Menulis. Ada banyak kesimpulan tentang teknik menulis atau hal-hal yang membuat tulisan bisa dibilang memiliki kualitas mumpuni.

Salah satu yang layak disimak adalah rangkuman editor dan praktisi content marketing Ann Handley, tentang hal-hal yang mesti terkadung dalam tulisan yang berkualitas.

Ia mengurai daftar kualitas itu berdasarkan pengalamannya selama 25 tahun sebagai profesional di bidang penulisan dan editing. Daftar ini pula yang jadi kerangka penulisan bukunya Everybody Writes.

Catatan Ann bisa berguna untuk (setidaknya) dua hal: Pertama, membantu kita menilai tulisan yang kita baca; dan kedua, sebagai alat uji karya tulis yang kita buat.

yellowcabin-ide-blog

 

Berikut daftarnya:

1. Mengantisipasi pertanyaan pembaca

Tulisan yang baik itu melayani kebutuhan pembaca, bukan penulis.

Pada saat pengerjaan, penulis yang menyadari itu biasanya bersikap skeptis pada materi yang sedang ia olah. Penulis model ini akan terus tanpa lelah menempatkan dirinya sebagai pembaca, dan mempertanyakan berbagai hal terkait garapannya.

2. Padat data

Data membuat konten yang ditulis jadi kaya konteks, sekaligus meningkatkan kredibiltas si penulis.

Memadati karya tulis dengan fakta, entah itu hasil studi, kurasi, wawancara, uji data, nyaris pasti membuat tulisan bertema remeh sekalipun jadi penting.

Ide atau opini penulis bisa saja mewarnai sebuah tulisan, tapi mengaitkannya dengan data atau fakta yang teruji membuat warna itu makin tegas dan menarik.

3. Mendidik

Kualitas bacaan jadi makin tinggi jika bisa menjelaskan sesuatu yang mencerahkan pembacanya; isinya bikin kita jadi makin jernih melihat atau memahami sesuatu, sekalipun hanya sekadar ulasan produk.

4. Melengkapinya dengan sudut pandang lain

Tulisan dari satu perspektif oke saja, tapi melengkapinya dengan pandangan berbeda bisa membuatnya lebih berkesan.

Poin ini penting juga jadi catatan untuk praktisi komunikasi di perusahaan terkait penulisan rilis pers, yang kebanyakan tidak enak dibaca karena miskin sudut pandang.

5. Diulas lagi sebelum benar-benar tuntas

Tulisan yang pertama kali dihasilkan biasanya masih mentah. Untuk membuatnya jadi lebih baik, mengalir, dan enak diikuti, perlu didiamkan dulu untuk kemudian diulas kembali (rewriting).

Ya, menulis itu bukan perkara gampang, seringkali sangat melelahkan. Orang yang tidak mengalaminya berulang-ulang tentu sulit memahami hal ini.

6. Dibuat dengan cermat dan penuh perhitungan

Menulis itu seperti matematika. Setidaknya ada dua hal yang menegaskan kesimpulan itu.

Pertama: memiliki keteraturan logika dan struktur. Tulisan yang enak dibaca biasanya dibikin dengan cermat, teliti, dan hati-hati.

Kedua: bukan mutlak karya seni, ia adalah cabang ilmu yang bisa dipelajari, seperti trigonometri atau aljabar.

Dan seperti matematika, profesor jurnalistik Matt Waite lewat esai berjudul How I Faced My Fears and Learned To Be Good at Math mengatakan,

“Perbedaan antara jago matematika dengan tidak bisa matematika adalah kerja keras. Yang perlu dilakukan adalah mencoba, mencoba lagi, mencoba lebih keras, terus menerus, lebih dari yang biasa kita lakukan.”

Begitu pula menulis.

7. Simpel, tapi tidak menggampangkan

Hidup itu rumit, ya seperti bisnis pun sama saja; tapi tulisan, jangan sampai juga begitu. Karena karya tulis yang bagus itu justru bisa menyederhanakan hal yang sangat kompleks.

Ia mesti mudah dipahami pembacanya; tapi bukan berarti merunduk terlalu rendah. Pernah ada pernyataan yang berbunyi, “Anggap pembaca tidak tahu apa-apa, tapi jangan pikir mereka bodoh.”

Hindari jargon, istilah yang rumit, dan cari padanan kata yang lebih umum jika bertemu kata yang dirasakan sulit untuk dipahami semua orang.

Like
Like Love Haha Wow Sad Angry