluran komunikasi baru pun terus tumbuh dan makin banyak digunakan, dan pemimpin perusahaan makin banyak yang muncul dan lantang berbagi pengetahuan tentang industrinya.

Sederet hal itu yang menurut Hall jadi landasan 7 (tujuh) tren kehumasan yang perlu diketahui tahun ini. Daftar ini memang belum tentu cocok dengan kondisi di Indonesia, tapi layak diketahui untuk mengantisipasi keadaan pasar yang dinamis.

Berikut adaptasi poin-poin yang diurai Hall di Forbes.com:

kehumasan content marketing

1. Rilis pers tradisional sudah usang

Diterangkan kalau rilis atau siaran pers tradisional sudah tidak efektif, dan kegiatan komunikasi perusahaan perlu inovasi lain terkait hal ini. Kalau tidak maka komunikasi yang dilakukan akan sia-sia, dan masuk keranjang sampah.

Ketimbang mengirim siaran pers ke berbagai perusahaan media atau wartawan (dan kemungkinan besar masuk keranjang sampah), Hall menawarkan pilihan untuk mengoptimalkan media sosial.

Bukan sekadar untuk nge-tweet atau menyebarkan pesan promosi, tapi membangun hubungan dengan para pelaku lain di industri terkait, penggiat media sosial yang memiliki pengaruh terhadap opini publik, dan tentunya wartawan yang juga makin mengandalkan media sosial sebagai salah satu saluran untuk menangkap atau melengkapi informasi.

Jika kegiatan komunikasi model baru ini dilakukan dengan tepat, maka besar kemungkinan juga menarik perhatian para jurnalis jika ingin mengangkat kabar tentang industri yang perusahaan kita geluti.

2. Menampilkan kepemimpinan

Senada dengan poin pertama, namun khusus poin ini menekankan pada konsep yang dikenal dengan sebutan Thought Leadership, taktik kehumasan yang menempatkan pemimpin bisnis atau perusahaan sebagai pemimpin di lingkungan terkait bidang atau area industri yang digelutinya.

Dalam konsep ini, pemimpin perusahaan bukan hanya menggunakan berbagai saluran untuk berinteraksi dan membangun relasi, tapi juga menunjukkan kepemimpinan dengan cara memberikan konten bernilai dan mendidik; hingga dipandang publik sebagai figur penting dalam industri terkait.

Misal, seorang direktur bank rutin berbagi cerita keseharian tentang apa yang ia pelajari dari kegiatan manajemen, menghadapi nasabah, atau bahkan cara mengatur keuangan pribadi, dengan gaya bercerita yang ringan dan enak diikuti siapapun.

3. Amplifikasi konten

Masih tentang konten. Pada poin ketiga ini Hall menegaskan tentang pentingnya memerhatikan kualitas konten dalam praktik kehumasan, bahkan pemasaran.

Kualitas konten yang ia maksud bukan soal konten promosi yang dikemas makin cantik saja, tapi mengubah prinsip konten secara keseluruhan, dari pesan pemasaran atau kehumasan menjadi pesan yang bermanfaat untuk audience-nya.

Konten yang orisinal dan berorientasi pada kebutuhan sasaran, menurut Hall, berpotensi tersebar lebih luas. Maka itu para praktisi humas dan pemasar dianjurkan lebih serius memperkuat kualitas konten.

Contohnya kira-kira begini: Ada toko buku ingin membagikan konten tentang beberapa koleksi terbarunya; konten seperti “10 Novel terbaik yang perlu dibaca penyuka science fiction” (yang 2-3 buku di antaranya adalah koleksi terbaru tadi) berpeluang lebih banyak disebar ketimbang sekadar “Dapatkan segera koleksi terbaru di toko buku kami, sekarang!

4. Mencegah gelembung opini negatif

Kini semua orang bisa berbagi pengalaman buruk yang ia alami terkait produk atau perusahaan tertentu. Jika terus dibiarkan, bisa-bisa opini atau percakapan negatif itu bisa terus meluas.

Maka itu Hall menyarankan agar praktisi atau perusahaan kehumasan mengantisipasi tren ini dengan melakukan pelatihan khusus tentang penanganan sebaran pendapat negatif tentang produk atau perusahaan terkait.

Disebutkan juga, mengabaikan hal itu bisa jadi bencana, Hall pun mengutip judul buku konsultan pemasaran Jay Baer, “Hug your haters!

kehumasan content marketing

5. Pengelolaan reputasi online makin penting

Katakanlah seorang jurnalis ingin mengangkat kisah atau topik yang bersentuhan dengan perusahaan atau brand tertentu, maka ia akan mencari informasi dulu lewat internet. Cara paling mudah misalnya, Googling.

Maka itu reputasi online jadi penting, praktisi humas mesti menjaga konsistensi dan kualitas konten online terkait brand atau perusahaannya di dunia maya. Kalau sulit ditemukan, mungkin si jurnalis jadi malas meneruskan niatnya. Lebih buruk lagi, kalau yang ditemukan lebih banyak negatifnya.

6. Influencer yang relevan lebih penting ketimbang sekadar memiliki banyak pengikut

Sejak beberapa tahun kemarin, pengelola brand dan perusahaan banyak menggelontorkan dana pemasaran untuk menggaet influencer atau figur berpengaruh di internet atau media sosial untuk menyuarakan pesan pemasarannya.

Salah satu ukuran untuk memilih influencer yang lazim digunakan adalah jumlah pengikut (followers). Kini hal itu mulai usang juga. Karena makin terang juga terlihat, kalau jumlah pengikut banyak tak berbanding lurus dengan pengaruh nyata yang dihasilkan; apalagi kini jumlah pengikut mudah dimanipulasi.

Influencer yang relevan dengan pesan kampanye pemasaran jadi lebih penting. Relevan maksudnya bukan sekadar populer, tapi memang dihargai oleh pengikutnya (yang mungkin tak seberapa) jika bicara tentang topik tertentu. Bahkan lebih baik lagi kalau si influencer memang menyukai dan senang terlibat dengan brand atau perusahaan terkait.

Jadi, Hall menganjurkan untuk menentukan secara rinci profil sasaran kampanye komunikasi, dan pilih influencer yang tepat dengan cermat.

7. Tumbuhnya penggunaan iklan di media sosial

Diterangkan Hall, menurut studi Content Marketing Institute, lebih dari 50 persen praktisi pemasaran B2B (business-to-business) menggunakan iklan di media sosial untuk mendorong promosi konten, dan merasakan manfaatnya.

Hal itu ia sebutkan akan meneguhkan penggunaan iklan di media sosial sebagai salah satu pilihan untuk memperkuat distribusi konten di internet.

Tantangannya, para praktisi komunikasi atau kehumasan mesti makin kreatif menemukan formula dan mendesain program konten menarik yang sesuai dengan platform periklanan ini.


Sumber foto: doz.com, seopressor.com, vcz.hr.

 

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry